Banyak Pelancong Asing Berkedok Investor di Lombok Tengah

Ilustrasi Investor
Ilustrasi Investor

PRAYA – Keindahan dan kemajuan wisata di Lombok Tengah telah memincut banyak investor, baik dalam maupun luar negeri berdatangan. Para investor ini bahkan tak hanya yang bersungguh-sungguh ingin berinvestasi, tapi juga banyak yang abal-abal.

Hal ini terungkap pada diskusi koordinasi dalam rangka penyusunan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) Kabupaten Lombok Tengah tahun 2018 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik, Rabu kemarin (28/9). Bahwa, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Lombok Tengah kerap menemukan adanya investorasing abal-abal. Niat mereka tak bersungguh-sungguh ingin berinvestasi, melainkan sebatas liburan semata.

Hanya saja, kedok mereka sengaja ingin berinvestasi agar mereka bisa lebih lama tinggal menikmati liburan di daerah itu. ‘’Banyak yang kita temukan investor asing abal-abal belakangan ini. Mereka liburan tapi berkedok investasi,’’ beber Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Lombok Tengah, Syamsurriyadi saat mengisi acara tersebut.

Kata dia, investor abal-abal ini sengaja mengurus izin hanya sebagai persyaratan untuk bisa masuk ke Lombok. Ironisnya, mereka mengontrak rumah untuk dijadikan sekretariat agar bisa mengelabui masyarakat setempat. Rumah yang mereka tempati tidak jarang hanya untuk peristirahatanya bersama kekasihnya. “Ada yang beli tanah di daerah kita, tapi malah tidak difungsikan. Yang kita sayangkan ada juga yang menyewa rumah untuk berbuat yang tidak-tidak,” sesalnya.

Dikatakannya, banyaknya investor abal-abal memang bukan tanpa alasan. Hasil investasi mereka di daerah ini tak sebanding dengan yang didapatkan di negara asalnya. Sehingga tidak jarang orang asing ini hanya datang untuk menikmati liburan. Karena izin liburan waktunya sangat terbatas, maka mereka menggunakan berbagai modus untuk bisa berlama-lama. “Ada yang kami temukan orang Jepang. Mereka mengaku gajinya sebulan di negaranya bisa menghidupinya bersama keluarganya setahun di Lombok. Sehingga kami merasa mereka sangat sulit untuk berinvestasi melihat pendapatannya di Indonesia,’’ paparnya.

Yang menjadi permasalahan, sambung Syamsuri, dalam berinvestasi bukan hanya terjadi pada masyarakat asing saja. Akan tetapi masyarakat lokal juga lebih parah, karena mereka banyak mendirikan hotel dan homestay namun mereka sendiri malas untuk mengurus izin. “Kalau masyarakat lokal kita bahkan kalau suruh buat izin, mereka jawab syukursyukur dia mau buat hotel katanya,” tutur Syamsuri.

Karenanya, lanjut Syamsuri, pihaknya membutuhkan kerja sama yang baik dengan semua pihak. Terutama menyangkut hal yang akan akan merugikan daerah. Jika hal itu tetap terjadi, maka sudah jelas pendapatan asli daerah (PAD) dari segi wisata akan sangat berkurang. “Peluang investasi di Lombok Tengah sangat banyak. Tapi jangan sampai banyaknya peluang ini malah dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab,” harapnya.

Sementara itu, Kepala BPS Lombok Tengah Syamsuddin menjelaskan, penyusunan disagregasi PMTB Kabupaten Lombok Tengah 2018 dilaksanakan karena penambahan dan pengurangan aset tetap pada suatu unit produksi dalam kurun waktu tertentu. Di mana penambahan barang modal mencakup pengadaan, pembuatan, pembelian, sewa beli barang modal baru dan bekas dari luar negeri, dan pertumbuhan aset sumber daya hayati yang budidaya. “Untuk itu kita akan melakukan survei terkait investasi apa saja yang dilakukan. Agar kedepan informasi adanya investor abal-abal bisa kita pecahkan bersama. Tentunya dengan keterlibatan berbagai elemen yang ada,” katanya. (met)