Berburu Ombak Kidal Belasan Meter di Desert Point Bangko-Bangko

Peselancar menikmati ombak kidal Desert Point Bangko-Bangko, Lombok Barat. (IST MUHSIN/RADAR LOMBOK)

KISAH WARGA PEMALIKAN TAK DIAKUI NEGARA, SUKSES BANGUN PARIWISATA (Bagian 3) 

Berburu Ombak Kidal Belasan Meter di Desert Point Bangko-Bangko

Ombak kidal ekstrem di Desert Point Bangko-Bangko menjadi magnet utama para peselancar, baik nusantara maupun mancanegara. Tak peduli jalan rusak, menembus bukit dan gunung, lokasi wisata yang masuk Taman Wisata Alam (TWA) Bangko-Bangko itu selalu ramai dengan peselancar. Di samping ada juga wisata sejarah meriam Jepang di dekatnya.

ZULKIFLI-RADAR LOMBOK

Memasuki kawasan Desert Point Bangko-Bangko di ujung barat Pulau Lombok itu, kita akan disuguhkan dengan rumah-rumah sederhana yang sebetulnya adalah penginapan atau hotel yang dikelola ilegal oleh warga Pemalikan Kablet. Mereka tak diakui negara, karena bertempat tinggal dan berusaha di Desert Point yang masuk kawasan hutan atau TWA Bangko-Bangko itu.

Lalu sedikit melangkah menuju pantai, akan melihat laut lepas Selat Lombok, di antara Bali dan Lombok. Waktu tempuh dari Desert Point Bangko-Bangko menuju Nusa Penida, Bali hanya sekitar 15 sampai 20 menit menggunakan perahu nelayan bermesin. Sehingga sangat sering wisatawan datang langsung dari Bali menggunakan fast boat atau kapal cepat menuju Desert Point Bangko Bangko, yang tentunya lebih cepat dari perahu nelayan.

Tidak ada dermaga di sekitar Desert Point, sehingga kapal cepat harus berhenti puluhan meter dari garis pantai, lalu wisatawan dibawa menggunakan sekoci.

Juli-September adalah high season datangnya para peselancar mancanegara dan nusantara ke Desert Point Bangko-Bangko. Arah angin musim kemarau memicu terbentuknya ombak ekstrem hingga belasan meter.

Plang Desert Point Bangko-Bangko, Lombok Barat. (ZULKIFLI/RADAR LOMBOK)

Persatuan Selancar dan Ombak Indonesia (PSOI) NTB mencatat, ombak di Desert Point Bangko-Bangko bisa mencapai 12 meter dengan membentuk wall atau dinding ombak yang memacu adrenalin. Karakteristiknya yaitu ombak kidal atau kiri, bergerak ke kiri sehingga kaki kanan berada di depan pada papan selancar.

BACA JUGA :  Nelayan Dilaporkan Hilang Saat Memanah Ikan di Sunset Point Gili Trawangan

Di samping itu, ombak di Desert Point Bangko-Bangko seperti membentuk line up atau antrean; terus berdatangan, sehingga para peselancar bisa cepat start tanpa menunggu 4 sampai 5 menit seperti di sejumlah tempat lain. Oleh karena itu, patutlah PSOI NTB menjuluki Desert Point Bangko-Bangko sebagai tempat selancar terbaik di Lombok. Setelah itu di Pantai Kuta, Pantai Senggigi, dan lainnya.

Sehingga kendatipun jalan rusak, fasilitas minim, dan terisolir, para peselancar tetap berdatangan dari mancanegara dan nusantara. Bahkan buruknya akses jalan dianggap sebagai tantangan petualangan yang terbayar habis dengan ekstremnya ombak. “Jadi surfing itu, di mana ombak bagus, pasti orang ke sana. Tidak peduli biayanya berapa, medannya seperti apa, orang pasti akan datang,” ungkap Ketua PSOI NTB Candra Aprinova, Kamis (1/6/2021).

Tetapi Candra sendiri menyadari, bahwa pengelolaan wisata selancar oleh warga di TWA Bangko-Bangko itu tak berizin. Perlu solusi terbaik antara pemerintah dan warga di sana, agar warga juga diakui keberadaannya dan mendapatkan identitas KTP. Di mana KTP menjadi syarat utama mengakses pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Kemudian dengan win win solution atau solusi terbaik antara pemerintah dan warga kata Candra diharapkan bisa menjadi jalan untuk pemerintah mengadakan fasilitas dasar di Desert Point Bangko-Bangko, seperti jalan, toilet dan tempat bilas. Selama ini para peselancar atau wisatawan yang ingin buang air besar, buang air kecil, atau membersihkan diri usai berselancar harus ke penginapan milik warga.

BACA JUGA :  Punya Banyak Rekening Bank, tetapi Enggan Menabung dan Meminjam

Lalu akses listrik dan komunikasi juga perlu. Di lokasi, warga hanya memakai genset dan sinyal komunikasi sangat buruk, perlu ke titik tertentu untuk mendapatkan sinyal. Kemudian yang terpenting juga perlu toko atau mini market yang menjual kebutuhan makanan dan minuman, agar harga menjadi kompetitif di lokasi. Dan toko juga bisa diisi dengan oleh-oleh khas  untuk wisatawan.

Potret rumah warga yang disulap menjadi warung dan penginapan sederhana untuk tamu mancanegara dan nusantara di Desert Point Bangko-Bangko, Lombok Barat. (ZULKIFLI/RADAR LOMBOK)

Kemudian di Desert Point Bangko-Bangko tambah Candra, masih banyak wisata laut yang bisa dikembangkan, di antaranya memancing, spearfishing atau menombak ikan, kitesurfing atau berselancar dengan mengarahkan layang, dan lain sebagainya. “Masih banyak yang bisa dikembangkan, karena di sana ikannya besar-besar dan laut luas,” pungkasnya.

Selain selancar, vegetasi berbagai jenis tumbuhan juga masih bisa dijumpai di bentang hutan hujan dataran rendah dekat Desert Point itu, di antaranya bajur (pterospermum javanicum), kesambi (schleicera oleosa), waru (hibiscus tiliaceus). Lalu berjalan atau menggunakan sepeda motor sepanjang 3 KM ke atas tebing di sebelah selatan Desert Point akan menemukan sisa-sisa peninggalan zaman panjajahan Jepang berupa puing-puing benteng pemantau, lengkap dengan meriamnya yang mengarah ke Bali. Sayangnya peninggalan bersejarah ini tak terawat, banyak bagian-bagian benteng dan meriam yang rusak.

Dan jika beruntung, berdasarkan pendataan Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTB, di TWA Bangko-Bangko ini masih bisa dijumpai ayam hutan (gallus varius), elang bondol (haliastur indus), koakiau (philemon buceroides), rusa timor (cervus timorensis), babi hutan (sus scrova scrova), dan kupu-kupu langka throides helena. (**)