Belajar Toleransi dari I Nengah Agus Gunarsa

Kerukunan antar umar beragama di NTB terjaga dengan baik. Kerukunan ini terjaga karena toleransi beragama masih terjaga.

 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


 

Ketika salat Jum'at tiba, umat Islam dari berbagai penjuru datang ke masjid. Bagi yang menggunakan sepeda motor atau mobil, kerap kali dihantui rasa khawatir. Takut jika motornya digondol maling atau barang di dalamnya ludes dicuri orang.

Tidak jarang saat ditinggal salat, motor atau barang lain milik jamaah hilang. Ini juga yang dialami warga di  Kelurahan Mataram Timur, Kota Mataram saat datang salat  di masjid Baitul Muqaddis di Jalan Pariwisata Kota Mataram.

Tetapi, itu semua kondisi dahulu. Setahun terakhir tak ada lagi kekhawatiran yang mengganggu kekhusukan jamaah dalam beribadah. Siapapun dan jamaah dari manapun bisa merasa nyaman dan yakin kendaraannya sudah aman.

Situasi dan kondisi yang jauh berubah itu tidak lepas dari sosok I Nengah Agus Gunarsa. Ia warga  Kota Mataram yang beragama Hindu. Namun rela meluangkan waktu setiap hari Jumat demi membuat umat Islam nyaman melaksanakan ibadah.

Pria kelahiran Mataram, 19 Mei 1976 ini berasal dari keluarga penganut agama Hindu. Orangtuanya maupun empat saudaranya bukanlah muslim, begitu juga dengan istri dan kedua anaknya merupakan penganut agama Hindu yang taat.

Agus, panggilan akrabnya, mulai menjaga kendaraan umat Islam yang beribadah sejak tahun lalu. Berawal dari banyaknya keluhan jamaah yang kehilangan barang di motor, bahkan sepeda motor membuat hatinya terketuk. "Ada pengurus masjid, namanya Pak Dayun. Dia dulu awalnya yang percayakan saya untuk jaga motor di masjid karena sering ada maling motor," tutur Agus saat ditemui Radar Lombok di sela-sela menjaga motor, Jumat pekan lalu (28/10).

Suami dari Ni Ketut Ayu Swasti ini memahami maksud sang pengurus masjid. Ia juga tidak rela jika ada umat lain merasa tidak aman menjalankan keyakinannya. Terlebih lagi itu di wilayah Kelurahan Mataram Timur.

Ajaran agama Hindu terang Agus, yang juga biasa dipanggil Ongah, menyuruh penganutnya berbuat baik kepada siapapun. Tidak terkecuali pada umat agama lain. "Yang ada di pikiran saya sih kita sama-sama saling bantu saja, saling menghargai antar sesama," katanya.

Ongah,  sangat mengerti betul arti toleransi. Tak ada kebencian di hatinya, meskipun beda agama tapi tetap menganggap semua manusia pada hakikatnya bersaudara. Prinsip inilah yang membuatnya tidak pernah meminta upah atas apa yang dilakukan.

Setiap hari Jumat, ketika beberapa orang sudah mulai berdatangan, Ongah sudah berada di pinggir jalan dekat masjid. Ia tidak hanya menjaga motor, tetapi juga seperti tukang parkir yang mengatur kendaraan-kendaraan saat baru datang dan sampai pergi.

Sehari-hari, Ongah memiliki pekerjaan sebagai penjaga sebuah kos-kosan di Kelurahan Mataram Timur. Namun ia juga ikut kerja  serabutan, yang penting tetap mendapatkan uang. "Kalau soal jaga motor disini sih, saya tidak pernah minta uang parkiran. Tapi terkadang pengurus masjid yang kasi saya Rp 40 ribu," kata ayah dari I Wayan Anggara Trisna dan Ni Made Ayu Ratih ini.

Dalam menjaga motor, sejauh ini tidak pernah ada umat Islam yang kehilangan motornya saat beribadah. Ongah selalu waspada di sekitar masjid, paling pertama datang dan paling akhir pergi.

Sering Ongah melihat pemuda-pemuda asing yang sikapnya mencurigakan. Dengan rasa tanggung jawab dan pengabdian, orang yang mencurigakan langsung didekati dan berada di dekatnya. "Lama-lama dia pergi sih, motor kan banyak kita jaga. Jadi harus teliti juga," tandasnya.(*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid