Bank Wakaf Mikro Permudah UMKM di Pedesaan

Bank Wakaf Mikro Atqia Bonder Pertama di Bali-Nusra
BANK WAKAF : Kepala OJK NTB Farid Faletehan didamping Suparlan, Direktur Pengaturan dan Pengawasan LKM OJK Pusat menyerahkan sertifikat operasional BWM Atqia Bonder kepada Pengasuh Ponpes Al-Mansyuriah Bonder, Hj Baiq Mulianah, Senin kemarin (1/7).

MATARAM – Bank Wakaf Mikro merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menghindarkan masyarakat dari jeratan rentenir yang sangat memberatkan. Bank Wakaf Mikro (BWM) Ahmad Taqiudin Mansyur (Atqia) Bonder, Lombok Tengah menjadi yang pertama di wilayah Bali – Nusa Tenggara (Nusra) hadir mempermudah masyarakat pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendapatkan modal usaha dengan mudah, murah dan aman.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTBĀ  Farid Faletehan mengatakan Bank Wakaf pertama ada di NTB, tepatnya di Desa Bonder, Sangkong, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Kehadiran Bank Wakaf Mikro yang menjadi program unggulan OJK untuk memangkas para rentenir yang menawarkan pinjaman dengan proses mudah, tapi ujungnya memberatkan dan bahkan bisa memiskinkan masyarakat. Keberadan Bank Wakaf Mikro ATQIA menyediakan akses keuangan bagi pelaku usaha mikro yang tidak bisa mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan.

BACA JUGA: Pilkada Loteng, Ruslan Dekati Ferdian

“Ini merupakan bank wakaf pertama yang ada di NTB dan Bali Nusa Tenggara untuk membantu masyarakat desa yang selama sulit mengakses pinjaman di lembaga perbankan,” kata Farid Faletehan, Senin (1/7).

Menurut Farid, keberadan Bank Wakaf Mikro memiliki nilai strategis dalam konteks memberikan akses kemudahan kepada masyarakat yang berada di pedesaan guna mendapatkan pelayanan jasa keuangan secara mudah, aman dan berkualitas. Mengingat, selama ini banyaknya rentiner memberikan pinjaman dengan bunga cukup tinggi dan lebih memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Di Bank Wakaf Mikro ini biaya jasanya hanya 3 persen per tahun, jadi tidak memberatkan masyarakat,” ujarnya.

Kehadiran Bank Wakaf Mikro dihajatkan bisa memberikan akses permodalan, agar masyarakat kecil dapat memulai usaha dan nantinya bisa berdampak pada peningkatan kegiatan ekonomi dan pengentasan persoalan kemiskinan. Sementara, untuk lembaga jasa keuangan formal, seperti bank umum, baik konvensional maupun syariah masih memiliki keterbatasan untuk menjangkau masyarakat bawah ataupun yang berada di daerah pelosok ataupun pedesaan. Karena belum seluruh masyarakat bisa menggunakan layanan jasa keuangan secara optimal, karena persoalan akses dan letak geograrfis yang tidak memungkinkan bagi mereka, utamanya di pelosok pedesaan.

“Di Desa Bonder memang jauh dari perbankan, jadi masyarakat untuk mengakses permodalan susah. Kehadiran Bank Wakaf Mikro ini bisa memudahkan dan membantu masyarakt Desa Bonder mendapaktan modal usaha yang aman dan nyaman,” ujarnya.

Pengasuh Ponpes Al -Manysuriah Bonder, Lombok Tengah Baiq Mulianah mengatakan, Bank Wakaf Mikro di pesantren sangat membantu masyarakat sekitar yang berlokasi di Desa Bonder. Meskipun baru di buka pada 15 April 2019 lalu, namun kemanfaatannya memiliki dampak cukup besar bagi masyarakat usaha mikro.

BACA JUGA: KPU NTB Siap Hadapi 11 Gugatan Pileg di MK

“Contohnya mulai dari usaha kecil, seperti usaha bakulan, nasi bungkus, gorengan, peternakan bebek petelur dan lainnya mereka bisa mengakses permodalan dengan mudah dan dekat,” kata Mulyanah.

Dijelaskannya, skema pembiayaan melalui Bank Wakaf Mikro tanpa bunga, karena hanya dikenakan biaya administrasi 3 persen per tahun dan mudah. Karena dokumen administrasi hanya berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK). Selanjutnya, besar pinjaman diberikan maksimal Rp 1 juta per orang untuk tahun pertama dan maksimal Rp 3 juta setelah yang pertama sukses. Sampai saat ini sudah ada sebanyak 150 hilmi atau calon nasabah, tetapi jumlah tersebut harus diseleksi terlebih dahulu.

“Kami memberikan pinjaman kepada yang sudah punya usaha, bukan usaha baru. Untuk itu diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang terkendala dengan agunan atau jaminan,” imbuhnya.

Masyarakat sekitar Desa Bonder pun antusias dengan kehadiran Bank Wakaf Mikro Atqia, Bonder, di tengah-tengah mereka. Karena dengan ini memudahkan mereka dalam pinjaman dana modal usaha.

“Kita sebagai masyarakat, membantu sekali adanya Bank Wakaf Mikro ini. Apalagi saya punya usaha menjual jagung,” kata Hj Marmah.

Dikatakannya, saat ini dirinya baru masuk dalam tahap penerimaan berkas saja. Pasalnya, nanti akan kembali diseleksi lagi, sudah sesuai dengan ketentuan atau tidak penerima pinjaman dana tersebut.

“Belum tahu dana diberikan berapa, karena ini baru. Kita baru masukin berkasnya, nanti itu diseleksi lagi, bisa dapat atau tidak,” terangnya. (luk)