Belajar Revolusi Mental dari Kampung Bugis

Dulu Kumuh, Kini Diproyeksi Jadi Portofolio Kampung Wisata

Belajar Revolusi Mental dari Kampung Bugis
INISIATOR: Peneliti dan inisiator KNSW di Kampung Bugis, R Pramiga Aditya, kala bercengkrama bersama tokoh warga di Masjid Nurul Bahar. (Roziq/Radar Lombok)

Sampah terserak hampir di sepanjang jalan Kampung Bugis adalah hal biasa, tapi itu lima bulan yang lalu. Cobalah datang sekarang. Pemandangan itu kini sudah enyah.


FATHUR ROZIQIN – MATARAM


KAMPUNG Bugis di akhir 2017 lalu masih nampak kumuh. Sampah-sampah begitu mudah ditemukan di sepanjang jalanan perkampungan yang terletak di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan Kota Mataram itu. Kebiasaan buruk warga membuang sampah sembarang adalah penyebabnya.

Menjadikan laut sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mungkin hal lumrah bagi warga. Kebiasaan ini berlaku terutama bagi mereka yang tinggal bersisian dengan laut. Jangankan di laut, di jalanan dan pekarangan rumah mereka pun sampah seolah tak digubris.

Seminggu lalu, pemandangan itu sudah tak ditemukan lagi. Kondisinya berbeda dengan lima bulan yang lalu. Sampah menjadi “barang langka” yang sukar ditemukan. Keberadaanya selalu diburu warga.

Ihwal perubahan besar ini tidak terjadi begitu saja.  Ada sebuah proses “revolusi mental” yang dialami warga setempat. Revolusi itu meletus sejak terbentuknya Kelompok Nelayan Sadar Wisata (KNSW) setempat. Kelompok inilah yang gencar bersosialisasi dan mengkampanyekan perlunya kawasan pesisir yang bersih dan layak huni.