Berkah Tuhan, Ribuan Hewan Ternak Disembelih

Ribuan Hewan Ternak Disembelih
NGALU UJAN: Menyembelih ayam adalah salah satu bagian dari rangkaian ritual ngalu ujan di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgesela, Minggu (3/11).(JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

Melihat Ritual Ngalu Ujan di Desa Pengadangan

Lombok Timur merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di NTB. Lotim juga memiliki budaya dan tradisi yang banyak hidup di tengah-tengah masyarakat. Di antaranya adalah tradisi ngalu ujan atau menyambut hujan di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela yang digelar Minggu (3/11).

NGALU ujan adalah satu tradisi di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgesela. Ngalu ujan artinya menyambut hujan. Ngalu ujan ini digelar setiap tahun secara rutin. Di mana ngalu ujan ini dilakukan pada saat musim kemarau yang panjang seperti sekarang ini.

Menurut penjelasan Kades Pengadangan, Iskandar, sebelum dilakukan tentunya berbagai kegiatan dilakukan. Salah satunya dengan menggelar memasar. Memasar ini merupakan salah satu ritual untuk meminta izin menyelenggarakan ngalu ujan ke para penghuni hutan. ”Kita minta izin di sana, dengan harapan pada saat acara kegiatan tidak ada makhluk – mahluk gaib yang mengganggu masyarakat,” ungkapnya kemarin.

Dalam menggelar memasar, warga membawa daun sirih, kapur sirih, gambir, dan pinang yang diberi nama Sembek Burak. Setelah itu, sembek burak ini akan dibawa ke hutan di mana lokasi ngalu ujan akan digelar. ”Setelah itu, nantinya semua masyarakat akan secara bersamaan menuju acara,” katanya.

Bentuk ritual yang akan dilakukan katanya, masyarakat pengadang yang mayoritas petani ini akan berdoa di hutan tempat diselenggarakan upacara. Masing-masing datang membawa ayam dan ternak yang lain. Membawa ternak seperti ayam ini dilakukan oleh semua masyarakat sekitar yang hadir. Acara ini diberi nama betokolan. “Di acara betokolan ini harus  melaksanakan korban ayam dan masyarakat yang hadir di sana harus membawa ayam. Kalau lima ribu masyarakat yang datang, maka kita akan potong sebanyak lima ribu ekor juga,” ujarnya.

Dalam pemotongan ayam pun, katanya, tidak dilakukan oleh pemilik, tetapi dilakukan oleh tokoh yang dipercaya. Setelah ayam dipotong kemudian ayam itu dilemparkan ke sungai. “Setelah ayam mati di sungai, baru ayam itu akan diambil oleh pemiliknya,” jelasnya.

Dalam ritual ngalu ujan ini, katanya lagi, bukan hanya dilakukan dengan cara betokolan dan memasar saja. Tetapi tentunya semua masyarakat nantinya memanjatkan doa minta hujan. Tradisi ini ada sejak desa ini berdiri. “Jadi ngalu ujan ini kita lakukan semata-mata memohon kepada Allah agar segera diberikan hujan, karena kita disini sudah alami kekeringan,” kata Iskandar. (**)