Banyak Pelajar Terlibat Narkoba

Ilustrasi Narkoba
Ilustrasi Narkoba

MATARAM—Memasuki akhir semester pertama 2017, tercatat 18 siswa terjaring dalam kasus narkoba. Diduga kasus ini akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTB, Waskito mengatakan, baru 18 siswa terjaring menggunakan obat terlarang. Jumlah ini disinyalir berpotensi terus bertambah jika tidak ditekan.

“Sangat kita sayangkan kasus ini terjadi karena masih ada pelajar kita yang terjaring menggunakan obat-obatan terlarang,” katanya, Selasa kemarin  (16/5).

Rentannya kalangan pelajar mengonsumsi barang haram ini membuat pihaknya heran. Padahal sosialisasi sudah dilakukan secara massif nyaris di semua sekolah.

Lantaran tidak ingin jumlah pelajar pengguna narkoba terus meningkat, pihaknya memastikan akan terus gencar menggelar razia. Tindakan ini diambil secara profesional tanpa melihat status dari setiap orang yang terjaring.

Khusus bagi pelajar, jelasnya, pihaknya tetap mengusahakan melakukan rehab dan menyerahkan ke pihak-pihak yang berkaitan. “Kami memang menyayangkan dengan rentannya keterlibatan siswa yang masih dibawah umur,” tutupnya.

Meski menyebut adanya kalangan pelajar yang terjaring dalam kasus ini, pihak BNNP NTB tidak menyebut secara spesifik asal sekolah dan daerah mana yang terjaring. BNNP NTB memilih merahasiakannya dengan pertimbangan demi nama baik daerah dan sekolah.

Terhadap kasus ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, H. Muhammad Suruji mengatakan, setiap tahun selalu ada siswa terjaring dan terlibat menyalahgunakan obat-obatan terlarang. Terjadinya kasus ini disebutnya sebagai kegagalan sekolah dan orangtua.

“Komunikasi dan koordinasi Sekolah kita dengan orangtua siswa masih minim. Makanya masih sering terjadi hal yang demikian,” kata.

Bagi Suruji, pendidikan formal dan non formal bertanggung jawab dalam membimbing akhlak siswa. Karena itu, sekolah dan orangtua harus berperan aktif mengarahkan anak didik dengan baik.

Akibat minimnya komunikasi sekolah dan orangtua, jelasnya, aktivitas peserta didik selama jam sekolah kurang terkontrol. Seharusnya, semua gerak-gerik siswa selama proses belajar mengajar disampaikan ke orangtua. “Di samping itu, orangtua siswa juga harus aktif mendidik anaknya ketika di luar lingkungan sekolah,” tegasnya. (cr-rie)