Berawal dari Kunjungan, Kini Jadi Objek Wisata

PENINGGALAN: Bale Gede salah satu tempat penyimpanan peninggalan kerajaan Sokong (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Kampung Wisata Prawira berlokasi di Dusun Prawira Desa Sokong Kecamatan Tanjung dengan areal 1,8 hektar. Kampung ini masih asri dengan suasana masyarakat yang masih menjaga kehidupan tradisional. Kini, kampung prawira telah resmi menjadi objek wisata lima tahun terakhir.

 

 


HERY MAHARDIKA-TANJUNG


 

KAMPUNG Prawira berarti markas prajurit. Konon, kampung ini dijadikan sebagai markas prajurit oleh kerajaan Sokong Kembang Dangar (kerajaan kecil) yang menyimpan bebadong (azimat). Kampung ini memiliki hubungan kekerabatan dengan kerajaan Bayan (kerajaan besar di wilayah barat) yang menyimpan senjata. “Dulu, ketika terjadi peperangan, para prajurit di kerajaan Sokong akan mengambil senjata ke Kerajaan Bayan,” tutur ketua kampung wisata Raden Agus Setiawan kepada Radar Lombok, akhir pekan lalu.

Terbukti, masih adanya tersimpan peninggalan kerajaan Sokong yang ditaruh di dalam museum kampung atau yang disebut Bale Gede. Bale Gede ini terbuat dari struktur bangunan dengan menggunakan bahan tradisional, atap menggunakan pelepah kelapa, tembok menggunakan pagar, tiang rumah menggunakan pohon kelapa, dan teras berbahan tanah. Struktur Bale Gede ini tidak pernah hilang, meski telah dilakukan penempelan semen dipinggir teras. Namun, tidak menghilangkan keasriannya yang telah berusia ratusan tahun.

Bagi pengunjung yang penasaran apa isi di dalam museum kampung tersebut. Harus memakai kain adat yang telah disiapkan ketua kampung sebagai tanda penghormatan terhadap para leluhur. Tersusun rapi bukti sejarah berupa bebadong para prajurit, rambut putri kerajaan Sokong, tulisan Alquran di atas kain sepanjang 1,5 meter sebagai bukti penyeberan Islam, pakaian-pakaian adat untuk peperangan, lontar, bambu buntu berukuran kecil, peluru tulup/sumpit satu biji, kalender sasak/wariga, jemben yang terbuat dari besi dipergunakan sebagai alat masak pada saat acara-acara adat. “Dan masih banyak peninggalan lainnya,” terangnya.    

Bukti peninggalan lainnya, seperti adanya tiga unit berugak terjejer rapi yang berusia ratusan tahun. Ketiga berugak ini memiliki nama dan fungsi tertentu, terbuat dari pelepah kelapa, batang kelapa, bambu, dan tanah. Berugak pertama bernama berugak kekelat, yang dikhususkan untuk tempat duduk para pejabat kerajaan, pemuka adat dan para pemuka agama. Berugak kedua bernama berugak peroahan, yang difungsikan untuk acara tahlilan. Dan berugak ketiga bernama berugak periapan, yang difungsikan sebagai tempat persiapan makanan untuk jamuan para pejabat atau peroahan. “Untuk membedakan tiga berugak ini dari segi ketinggian. Bisa dilihat berugak pertama lebih tinggi dibandingkan kedua berugak lainnya,” jelasnya.

Selain itu, ada juga masjid Setupuk Kembang Dengar sebagai tempat peribadatan dan penyebaran agama Islam. Biasanya, masjid ini disebut masjid bertiang satu. Kini, masjid ini sudah dibangun seperti masjid pada umumnya.

Hanya saja, yang tidak dirobohkan tiang satunya yang berada di posisi tengah dan mimbar kayu berukiran naga dan penyu. Ada juga bale banjar yang difungsikan untuk pertemuan warga membahas berbagai persoalan kampung. Saat ini, masyarakat setempat masih menggunakan sebagai tempat iuran uang, masing-masing keluarga Rp 5 ribu per bulan.

Uang yang dikumpulkan dialokasikan kepada sanak keluarga yang membutuhkannya. Seperti acara nikah, sakit, dan kehidupan sehari-hari. “Bale banjar ini ada kentongan dari kayu. Kalau ada pertemuan kentongan ini akan dipukul tiga kali untuk memanggil warga. Sedangkan kalau dipukul tidak henti-henti berarti ada musibah,” tandasnya.

Kampung keluarga ini ditempati 120 kepala keluarga (KK). Untuk menjaga keasrian keturunan kampung tersebut, keturunan tidak mengizinkan masing-masing KK memegang sertifikat. Hanya satu orang yang memegang sertifikat, yakni ketua sesepuh. Dibuat juga kesepakatan, bagi anak perempuan yang menikah keluar kampung, maka tidak diperbolehkan bermukim di kampung tersebut. Berbeda, kalau anak laki-laki dibebaskan apakah membuat rumah di dalam atau di luar. “Ini bentuk menjaga terjadinya kepadatan penduduk dan tidak mencampuri keturunan. Kalau dibiarkan bebas, maka kampung prawira akan bercampur. Makanya, di sini tidak ada orang luar,” tandasnya.

Di kampung ini juga memiliki adat kuat. Bagi masyarakat yang berbuat tidak senonoh di kampung ini, orang itu harus membayar ganti menggunakan kambing satu ekor dan harus diusir keluar kampung selama-lamanya. Hal itu sebagai bentuk ketegasan mengamalkan ajaran Islam dan menjaga nama baik kampung tersebut.

Ketika pengunjung hendak masuk ke dalam kampung ini, tidak diperkenanka memasukan kendaraan. Pengunjung hanya bisa berjalan sembari menikmati kampung tersebut. “Saat ini, kami termasuk keturunan ke-9,” jelasnya.

Sejarah dan keasrian kampung ini ternyata membawa berkah tersendiri. Sejumlah tamu dari The Oberoi Lombok Hotel pada 2010 silam jalan-jalan melihat pasar tradisional di Lombok Utara. Saat itu, tamu The Oberoi hanya menemukan pasar tradisional saja. Melihat hal tersebut, terbesit di pikiran GM The Oberoi Lombok Hotel untuk mengajak wisatawan berkunjung ke salah satu kampung tradisional, yakni kampung Prawira. “Ini dianggap lebih dekat dengan hotel Oberoi dengan suasana kampung bersih dan tradisional. Dan saya pada waktu menjadi guide di hotel tersebut,” ceritanya.

Berselang beberapa hari, Kampung Prawira mendapat tawaran dari The Oberoi Lombok Hotel untuk membuat produk wisata yakni pengolahan minyak kelapa tradisional. Kemudian hari berikutnya kampung Prawira mendapat kunjungan lagi dari tamu The Oberoi Lombok Hotel. Begitu juga pada hari berikutnya secara berturut-turut. “Dan tamu hotel Oberoi Mr Haddad dari Inggris memberikan donasi Rp 1,5 juta,” terangnya.

Melihat hal itu, muncul pemikiran dari GM The Oberoi Lombok Hotel untuk menjadikan kampung Prawira sebagai kampung wisata. Beberapa hari kemudian diadakanlah perundingan dengan pemangku Adat Lombok Utara serta tokoh masyarakat Prawira. Kesepakatannya, dibentuklah kampung wisata Prawira dengan nama bahasa Inggris ‘Prawira Village Tourism Centre’ dan diresmikan pada hari Senin (17/5/2010). (**)