Belajar Dari Mental Baja Widianto, Mahasiswa Penjual Cilok dan Bakso Goreng

Sekadar Hiburan, Omzet Malah Tembus Rp 7 Juta Sebulan

Mahasiswa Penjual Cilok dan Bakso Goreng
MEMIKAT; Inilah lapak memikat Widianto, penjual bakso dan sosis goreng yang mangkal setiap sore di jalan bypass. (NASRI BOEDJANA/RADAR LOMBOK)

Menjadi seorang pedagang/pengusaha gampang-gampang susah. Terutama bagi seorang pemuda dengan status mahasiswa, karena membutuhkan mental baja untuk dijadikan perisai. Jika tidak, maka cibiran dan pandangan masyarakat bisa membuatnya kehilangan muka.


*NASRI BODEDJANA – MATARAM*


SUARA lalu lalang kendaraan di jalan bypass wilayah Kelurahan Jempong Kota Mataram, tidak pernah terhenti. Aktivitasnya terus berjalan, baik yang dari arah Mataram-Lobar maupun Lobar-Mataram. Namun arah Mataram-Lobar cukup menjadi perhatian pengendara jalan tersebut. 

BACA JUGA: Mengintip Modus Jukir Raup Keuntungan

Pasalnya, setiap pukul 16.00 sampai 18.00 Wita, di kiri jalan arah Lobar-Mataram itu tampak berjejer sejumlah pedagang yang bisa dihitung dengan jari. Salah satu yang menjadi titik perhatian adalah gerobak dagangan berukuran kecil bertuliskan “Bakso dan Sosis Goreng” dengan khas warna yang cukup memikat. Tampak dari arsitektur dan gaya grobak dagangan bukan kreasi orang yang sudah tua, melainkan segerombolan anak muda.

Meski gaya grobak yang digunakan cukup sederhana. Namun bisa dibilang mampu memikat pengendara untuk berhenti membeli dan mencicipi sejumlah isi jualannya. Apalagi lokasi jualan yang dipilihnya cukup asri. Bagi pembeli yang ingin memakannya ditempat, mereka bisa duduk bersila kemudian dimanjakan adanya pemandangan hamparan sawah terbuka dan aktivitas warga yang berlalu lalang.

Menjalankan profesi sebagai pedagang, bisa saja disebabkan karena memang hobi, bakat dan tuntutan ekonomi. Bahkan bisa juga hanya karena mengisi kekosongan guna mencari hiburan. Seperti yang dilakukan pemuda bernama Widianto ini, jualan yang dijalankannya hanya dijadikan sebagai hiburan. “Saya jualan tidak berangan yang terlalu tinggi, saya jualan hanya untuk menghibur diri saja,” katanya kepada Radar Lombok, kemarin.

Profesi pedagang merupakan pekerjaan yang lumrah dan normal di depan publik. Hanya saja, terkadang pandangan lumrah dari publik itu bisa terlihat normal, jika pedagangnya dari kalangan masyarakat yang sudah berkeluarga atau yang sudah punya anak. Sehingga profesi pedagang terkadang tantangannya cukup berat bagi pedagang yang statusnya masih muda, seperti Widianto ini. Apalagi statusnya saat ini masih aktif sebagai mahasiswa semester 3 Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram). “Saya mangkal setiap sore di sini mas,” lanjutnya dengan lembut.

Aktivitas jualan yang dijalankan pemuda ini bukan terbilang baru kemarin sore. Melainkan ia sudah jalankan sejak dirinya masih duduk di bangku SMA dengan dukungan dan tuntunan orang tuanya. Yang kebetulan juga aktif sebagai pedagang bakso di seputaran Kota Mataram. Aktivitas orang tuanya ini rupanya yang ia jadikan sebagai motivasi untuk ikut terjun sebagai pedagang. Namun dengan konsep dan bahan jualan yang berbeda. 

Terbukti, sejak beberapa tahun silam, ia memulainya dengan membuat satu gerobak sederhana dengan lokasi mangkalnya di pusat kota. “Modal Saya dulu cuma bermodal Rp 2.500.000 untuk kelengkapan operasional selama satu tahun. Kemudian untuk bahan baku pembuatan bakso dan sosisnya sekitar Rp 1.000.000 perbulan. Adapun laba yang saya dapatkan dapam satu bulan kurang lebih sekitar Rp 7.000.000 per bulannya,” jelasnya sambil senyum malu.

BACA JUGA: Tingkah Siswa-Siswi Smp Saat Imunisasi Measles Rubella

Sejauh ini, berdasarkan hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang terbaru, lapangan usaha atau perusahaan yang berhasil menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia berasal dari usaha perdagangan besar dan eceran. Persentasenya, sektor Perdagangan sebesar 18,53 persen atau sebanyak 23,55 juta orang di Indonesia. Dari persentase tersebut, posisi pedagang cukup besar sumbangsihnya terhadap bangsa guna penyediaan lapangan usaha.

Selain karena adanya modal awal untuk membuka usaha. Widianto juga memiliki keuletan dan sikap sabar dalam merintis usahanya. Sehingga sampai saat ini, dia ternyata tidak  hanya memiliki satu gerobak, melainkan sudah memiliki 3 gerobak dengan membuka lapak di tempat berbeda. 

Dari omzet penjualannya selama per bulan, uang semester yang dikeluarkan ke kampus Unram tempatnya ia kuliah menjadi sangat ringan untuk dikeluarkan. “Kalau sekadar bayar uang semester sekarang jadi lebih gampang. Makanya insya Allah dalam waktu dekat ini saya bersama orang tua mau bangun rumah,” tuturnya.

Sementara, Lalu Muhammad Masdar Ali salah seorang pembeli mengaku puas dengan sajian sekaligus rasa yang disuguhkan oleh penjual. Selain karena memang bakso dan sosis bakarnya enak dan gurih. Dirinya mengaku tertarik karena penjual yang melayaninya rata rata masih muda. Baginya, penjualnya ini cukup kreatif. Lapak yang digunakan juga mampu menarik perhatian pengendara.

BACA JUGA: Kegigihan Awidi Memasarkan Kerajinan Ketak Hingga Tembus Pasar Luar Negeri

Begitu juga dengan rasa yang disuguhkannya. Menurutnya, kreativitas para anak muda ini cukup menggugah. Bahkan Ali yakin, kreativitas anak muda sekaligus mahasiswa ini pasti jadi inspirasi bagi pemuda-pemuda lain untuk  lebih agresif dan kompetitif dalam berkarya. “Keaktifan serta kreativitas anak muda ini, saya yakin akan menginspirasi banyak orang anak muda,” yakinnya. (**)