Berdayakan Penenun, Sosialisasi ke Sekolah

Tradisi menenun khususnya kain songket di kalangan masyarakat di pulau Lombok telah berlangsung turun temurun.  Kini, tradisi tersebut terancam ditinggalkan anak muda terutama gadis remaja. Berbagai upaya dilakukan banyak pihak agar tradisi tersebut bisa dipertahankan. Tak terkecuali dilakukan LSM  Panca Karsa dengan Aspuk (Asosiasi Pendampingan Usaha Kecil).

———————–

AHMAD YANI — MATARAM

————————

Aktivitas menenun  kain songket mayoritas dilakoni perempuan. Selain menenun sudah turun temurun, menenun sudah menjadi mata pencaharian. Kini, di beberapa desa di Lombok menenun sudah menjadi industri rumahan. Alhasil, banyak keluarga yang menggantungkan hidup pada aktivitas tersebut.

Kini, para penenun dilakoni mayoritas perempuan berusia lanjut. Tidak banyak gadis remaja yang mau menenun. Kalaupun ada,  jumlahnya tidak banyak, bisa dihitung dengan jari. Aktivitas menenun bagi anak muda dianggap tidak terlalu menarik serta belum   menjanjikan. Karena itu, LSM Panca Karsa dengan Aspuk terus mendorong anak muda untuk  tertarik dan menekuni aktivitas menenun kain songket.

Anak muda perlu menekuni aktivitas menenun kain songket, sehingga ada keberlanjutan tradisi menenun  yang sekarang banyak didominasi orang tua."  Ini tradisi harus dilestarikan dan dipertahankan, tidak semata – mata pertimbangan ekonomi saja," kata Zuhratun aktivis Aspuk belum lama ini.

Aspuk sudah beberapa tahun terakhir melakukan pendampingan terhadap berbagai aktivitas kelompok penenun kain songket. Misalnya, pendampingan kelompok penenun Tenar di Desa Batu Jai, Lombok Tengah. Menurutnya, pendampingan itu sebagai bentuk pemberdayaan bagi  ekonomi kreatif yang dikelola kelompok perempuan sebagai  penenun kain songket.

Dengan terangkatnya  ekonomi penenun kain songket, diharapkan bisa menjadi motivasi dan spirit bagi remaja putri untuk bisa belajar dan mempertahankan tradisi menenun kain songket.Karena aktivitas menenun kain songket bisa menjawab kebutuhan ekonomi dari yang bersangkutan. Orang tua pun diharus sejak dini memperkenalkan dan melatih anak perempuan untuk bisa menenun.

" Kita terus berusaha agar anak muda bisa mencintai aktivitas menenun ini," ujarnya.

Selain dengan pemberdayaan secara ekonomi, Aspuk juga akan membentuk balai tenun. Dengan ada balai tenun itu sebagai tempat anak – anak atau remaja baik di Desa Batu Jai dan atau berasal dari luar desa tersebut untuk bisa belajar dan menimba ilmu penenun. Menurutnya, pihaknya ingin lebih banyak kepada generasi kedepan, terutama anak – anak untuk bisa mencintai dan melestarikan  budaya menenun yang mungkin sudah banyak ditinggalkan atau  tidak diminati anak muda. Bahkan, pihaknya pun sudah bekerja sama dengan sejumlah sekolah di Lombok Tengah bisa memberikan sosialiasi terkait dibentuk balai tenun itu. Serta mendorong dan mengajak anak muda agar bisa memanfaatkan balai tenun dan belajar menenun.

BACA JUGA :  3002 Penenun Dibantu Modal Usaha

Dengan aktivitas menenun itu pun diharapkan bisa menumbukan semangat jiwa entrepeneruship (kewiraushaan) dikalangan anak muda. Tak sampai disitu, Aspuk pun banyak memberikan pelatihan kepada  kelompok penenun kain songket. Misalnya, teknik mewarnai dari bahan alam dan lainnya, teknik  pemasaran, teknik produksi hingga kepada standar operasional produksi (SOP).

Diharapkan, dengan pendampingan tersebut bisa meningkat taraf hidup, kesejahteraan dan mengangkat harkat martabat kelompok penenun mayoritas dari kalangan perempuan. " Aktivitas pendampingan ini banyak disupport dari CSR  May Bank Malaysia," tandasnya seraya menambahkan, Aspuk berusaha menfasilitasi jaringan pemasaran kepada para penenun kain songket tersebut.

Anita Rahayu  menjadi salah satu penenun kain songket dampingan dari Aspuk. Pelajar SMA 1 Praya itu mengatakan, pameran tenun kain songket hasil karya banyak difasilitasi dari Aspuk.

Selain bisa berkreasi dan berkarya dengan aktivitas menenun yang dilakoni tersebut, Anita – pun panggilan akrabnya bisa meraih pundi – pundi rupiah.  Dari satu kain songket rata – rata Anita bisa memperoleh penghasilan berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Tergantung dari kain songket tersebut.

Harga kain songket cukup bervariasi mulai dari harga Rp 400 ribu hingga Rp 1 juta. Harga kain songket sangat tergantung dari tingkat kesulitan dan kerumitan, serta motifnya.Beragam motif yakni cangkir, bima, salsa, bunga kabut dan lainnya.

Adapun pembuatan satu kain tenun  biasanya rata – rata 15 hari bahkan satu bulan.  Aktivitas menenun kain songket tersebut lebih banyak dilakoni diluar kegiatan sekolah.

Sehingga aktivitas sekolah tidak terganggu. " Tetap kita upayakan pendidikan harus prioritas bagi penenun anak gadis ini," pungkas Zuhratun (*)