Berawal dari Penikmat Kopi, Kini Jadi Pengusaha Kopi

KENALKAN KOPI LOMBOK: Dody A Wibowo (kiri) saat mengikuti pameran kopi di Chile tahun 2014 lalu.

Bisnis usaha kopi saat ini mulai menjamur di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan berbagai identitas dan menawarkan sensasi rasa yang memikat para konsumen penikmat kopi di tanah air. Bahkan saat ini puluhan pelaku usaha di NTB menawarkan kopi khas Lombok dan Sumbawa dengan membuka kedai ataupun tempat nongkrong anak muda untuk menikmati minuman kopi.

 

 


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


 

Berawal dari keinginannya mengenalkan kopi khas daerah asal Lombok, Dody A Wibowo rela belajar untuk meracik kopi bertahun – tahun di Pulau Jawa. Setelah mendapatkan ilmu yang cukup untuk meracik kopi khas dan rasa yang unik, Dody kemudian pulang kampung halaman di Gunung Sari Lombok Barat  untuk  mendirikan kedai kopi. Kemudian Dody-pun mendirikan sebuah brand yakni Etnic yang singkatannya ‘Excellent, Taste of Natural Indonesia Coffe’ pada tahun 2013. Perlahan namun  pasti, usaha kopi yang ditekuni saat ini mulai  banyak dikenal dari pejabat negara hingga ke luar negeri. Bahkan Menteri Koperasi dan UKM RI, AA Gde NGurah Puspayoga menginginkan Etnic Lombok Coffe  dibawa pameran ke sejumlah negara di Timur Tengah,Asia dan Eropa. Meski jauh sebelumnya pada tahun 2014 lalu, Etnic Lombok Coffe  sudah lebih dahulu menjajaki negara Chile  untuk  pameran.

Dengan kemasan tradisonal,  Etnic Lombok Coffe ditawarkan dengan cita rasa berkualitas dan mewah. Bahkan saat ini Etnic Lombok Coffe menyasar konsumen kelas menengah ke atas.  Bagi pria kelahiran Gunungsari tahun 1987 ini, usaha kopi bukanlah hal baru. Maklum, keluarganya sudah menggeluti usaha tersebut sejak lama. Akan tetapi, usaha keluarganya belum dijalankan secara profesional. Dahulu, saat Dody masih usia duduk di bangku SMP, kedua orang tuanya menggiling biji-biji kopi yang dikemudian disangrai dengan campuran beras menjadi kopi khas tradisional Lombok.

Melihat aktivitas rutin dari kedua orang tuanya dan disisi lain ada peluang bisnis yang menjanjikan bila dikelola secara profesional,mendorong Dody untuk langsung terjun secara serius dalam usaha kopi. Terlebih lagi dirinya menjadi penikmat langsung kopi sejak duduk di bangku SMP. “Untuk jualan kopi itu dari tahun 2007, tapi mulai serius terjun ke dunia bisnis kopi pada tahun 2013,” tutur anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Semasa masih berkuliah di Yogyakarta, Dody belajar meracik kopi dari para kenalannya di Pulau Jawa. Semasa tahap belajar mengerjakan semua proses pengolahan kopi secara manual. Biji-biji kopi disangrai dengan menggunakan wajan. Semua dijalani dengan sungguh-sungguh.

Bertahun-tahun belajar meracik kopi, Dody kembali ke Lombok kemudian memulai usahanya  dengan hanya modal awal sekitar Rp 30 juta yang digunakan untuk membeli bahan baku dan mesin modern peracik kopi.

Menurut Dody, kopi Lombok tidak kalah dengan kopi dari daerah lain. Hanya saja selama ini masyarakat   Lombok kebanyakan hanya mengetahui bahwa kopi   hanya dikonsumsi secara diseduh biasa saja. Tetapi dengan sedikit ketelitian dalam memproses, kopi Lombok dapat menghasilkan cita rasa yang luar biasa serta memiliki standar rasa dengan nilai yang tinggi. Salah satunya produk kopi Arabica Roasted Coffee Beans (biji kopi sangrai arabica) dari  Etnic Lombok Coffee ini, dapat menghasilkan espresso yang sempurna dan asli bercita rasa lokal Lombok. Bagi para pecinta kopi akan merasakan sensasi yang berbeda dalam kreasi kopi dengan bahan dasar kopi Lombok untuk menciptakan sajian berkelas.

Kopi Etnic yang menjadi brand yang ditawarkan Dody, menghadirkan dua varian kopi, yakni kopi Robusta dan kopi Arabika.  Untuk bahan baku kopi Robusta dan Arabika, tak pernah kesulitan, karena ia bekerja sama dengan Dinas Perkebunan Provinsi NTB.

Untuk pasokan biji-biji kopinya dari para petani binaan disbun  di Lombok Utara dan Lombok Timur. Di awal produksi usahanya hanya membutuhkan 50 kilogram (kg) biji kopi per bulan, dan kini dengan dibantu tiga orang karyawan dan dua buah mesin penggiling, rata-rata perbulannya membutuhkan sekitar 500 kg biji kopi bulan.

Harga yang ditawarkan pun beragam tergantung dari jenis kopi. Untuk kopi Robusta dan Arabika biasa, Dody mematok harga Rp 20 ribu per 100 gram. Sedangkan untuk kopi premium yang dibuat dari biji kopi pilihan, dijual Rp 75 ribu per 250 gram. " Etnic Coffe juga menawarkan menu campuran antara Robusta dan Arabika,” kata Dody.

Meski sebagai pemain baru dalam bisnis kopi, Dody mengaku kopi Etnic yang diproduksinya tersebut sudah mulai mendapat perhatian dari toko ritel modern   di Pulau Lombok. Bahkan mulai tahun 2016 ini,kopi Etnic sudah bisa didapatkan di seluruh ritel modern yakni Indomaret. Begitu juga dengan di supermarket, seperti MGM, Giant Hero, dan di mal-mal, kopi Etnic Lombok ini sudah ‘mejeng’ di toko ritel modern tersebut.

Karena respon positif dari orang-orang yang telah mencicipi cita rasa kopi ini, akhirnya pada tahun 2012 yang lalu kopi ini diberikan nama, yaitu Etnic Lombok Coffee TM dan sudah terdaftarpada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual No. D21.2014.0001. Pada awal Tahun 2013, Etnic Lombok Coffee mulai diperkenalkan kepada publik dan perlahan dijual secara luas. Pada bulan Agustus 2014 Etnic Lombok Coffee membuka outlet yang diberi nama kedai kopi “ETNIC” di Mataram.

Etnic Lombok Coffee berbeda dari kopi pada kebanyakan, sebab kopi ini seluruhnya diproses menggunakan bahan baku biji kopi yang dihasilkan dari  perkebunan kopi rakyat Pulau Lombok, kemudian diolah secara teliti sehingga menghasilkan kopi dengan kualitas terbaik dan memiliki cita rasa serta aroma khas kopi Lombok.

“Kedepan saya ingin mengembangkan produksi kopi Etnic  ini lebih kepada retail, agar masyarkat luas bisa merasakannya. Karena sekarang ini masih pangsa pasarnya kelas menengah,” ujarnya.(*)