Belasan Anak Sapi di Lombok Tengah Ditemukan Mati

TERJANGKIT PMK: Tampak indukan sapi yang terjangkit lemah setelah tak berhari-hari tak makan. Kondisi ini membuat anak sapi menjadi mati karena tak bisa mendapatkan asupan susu.(M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Mengganasnya penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menjangkit ternak berkuku ganda semakin meresahkan.

Belasan anak sapi atau pedet ditemukan mati begitu saja di wilayah Lombok Tengah. Data Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah menunjukkan, semua pedet yang mati ini yang induknya positif terjangkit PMK. Anak sapi ini tak bisa mendapatkan asupan susu karena induknya terserang penyakit.

Induknya tak bisa makan yang berdampak pada nutrisi tubuhnya. Akibatnya, indukan sapi ini tak bisa memberikan asupan susu kepada anaknya, sehingga bedampak fatal dan tak terselamatkan. ‘’Sudah ada 15 ekor anak sapi yang mati terdampak PMK ini. Ternak ini mati bukan terserang PMK langsung melainkan induk mereka,’’ terang Kepala Distanak Lombok Tengah, Taufikurrahman Poanote.

Taufik juga mengklaim, belum ada sapi yang terkena wabah PMK mati. Tapi ada yang dipotong paksa oleh para peternak sendiri karena kondisinya yang mengkhawatirkan. Jika pun ada, kemungkinan belum masuk laporan.

BACA JUGA :  Dewan Desak Pemprov NTB Tetapkan Status Tanggap Darurat PMK

Kasus PMK di Lombok Tengah sendiri sekarang ini memasuki gelombang kedua. Kasusnya terus meningkat mencapai 4800 ekor, namun telah sembuh sebanyak 2456 ekor. Dinas mengakui tinggal 49 persen sapi yang terjangkit PMK masih sakit dan sedang dalam proses pengobatan. “Di satu sisi kondisi obat untuk mencegah wabah PMK masih langka, sehingga kami melakukan pengobatan dengan herbal seperti dari gula merah, kunyit dan daun kelor untuk diberikan kepada ternak yang sakit. Kami berharap kepada masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan PMK bagi ternak sapi yang terjangki dan menyemprotkan disinfektan untuk sterilisasi kandang ternak,” imbaunya.

Lebih jauh disampaikan, obat herbal juga cukup membantu dalam penyembuhan ternak sapi yang terkena wabah PMK. Itulah solusi yang bisa dilakukan sekarang ini sembari memperpanjang masa penutupan pasar hewan hingga tanggal 20 Juni 2022 dalam rangka mencegah penyebaran penyakit PMK. “Sebenarnya awal bulan ini pasar hewan itu akan kita buka, namun kondisi kasus terus meningkat sehingga masih ditutup sementara,” tegasnya.

BACA JUGA :  6763 Ekor Sapi di Lotim Terjangkit PMK

Sementara itu, salah seorang peternak di Kecamatan Jonggat, Subeki menegaskan, perpanjangan penutupan pasar hewan ini semakin meresahkan peternak karena para peternak tidak bisa menjual sapinya ke pembeli. Padahal sapi-sapi mereka sudah waktunya untuk dijual.

Terlebih menjelang lebaran Idul Adha, para peternak biasanya banyak menjual sapi mereka untuk dijadikan hewan kurban. Sehingga mereka meminta kepada pemda untuk membuka pasar hewan, tentunya dengan pengawasan yang ketat sehingga aktivitas jual beli bisa dilakukan kembali oleh para peternak. “Kita berharap juga adanya solusi dari pemda dalam mengatasi PMK ini agar kita tidak merugi,” harapnya.(met/yan/cr-rat)