Berharap Kangkung “Aini” dan “Gomong” Jaya Lagi

HYDROPONIK : Petugas di RHH sedang panen kangkung varietas “Aini” dan “Gomong” kemarin.

Sejak dulu Lombok dikenal dengan pulau “kangkung”. Di Mataram, ada varietas kangkung yang dikenal dengan nama “Aini” dan “ Gomong”. Lewat Rumah Hijau Hydrofarm (RHH), kangkung varietas ini dikembangkan.

 

 


ZULFAHMI-MATARAM


 

Kangkung asal Kota Mataram sudah lama diakui kualitasnya. Yang paling terkenal adalah Kangkung “Aini” dan Kangkung “Gomong”. Penamaan ini mendapat SK dari Kementerian Pertanian pada tahun 2002. Oleh Kementerian Pertanian, kangkung ini menjadi varietas unggulan melalui SK Mentan Nomor :258/KPT/Tp.240/4/2002 dan SK Nomor : 269/Kpt/Rp.240/4/2002 tanggal 12 April 2012.

Pengelola Rumah Hijau Hydrofarm (RHH) Mataram, Khaerul Anwar, mengatakan, keinginan untuk menyelamatkan Kangkung “Aini” dan “Gomong” inilah yang mendasari berdirinya RHH di bawah binaan Dinas Pertanian Kota Mataram ini. “Kita ingin Kangkung “Aini” dan “Gomong” tetap menjadi varietas unggul,” terangnya kepada Radar Lombok saat ditemui di RHH yang saat ini masih diuji cobakan di Lombok Barat kemarin.

[postingan number=3 tag=”features”]

Ia menjelaskan, “Aini” maupun “Gomong” memiliki kualitas yang berbeda dengan kangkung-kangkung varietas lainnya. Jika kangkung ini tidak diselamatkan, dikhawatirkan kedepan kangkung ini akan diklaim oleh daerah lain dengan diberikan nama yang berbeda. Akan sangat mudah bagi daerah lain untuk mengembangkan kangkung asli Mataram ini. Akibat berkurangnya lahan tanam, jumlah penanam kangkung ini berkurang. Akibatnya, kebutuhan kangkung di Mataram dipasok oleh daerah lain seperti Lombok Barat.

Dulu Mataram memiliki lahan unggulan untuk pengembangan komoditas kangkung. Lokasinya di Pesongoran. Tetapi kini lahan setempat telah berubah menjadi lahan bisnis.” Cara untuk menyelamatkan kangkung ini dengan merubah cara budidayanya,” ungkapnya.

Dengan pola penanaman hydroponik, diharapkan “Aini dan “Gomong” jaya lagi. Dengan pola ini masa panennya lebih cepat dan lahan yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Maksimal 40 hari sudah bisa dipanen.

Pengelola tanaman di RHH, Sudiarto, menjelaskan, salah satu bentuk perbedaan mendasar dari Kangkung “Aini” dan “Gomong” adalah bentuk daunnya. Daun “Aini” lebih kecil tetapi panjang, sedangkan “Gomong” daunnya lebih lebar dan pendek.(*)