Belajar dari Muhram, Peternak Ayam Betet dari Kebon Ayu

TERNAK : Muhram, peternak Ayam Betet di Dusun Gubuk Raden Desa Kebon Ayu Kecamatan Gerung saat ditemui beberapa waktu lalu.

Laki-laki yang sehari-sehari bekerja sebagai Satpam ini beternak ayam betet sejak beberapa tahun lalu. Masuk di komunitas pecinta Ayam Bebet di media sosial membuat usahanya kian berkembang. Ia mengirim ayam sampai ke luar negeri. 

Pulang dari PLTU Jeranjang, tempatnya bekerja sebagai tenaga security, Rabu (30/6), Muhram langsung ganti pakaian, kemudian menuju kandang ayam di samping rumahnya di Dusun Gubuk Raden Desa Kebon Ayu Kecamatan Gerung. Kandang yang cukup bersih di atas lahan sekitar dua are kurang. Ada puluhan Ayam Betet. Ada yang ditempatkan di tempat terbuka, yang ini yang berumur sekitar satu tahun dan sudah siap dijual. Ada juga yang di dalam kandang kawat, yang ini berumur di bawah tujuh tahun dan masih butuh diberi pakan. Dengan telaten ia mencampur butiran, jagung giling dan jenis lainnya menjadi satu dan mengisi wadah makan ayam. Ia mengeluarkan satu ekor ayam dari kandangnya dan menjelaskan harganya. “ Yang ini perama (ayam jantan). Sama pasangannya Saya beli di Filipina dengan harga sekitar Rp 24 juta. Ayamnya asli Filipina, tapi kita beli lewat broker di Indonesia,” ungkapnya memulai penjelasan kepad wartawan koran ini beberapa waktu lalu.

Ya, selama ini orang mengenal Ayam Betet sebagai ayam yang diadu di judi sabung ayam. Di balik itu, ada para peternak ayam jenis ini yang dengan tekun beternak dan menghasilkan Ayam Betet dengan harga tinggi. Salah satunya seperti yang dilakukan Muhram. 

Awalnya ia hanya coba-coba. Ada sisa kayu setelah selesai membangun rumah yang ia pakai membuat kandang kecil. Uang tabungan sekitar Rp 1,5 juta ia pakai untuk beli dua ekor Ayam Betet, jantan dan betina, yang berumur kurang dari enam bulan. Dari dua ekor itulah jumlah ayamnya berkembang dan berkembang hingga saat ini. “ Yang ini Betet Sweater Boston namanya. Siap kirim,” lanjutnya menjelaskan sambil mengelus satu ekor ayam berbulu indah dengan kaki yang kekar. Harganya dibanderol di atas Rp 2 juta. Itu di luar ongkos kirim jika yang membeli adalah pecinta Ayam Betet dari luar daerah, bahkan dari luar negeri. Harga ayam bisa mencapai belasan juta tergantung kualitas ayam itu sendiri.  

Muhram adalah juga anggota komunitas pecinta Ayam Betet. Anggotanya berkomunikasi di media sosial, juga sering bertemu di darat, termasuk saat menggelar acara-acara sosial. Di komunitas inilah terjadi transaksi jual-beli ayam. Ia mengirim ayam ke Bali, Surabaya, Papua, bahkan ke luar negeri seperti Malaysia. Terakhir ia mengirim Sembilan ekor ayam ke Surabaya. Karena yang dikirim adalah hewan, maka Muhram perlu mengurus surat izin di Balai Karantina Hewan. Biayanya sekitar Rp 25 ribu untuk sekali kirim baik banyak atau sedikit. Ayam ditempatkan di boks khusus. “ Yang terjauh itu ngirim ke Papua. Pernah ngirim ke Malaysia, tapi memang ngirim ke luar negeri agak ribet,” terangnya.

Kini jika ditotal, seluruh ayamnya bernilai ratusan juta rupiah. Ia juga punya mesin penetas bibit ayam. Ada beberapa hal yang ia perhatikan betul selama menjalankan usaha ini. Yang utama adalah kebersihan kandang. Baginya, untuk memberikan kepercayaan kepada pembeli akan kualitas ayam, maka kandang harus tetap bersih. “ Kalau calon pembeli datang, lalu melihat kandang kita kotor nggak pernah dibersihkan, ini kan berpengaruh ke kepercayaan. Pembeli khawatir ayam yang dibeli menularkan virus dan macam-macam,” ungkapnya.

Kedua, perawatan ayam itu sendiri. Di samping memberi pakan yang berkualitas, ayam juga tetap dikontrol kesehatannya, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu yang berpengaruh terhadap kondisi ayam. 

Ia masih punya rencana mengembangkan peternakannya agar lebih besar. Namun modal masih masih menjadi kendala. Apakah tidak terganggu dengan imej tertentu bahwa ini ayam untuk judi? “ Ya kita hanya beternak saja. Kalau setelah dibeli, lalu dipakai untuk apa, itu kan tergantu pembeli,” pungkasnya.(git)