Bentrok, Warga Dadibou Blokade Jalan

bentrok
BLOKADE JALAN : Aksi blokade jalan yang dilakukan warga Desa Dadibou, Minggu malam (15/1). (Yety/ Radar Tambora)

BIMA – Bentrok yang terjadi antara warga Desa Risa dan Desa Dadibou Kecamatan Woha Kabupaten Bima, berakhir dengan aksi blokade jalan.

Warga Dadibou melakukan aksi blokade jalan nasional tepatnya di pertigaan Cabang Godo lantaran ada warga setempat yang diduga terkena tertembakan yakni EW, 22 tahun. Sekitar pukul 19.15 wita warga Dadibou melakukan aksi blokades jalan. Hal tersebut membuat arus lalu lintas di jalan nasional lumpuh total. Kemacetan pun tak terhindarkan.

Warga melakukan blokade jalan tersebut dengan menggunakan batu. Dan menebang sejumlah pohon di pinggir jalan tersebut. Ratusan aparat kepolisian diturunkan untuk mengamankan aksi tersebut. Setelah melakukan negosiasi cukup lama, jalan tersebut akhirnya dibuka. Arus lalu lintas pun kembali normal. Aparat kepolisian disiagakan di lokasi tersebut. Mengantisipasi terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan.

[postingan number=3 tag=”bentrok”]

Kapolres Bima AKBP M Eka Fathur Rahman SH SIK membenarkan aksi warga tersebut. Diakui Eka, ada seorang warga yang tertembak dalam bentrok tersebut. Korban penembakan sudah dilarikan ke RSUD Dompu dan dilakukan rawat medis. "Memang benar ada warga yang terluka dan dirawat di Dompu. Diduga terkena tembakan saat di tengah sawah. Dan saat itu polisi belum masuk ke are bentrok," jelasnya, Senin (16/1).

Menurut Eka, blokade jalan berawal dari bentrokan yang terjadi antara warga dua desa beberapa hari terakhir. Sebelumnya, polisi sempat menghalau warga agar tidak kembali bentrok. Saat polisi dalam perjalanan menuju lokasi bentrok, warga terlibat kontak senjata. "Intinya blokade semalam itu lanjutan dari kasus bentrokan beberapa hari terakhir," tegasnya.

Diakui Eka, pihak kepolisian sudah sering mengeluarkan himbauan agar warga tidak kembali bentrok. Bahkan pihak kepolisian sempat melakukan pembubaran dan mengusir paksa warga yang hendak masuk ke area persawahan. Namun, tindakan pihak kepolisian tidak diindahkan. Hingga upaya terakhir adalah menurunkan tim anarkis. "Imbauan persuasif sudah kami lakukan. Warga menggunakan senpi rakitan dan senajata tajam, anggota kami hanya menggunakan tongkat," jelasnya.

Menurut Eka, pasca dibukanya blokade jalan tersebut, kondisi keamanan di wilayah tersebut kondusif. Warga menuntut persoalan hukum dilanjutkan. Kemudian meminta ganti rugi sepeda motor yang terbakar. Terkait tuntutan warga tersebut, pihak kepolisian akan memfasilitasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. "Pelaku penembakan akan tetap kami usut dan cari," tegasnya.

Terkait adanya isu bahwa pelaku penembakan merupakan aparat kepolisian, Eka membantahnya. Menurutnya, korban sudah dimintai keterangan dan menyatakan bahwa pelaku penembakan bukan polisi. "Di sini polisi dikambinghitamkan. Tapi kami akan bekerja dengan profesional untuk mengungkap semuanya," pungkasnya. (yet)