Bergabung ISIS, Warga NTB Meninggal di Suriah

H Mohammad Rum
H Mohammad Rum.(AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah pusat sudah memutuskan tidak akan memulangkan 689 orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah bergabung dengan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Suriah. Keputusan tersebut disambut positif oleh Pemerintah Provinsi NTB. 

Namun, ada kabar duka. Salah seorang warga NTB yang telah bergabung dengan ISIS, diinformasikan meninggal dunia. Warga NTB tersebut meninggal dunia di Suriah. “Informasi yang kita dapatkan saat ini, ada warga kita yang meninggal di Suriah. Dia bergabung dengan ISIS,” ungkap Kepala Bangkesbangpoldagri Provinsi NTB, H Mohammad Rum kepada Radar Lombok, Senin malam (17/2).

Awalnya, Rum berpikir tidak ada warga NTB yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.  Mengingat, sejauh ini tidak ada informasi valid tentang hal itu. “Tapi informasi dari BINDA (Badan Intelijen Negara Daerah, red), ada warga kita,” ucap Rum. 

Saat ini, Rum sedang menelusuri seluruh identitas lengkap dan kronologis warga NTB yang meninggal tersebut. Terutama identitas dan kronologis kematiannya. Hal yang bisa dipastikan sejauh ini, warga NTB tersebut merupakan salah satu Laskar Mujahidin. “Lagi ditelusuri kapan meninggal. Dia dari Laskar Mujahidin. Datanya sedang dicarikan,” imbuh Rum. 

Rum sendiri mengakui beberapa organisasi yang ada di NTB menjadi perhatian pihaknya saat ini. “Kalau organisasi seperti JAT atau JAD, tetap kita pantau. Dalam pengamatan kita kok. Mereka tidak eksis, mereka sembunyi-sembunyi,” kata Rum. 

Jaringan Ansharut Tauhid (JAT) maupun Jaringan Ansharut Daulah (JAD), telah ditetapkan sebagai organisasi terlarang di Indonesia. Organisasi tersebut disebut banyak melakukan aksi terorisme. Mereka sebagian berada di wilayah Bima. Hal itu pula yang menjadikan Bima, sebagai daerah yang terus diperhatikan dan dipantau. “Kita jujur di wilayah Bima masih jadi perhatian. Ada sebagian disana. Sejauh ini sih kita masih terus mengamati,” ungkapnya. 

Ditegaskan, pihaknya bersama aparat terkait, tidak akan melakukan tindakan lebih jauh apabila kelompok tersebut tidak berniat buruk. “Sepanjang mereka tidak berikan ancaman ketenteraman, keamanan dan ketertiban masyarakat, saya pikir kita tidak akan lakukan tindakan lebih jauh,” ujarnya. 

Rum menyadari, tidak mudah mengembalikan kepercayaan orang yang telah salah jalan. Hal itu pula yang membuat dirinya mendukung kebijakan pemerintah pusat yang tidak memulangkan ratusan WNI yang telah bergabung dengan ISIS. Apabila ada warga NTB yang masih berada di Suriah, Rum bersyukur tidak dipulangkan. “Seseorang yang pernah salah jalan, siapa jamin ketika sampai di daerah kita tidak akan membuat keonaran baru. Kan lebih aman tidak usah dikembalikan, tidak usah ambil rIsiko,” katanya. 

JAD dan JAT yang ada di NTB, lokasi tepatnya berada di kota Bima, kabupaten Bima, Dompu, Sumbawa Barat dan Lombok Timur. Selain JAD dan JAT, kelompok radikal lainnya yang berkembang di NTB seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Ada pula Jamaah Ansharus Syari’ah (JAS), Tauhid Wal Jihad (TWJ), Khilafatul Muslimin (KM), Jemaah Islamiyah, Eksnapiter dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan. Organisasi KM sendiri hingga saat ini terus melakukan kegiatan di Pulau Sumbawa, terutama di Dompu.(zwr)