Bawang Putih Cina Banyak Beredar di Pasar

BAWANG IMPOR: Tampak salah satu pedagang di Pasar Tradisional Mandalika, Kota Mataram, ketika sedang menjajakan barang daganganya, bawang putih impor asal Cina, Kamis kemarin (2/3) (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Peredaran barang produksi asal Cina di Provinsi NTB ternyata tak hanya didominasi oleh barang-barang elektronik semata. Namun sudah merambah kepada hasil pertanian, seperti komoditas bawang putih yang kini telah banyak beredar di Pasar Tradisional Mandalika, Kota Mataram.

Ironisnya, sejumlah pedagang di pasar tradisional terbesar di Kota Mataram tersebut mengaku lebih memilih menjual bawang putih impor asal Cina,  dibandingkan bawang lokal. Lantaran menurut para pedagang, bawang putih asal Cina jauh lebih murah dibandingkan bawang putih produksi lokal. Selain itu, pembeli pun lebih tertarik dengan bawang asal Cina, karena ukurannya yang lebih besar.

Murji misalnya, wanita asal Mamben, Lombok Timur ini mengakui bahwa setiap minggu dia membeli dari pengepul untuk bawang putih asal Cina hingga puluhan juta rupiah. Dia membeli bawang putih dengan merk Kujhoi Super Garlic tersebut dari salah seorang pengepul dengan harga per karungnya sebesar Rp 600 ribu.

“Biasa disini lebih banyak menjual bawang putih asal luar negeri, karena harganya lebih murah dan cepat kita dapat. Saya saja dalam satu minggu bisa mengambil bawang putih hingga dua kali dari pengepul, karena cepat laku terjual,” ungkapnya ketika ditemui Radar Lombok di Pasar Mandalika, Kamis Kemarin (3/2).

[postingan number=3 tag=”bawang”]

Dijelaskan dalam setiap karung bawang putih asal Cina seberat 20 kg itu, dia menjual bawang putih tersebut secara eceran mulai dari harga Rp 31 ribu hingga Rp 33 ribu per kg untuk bawang jumbo. Sementara untuk bawang yang berukuran lebih kecil, dijual dengan harga Rp 30 ribu hingga Rp 31 ribu per kg. ”Setiap kilonya kita bisa untung dari Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu,” ujarnya.

Sedangkan jika dibandingkan dengan harga bawang putih asal Sembalun atau lokal, harga per kg bisa mencapai harga 40 ribu. Bahkan itupun kalau dilihat dari kasat mata, penampilan bawang impor asal cina tersebut jauh lebih indah dan besar, dibandingkan bawang lokal tersebut. ”Kalau saat ini bawang putih asal Sembalun dan Bima jarang datang. Baru hari ini ada, dan tampilan bawangnya juga masih lebih bagus yang impor dari Cina,” ujarnya.

Salah satu pedagang, Ibu Raudiah menyampaikan, kendati hampir dua hari ini jarang ada bawang impor asal Cina. Namun bukan berarti besok atau lusa bawang impor ini tidak ada. Karena memang bawang impor ini cepat laku terjual. ”Kalau bawang putih impor asal Cina milik saya sudah habis terjual. Hari ini belum datang. Saya sekarang hanya menjual bawang putih dari Dompu,” ujarnya.

Diakui, pembeli memang lebih banyak yang berminat membeli bawang asal Cina, karena kondisinya yang sangat bagus dan rapi. Jika dibandingkan dengan bawang Sembalun misalnya, bawang Cina jauh lebih kelihatan segar. ”Kalau bawang Sembalun jarang kita temukan sekarang, soalnya mahal. Selain itu pengepul juga tidak pernah mendatangkan. Mereka lebih sering membawa bawang dari luar negeri dan dari Dompu,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Ibu Muk, menceritakan bahwa dia menjual bawang putih impor per kg dengan harga Rp 20 ribu saja untuk yang berukuran besar. Karena dia sendiri mengambil dari pengepul seharga Rp 18 ribu. Berbeda halnya ketika menjual bawang lokal, dia beli dengan harga Rp 32 ribu, dan dijual Rp 35 ribu.

Sementara Ibu Mala, salah satu pembeli menyatakan kalau dia sendiri jarang memperhatikan, apakah bawang putih itu produksi lokal atau impor. Baginya yang penting pergi ke pasar mendapatkan kebutuhan yang diinginkan, termasuk bawang putih.

”Kalau saya sih pinginya beli harga yang lebih murah. Namun tentunya masih kelihatan segar dan berkualitas. Kalau bawang putih impor asal Cina saya kurang mengetahui, soalnya saya juga tidak pernah bertanya,” singkatnya. (cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid