Bayi Penderita Pendarahan Otak Butuh Bantuan

SAKIT: Muhammad Fikri bayi berusia 2,5 bulan yang menderita pendarahan otak dan membutuhkan bantuan untuk pengobatan. (Fahmy/Radar Lombok)
SAKIT: Muhammad Fikri bayi berusia 2,5 bulan yang menderita pendarahan otak dan membutuhkan bantuan untuk pengobatan. (Fahmy/Radar Lombok)
Advertisement

GIRI MENANG – Muhammad Fikri bayi berusia 2,5 bulan penderita pendarahan otak membutuhkan uluran tangan dari para donatur. Fikri setelah lahir sempat mengalami koma beberapa hari saat dirawat di Puskesmas Jembatan Kembar. Setelah itu ia dirujuk ke RSUD Tripat. Ia didiagnosa menderita penyakit pendarahan otak.

Orang tua Fikri adalah orang yang tidak mampu. Mereka adalah Zaidatul Isna dan Sapriadi berasal dari Dusun Gerebek  Desa Jembatan Gantung Kecamatan Lembar. Setiap hari keduanya bekerja sebagai buruh serabutan yang tidak memiliki penghasilan tetap. Bahkan keduanya tidak memiliki dokumen kependudukan, mulai dari KTP, KK dan yang lainnya, sehingga bayi ini tidak memiliki data dan belum ter-cover BPJS Kesehatan. Karena pada saat menikah kedua orang tuanya masih di bawah umur, alias merariq kodeq.

Ibunda Fikri, Isna menuturkan, bahwa saat ini untuk memudahkan pulang pergi ke rumah sakit, untuk sementara ia tinggal di rumah ibunya. “Untuk sementara saya tinggal di sini, selama 1,5 bulan,” tuturnya.

Ia menuturkan bahwa , anaknya menderita penyakit pendarahan otak. Pada saat tiba di RSUD satelah dilakukan pemeriksaan diketahui menderita penyakit pendarahan otak, pihak RSUD meminta agar Fikri di rujuk ke RSUP Provinsi NTB. Tapi karena alasan tidak ada biaya untuk kehidupan sehari-hari dan kesulitan transportasi, pihak keluarga meminta agar anaknya tidak dirujuk, tetapi cukup dirawat dulu di ICU RS Tripat.”Tidak ada biaya, lebih baik ditaruh dulu di RS Tripat, sambil kita urus Bansos,” ujarnya.

Namun setelah beberapa hari, kemudian pasien dipulangkan, setelah tiba di rumah, Fikri kembali koma selama tiga hari, tidak mau menyusu, bahkan dibantu pakai alat suntik untuk asi juga tidak mau. ” Tiga hari di rumah, itu dalam kondisi koma,” ungkapnya.

Pihaknya tidak tahu apa penyebab utama yang membuat anak pertamanya ini mengalami pendarahan otak, namun pada saat masa kehamilan 9 bulan sebelum lahir, ia sempat mengalaminya kejadian, dimana pada saat itu ia jatuh terpeleset beberapa hari sebelum ia melahirkan. “Dulu sebelum melahirkan, disaat hamil tua saya jatuh terpeleset,” ungkapnya.

Sebagai orang tua yang hidup serba kekurangan, saat ini upaya pengobatan yang dia lakukan selain secara medis yaitu, hanya mengandalkan pemberian obat vitamin yang diberikan oleh RS Tripat, dengan kondisi anak yang masih berusia 2,5 bulan, orang tua dan keluarga belum mau kalau anaknya dioperasi, alasannya karena kondisi anak yang masih sangat kecil, kemudian banyak resiko yang akan ditanggung oleh anaknya, jika misalkan dilakukan operasi.”Saya nggak sanggup lihat, kemudian bagaimana nanti dia nangis, lebih baik saya lihat dulu seperti ini,” tambahnya.

Dari keterangan yang disampaikan oleh bibi dari Isna yang selama ini mendampingi Isna, mengungkapkan, tidak ada jaminan bahwa anak keponakannya tersebut akan sehat dan tumbuh secara normal jika dilakukan operasi. Sehingga oleh salah satu petugas kesehatan, ia disarankan memberikan si anak obat yang harganya cukup mahal, namun dianggap lebih aman daripada harus dioperasi.”Kami berharap bisa dibantu untuk membeli kebutuhan obat yang didatangkan,  daripada dioperasi,” kata Maulida.

Untuk biaya operasi mungkin bisa gratis karena ada donatur, tetapi bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari keluarga yang menjaga dan menunggu selama perawatan bayi di rumah sakit. Untuk biaya hidup yang tidak dimiliki oleh keluarga, ia berharap ada donatur yang bisa membantu pengobatan cucunya ini, dan jika ada donatur ia berharap agar bisa datang sendiri kerumahnya melihat langsung kondisi Fikri.(ami)