Berjaya di Malaysia, Zohri Menatap Qatar

ZOHRI
EMAS : Sprinter asal NTB, Lalu Muhammad Zohri (tengah) meraih medali emas di ajang 1st Malaysia Open Grand Prix 2018 di Bukit Jalil Kuala Lumpur Malayasia, Sabtu (30/3). (Ist/Radar Lombok)

MATARAM – Sprinter kebanggan Indonesia asal KLU, Lalu Muhammad Zohri, kian moncer di tingkat dunia. Ia berjaya di ajang 1st Malaysia Open Grand Prix 2018 di Bukit Jalil Kuala Lumpur Malayasia, Sabtu (30/3). Turun di nomor lari 100 meter, pelari ini berhasil merebut medali emas.  Zohri turun di lintasan enam pada perlombaan tersebut. Dia melesat hingga berhasil menjadi yang pertama melintasi garis finish.

Tidak hanya Zohri saja, atlet kebanggaan Indonesia asal Bima spesialis lompat jauh, Sapwaturrahman, juga menyumbang emas. “Alhamdulillah dua atlet kita berhasil mencatatkan waktu terbaiknya. Zohri di nomor 100 meter berhasil amankan emas lewat catatan waktu 10,20 detik. Sementara Sapwaturrahman berhasil di lompat jauh dengan catatan waktu 7,97,” jelas pelatih Pelatnas, Eni Suriani Sabtu, saat dihubungi koran ini kemarin.

BACA JUGA: Mengenal Yan Bahtiar, Pelari Senior Yang Pindah Haluan ke Triathlon

Zohri membuka kran medali bagi kontingen Indonesia. Zohri mengalahkan atlet dari Malaysia, Zulfiqar Ismail, yang mencatat 10,41 detik. Sementara, Sapwaturrahman juga sukses mendapat medali emas untuk nomor lompat jauh. Sapwaturrahman berhasil melakukan lompatan sejauh 7,97m, mengalahkan pelompat tuan rumah Malaysia yang hanya mencatat lompatan sejauh 7.72m.

Hasil ini lanjutnya, sesuai dengan prediksi sebelumnya. Dua atlet NTB ini memang sangat diharapkan membawa nama baik Indonesia di semua event.

Meski demikian, Eni menegaskan bahwa hasil ini bukanlah hasil akhir dari perjuangan kedua atlet tersebut. Masih ada sejumlah kejuaraan yang harus mereka lalui. Karena limit menuju Olimpiade masih perlu dilakukannya. Sehingga proses latihan harus tetap dilakukan. “ Kita tetap bangga dengan hasil Zohri dan Sapwa. Tapi perjuangan belum selesai, karena masih banyak kejuaraan yang harus ditempuh oleh keduanya,” lanjut Eni.

Jika dilihat dari hasil catatan waktu mereka, untuk Zohri sendiri diakuinya hampir sempurna. Namun catatan waktu atau kecepatan larinya masih perlu ditingkatkan. Karena selisih waktu saat di Finlandia dengan 10,18 dengan saat ini masih tertinggal 2 detik. Hal ini yang menurutnya masih jadi bahan evaluasi. Adapun untuk Sapwaturrahman, diakui peningkatannya cukup signifikan. Namun posisi keduanya tetap akan dievaluasi. Total peserta yang ikut di kejuaraan ini masih belum lengkap. Malaysia misalnya, arlet kebanggaan Malaysia belum diturunkan. Ini yang harus menjadi bahan evaluasi. “ Ternyata ada atlet kebanggaan Malaysia yang belum diturunkan. Bisa jadi mereka bertemu di Qatar, kejuaraan selanjutnya,” jelasnya.

Raihan medali emas kedua atlet ini menjadi modal bagus untuk kontingen Indonesia sebelum tampil di ajang SEA Games Filipina, 30 November – 11 Desember mendatang. “ Bahkan bisa juga jadi modal menuju Olimpiade 2020 mendatang,” tambahnya.

Sementara itu Lalu Muhammad Zohri meski tampil sebagai yang tercepat, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena belum bisa mendekati catatan waktu terbaiknya 10,18 detik seperti di kejuaraan atletik dunia U-20 di Finlandia. “Catatan waktu ini memang masih jauh dari catatan waktu terbaik saya. Namun saya akan tetap berusaha memperbaikinya,” katanya.

Tanpa keikutsertaan Khairul Hafiz Jantan, peraih medali emas Sea Games 2017 yang sekaligus menjadi sprinter andalan tuan rumah di nomor 100 meter putra, Zohri menilai turnamen Grand Prix Malaysia Open 2019 tetap menantang. Bahkan diakuinya, semua lawan rata-rata hebat. Baik dari tuan rumah sendiri maupun dari negara lain. “Di ajang ini, saya tidak dibebankan target khusus oleh PB PASI. Tapi bukan berarti saya tidak berusaha,” tutupnya.(rie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut