Bau Nyale Kaliantan Hanya Dapat Kucuran Rp 15 Juta

Masfu (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Festival Bau Nyale tak hanya digelar di wilayah Kabupeten Lombok Tengah (Loteng) saja, akan tetapi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) juga setiap tahun ikut menggelar tradisi khas masyarakat Pulau Lombok ini. Sayangnya, dana yang dianggarkan Pemda Lotim ternyata tidak sebanding dengan pengeluaran pihak panitia untuk memeriahkan pesta rakyat ini.

“Tahun ini kami hanya dianggarkan sebesar Rp 15 juta saja, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya kami akan di support oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTB, tapi karena pemotongan anggaran, makanya batal terealisasi,” ungkap Kabid Kebudayaan Dispar Lotim, Masfu, Jumat (13/1).

Dijelaskan, keberadaan Festifal Bau Nyale memang lebih populer di Loteng (Pantai Seger, red), yang terkait erat dengan legenda rakyat, Puteri Mandalika. Namun demikian, kawasan pantai Loteng dengan pantai Lotim sebenarnya tak bisa terpisahkan. Apalagi Nyale ini juga muncul di pantai-pantai Lotim.

“Festival Kaliantan ini adalah untuk mengakomodir masyarakat yang ada di wilayah selatan Lotim, mempertahankan tradisi dan budayanya,” jelasnya.

[postingan number=3 tag=”nyale”]

Dijelaskan, pelaksanaan Bau Nyale di Kaliantan sendiri akan dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan kesenian dan kebudayaan lainnya. Mulai dari pagelaran adat hingga pertunjukan seni tradisional, yang akan berlangsung selama dua hari. “Kalau di Lotim, pelaksanaannya juga bersamaan dengan di Loteng. Karena itu pemerintah provinsi lebih fokus pada Bau Nyale yang ada disana (Loteng),” ungkapnya.

Salah Satu Panitia, Arsa Ali Umar menyampaikan bahwa pelaksanaan Bau Nyale di Kaliantan pihaknya memang mendapatkan bantuan dana sebanyak Rp 15 juta. Hanya saja, apa yang bisa di beli dari anggaran sebanyak itu. Untuk itu menurutnya, sama saja Pemda Lotim memang tak berniat mengembangkan kawasan wisata di selatan Lotim. “Kita berpikir secara jernih saja, dengan dana Rp 15 juta, apa yang bisa kita beli. Untuk terop saja sudah kekurangan, belum lagi biaya sewa lain,” keluhnya.

Padahal sambungnya, kalau melihat angaran yang digelontorkan kabupaten lain, maka dana yang diberikan Pemda Lotim tentu masih jauh dari kata seimbang. Padahal Festival Kaliantan merupakan salah satu ikon wisata Lotim.

“Coba bayangkan, kabupaten lain mendapatkan bantuan anggaran Rp 700 juta. Sementara kita hanya Rp 15 juta. Itupun yang masuk ke panitia, seperti tahun kemarin, berkisar sekitar Rp 7 juta saja. Lantas apa yang bisa kita beli?” bingungnya.

Untuk itu, pihaknya berharap kedepan pada Pemprov NTB, bahkan Pemerintah Pusat dapat memberikan perhatian lebih untuk pelaksanaan Festival Bau Nyale di Pantai Kaliantan, Lotim. “Ya sedikit tidak dana itu bisa berimbang dengan yang ada di Loteng. Kalau dengan dana sebesar Rp 15 juta, kita bisa apa? Paling tidak Rp 200 juta lah,” harapnya. (cr-wan)