Bayan dan Kayangan Dilanda Kemarau Lebih Awal

AIR BERSIH: Penyaluran air bersih di Kecamatan Kayangan, pada tahun lalu.(DOK/RADAR LOMBOK)

TANJUNG–Peralihan musim hujan ke kemarau sudah mulai terjadi sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG). Dari lima kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Kecamatan Bayan dan Kayangan akan mengalami kemarau lebih awal, sekitar Mei.

Kabid Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD KLU Pasek Suparta mengatakan, Kecamatan Bayan dan Kayangan memang sudah jarang sekali hujan. Dengan peralihan musim ini, tentu menjadi atensi bersama, karena bepotensi menyebabkan menurunnya debit air di sejumlah titik. Apalagi kondisi hutan sudah mulai gundul. Banyak lahan kayu menjadi lahan pertanian atau perkebunan. “Namun terlepas dari itu, kami akan siaga memantau perkembangan sejumlah titik yang akan menjadi langganan kekeringan seperti tahun lalu,” terangnya kepada Radar Lombok, Minggu (25/4).

Baca Juga :  Kades Kayangan Tagih Janji Membangun Dari Desa

Diungkapkan, tahun ini jumlah air bersih yang disediakan sebanyak 1.000 tangki atau 5 juta liter yang akan menyasar 86 titik. Saat ini belum ada permintaan air bersih, namun pihaknya tetap siaga karena permintaan air bersih lazimnya akan bertahap pada puncak kekeringan Agustus. “Nanti debit air bersih akan berkurang bertahap, puncak pada bulan Agustus namun bisa saja memanjang sampai Desember. Nanti kita tetap menunggu prediksi BMKG. Dan titik-titik kekeringan yang akan pertama disasar pasti di wilayah Kecamatan Bayan dan Kayangan,” ungkapnya.

Baca Juga :  38 Pejabat KLU Dipromosikan Naik Jabatan

BPBD sendiri sudah melaksanakan rapat dengan Bappeda, Dinas PUPR, dan OPD teknis lainnya. Titik-titik kekeringan ini sudah ada yang ditangani dengan pemasangan pipa seperti di Selengen, namun tidak sampai ke rumah warga. Mengingat masih ada persoalan ego sektoral terkait pemanfaatan sumber air Mursmalang. Sehingga kemungkinan masih perlu diantarkan air bersih.

Kendati begitu, diakui, titik-titik kekeringan sudah berkurang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang mencapai ratusan titik. Sekarang hanya tinggal 86 titik, sesuai data lapangan tahun lalu. Ini disebabkan karena sudah banyak yang menerima program pipanisasi serta pembangunan sumur bor dari aspirasi DPRD. (flo)