Banjir Rob, 30 KK di Bagek Kembar Mengungsi

/Wali Kota Semangati Korban Banjir Rob

BANJIR ROB: Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana mengecek langsung kondisi banjir rob di Kelurahan Tanjung Karang Permai, kemarin. (ALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK) mengungsi karena banjir rob di Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, sejak Minggu petang (5/12).

Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram langsung bergerak cepat dengan mendirikan tenda darurat sebagai pos pengungsia. Senin pagi (6/11), Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana langsung turun meninaju lokasi yang terkena banjir rob. Wali kota menerobos genangan air yang cukup tinggi hingga ke sepadan pantai di Bagek Kembar.

“Khusus di Bagek Kembar ini kita mendirikan tenda untuk evakuasi sementara warga di sini. Karena rumah mereka yang ada di sepadan pantai itu terkena gelombang ombak yang cukup tinggi kemarin,” ujarnya saat melihat langsung kondisi masyarakat di tenda pengungsian di Bagek Kembar.

Wali kota mengatakan, total ada 30 KK yang dievakuasi ke pengungsian sementara. Dia pun langsung memberi instruksi. OPD terkait diminta langsung menangani dan mempersiapkan seluruh kebutuhan pengungsi yang sementara tinggal di tenda Badan Penanggulanang Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram.

“Kita siapkan di sini dapur umum dan petugas kesehatan untuk mengecek dan memastikan kesehatan mereka. Kebutuhan logistik mereka juga siapkan. Sementara itu dulu yang kita lakukan,” ungkapnya.

Pemerintah juga berencana menambah tenda pengungsian. Namun kepastiannya menunggu kondisi terakhir di lapangan. “Kita tunggu perkembangan kondisinya. Kita akan tambah selimut juga. Langsung kita sikapi nanti itu. Tadi juga ada warga yang minta tenda pengungisiannya ditutup supaya nyamuk tidak masuk. Kita siapkan itu,” terangnya.

Wali kota juga berinteraksi langsung dengan pengungsi. Ketua DPD I Partai Golkar NTB itu disambut hangat oleh warga dan cukup lama duduk bersama di tenda pengungsian. Bahkan warga mengajak wali kota bercanda bersama.

Selain itu, warga menitip pesan agar tetap diperhatikan oleh pemerintah. “Iya apa yang bisa kita siapkan kita bantu segera. Terpenting dapur umumnya harus siap dulu,” jelasnya.

Lalu secara keseluruhan akibat hujan deras dan gelombang pasang. Beberapa wilayah yang berada di sepadan pantai terkena dampaknya. Tapi dari laporan yang diterima, dampak terparah terjadi di Lingkungan Bagek Kembar.

Sementara di lokasi lainnya seperti di sekitar Pantai Penghulu Agung, Bintaro dan lainnya. Memang terjadi genangan tapi belum perlu dilakukan evakuasi terhadap warga. “Tapi tetap intervensi dukungan logistik tetap kita berikan di lokasi lainnya. Kalau genangan ini hampir cukup merata. Tapi sifatnya sporadik tidak terlalu parah. Mudah-mudahan itu cepat surut,” terangnya.

BACA JUGA :  Kontraktor Gagal Selesaikan Proyek Jembatan Dasan Agung

Kepala BPBD Kota Mataram, Mahfuddin Noor mengatakan, gelombang pasang terjadi sejak hari Sabtu (4/11). Dimulai sekitar 5 sore dan dampaknya hampir merata. Mulai dari lingkungan Bintaro, Lingkungan Bugis, Lingkungan Pondok Perasi, Lingkungan Bangsal, Lingkungan Bagek Kembar hingga ke Pantai Gading.

“Hampir semua wilayah di 9 kilometer pantai ini terdampak. Gelombang pasang itu mulai sore hari dan kita antisipasi sampai 10 malam. Tapi Subuh itu mulai lagi. Di Bagek Kembar yang paling parah dan warganya kita evakuasi sementara dari rumahnya yang berada di tepi pantai,” katanya.

Dengan kondisi saat ini. Personel BPBD langsung ditugaskan siaga dan menyebar ke sejumlah lokasi. “Sepanjang pantai itu petugas sudah ada di samping yang patroli mobile setiap saat. Untuk gelombang pasang seperti ini kita tidak bisa maksimal mengatasinya. Upaya yang kita lakukan menyiapkan tanggul sementara pakai karung berisikan pasir dipintu-pintu rumah warga. Itu pun sifatnya tidak permanen. Kalau kondisinya menghawatirkan seperti ini. Kita mengutamakan penyelematan warga masyarakat,” jelasnya.

Hartono, salah satu warga Bagek Kembar mengatakan, banjir rob hampir setiap tahun terjadi karena kondisi alam. Warga pun ingin solusi permanen yang diupayakan pemerintah. Yaitu membuat pemecah gelombang di bibir pantai. Untuk di Bagek Kembar memang menjadi langganan banjir rob.

Terlebih sejak adanya pemecah ombak di Pantai Tanjung dan di dekat PLN Lombok Peaker. Luapan air semakin tinggi menuju Bagek Kembar. “Dua tahun ini sudah 10 meter tanah yang terkikis karena banjir rob. Makanya kami tunggu solusi dari pemerintah. Mungkin bisa tanggul pemecah gelombang seperti yang lain,” katanya.

Akibat cuaca ekstrim, hujan lebat disertai angin kencang, membuat sejumlah wilayah di Kota Mataram dikepung bencana, mulai dari banjir, pohon tumbang, hingga gelombang besar yang mengakibatkan ratusan rumah di pesisir pantai Ampenan terjadi banjir rob.

Sejumlah Kelurahan di Kota Mataram diterjang banjir, diantaranya yakni Lingkungan Sayang Lauk, Derman Sari, dan Karang Kuluh di Kelurahan Sayang-Sayang.

BACA JUGA :  Bank NTB Syariah Kembali Dipercaya Menyalurkan Dana PEN

Itu terjadi, selain hujan deras mengguyur cukup lama, juga ada kiriman air dari wilayah hulu sungai di Lombok Barat. Sementara berbagai saluran yang ada tidak berfungsi normal akibat tersumbat sampah, ditambah rusaknya pintu saluran air, serta sedimentasi. Akibatnya, ke tiga Lingkungan tersebut, sempat terendam banjir dengan ketinggian sekitar 80 cm.

Selanjutnya di Kelurahan Pagesangan Timur, ada dua Lingkungan yang diterjang banjir, yakni Lingkungan Karang Anyar dan Seraye.

Lurah Pagesangan Timur, Sumarjan mengatakan, ke dua Lingkungan di wilayahnya itu terendam banjir akibat luapan air Sungai Unus, dan tingginya curah hujan membuat saluran tidak berfungsi optimal. “Debit air kiriman dari daerah hulu semakin tinggi. Kita sudah melakukan normalisasi sebelumnya, tapi tidak optimal. Karena air kiriman semakin besar,” jelasnya.

Selain banjir, beberapa pohon tumbang juga terjadi di Jalan TGH Faesal, Jalan Sriwijaya, dan Jalan Ahmad Yani. Beruntung tumbangnya beberapa pohon itu tidak sampai mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Demikian para petugas juga sigap langsung melakukan pembersihan dan pemotongan pohon yang tumbang.

Sejumlah warganya, untuk sementara masih mengungsi menunggu air surut. Warga juga diminta tetap waspada, karena curah hujan masih tinggi saat ini.

Selain itu, wilayah yang terdampak parah akibat cuaca ekstrim yakni di Kecamatan Ampenan. Sejumlah rumah warga masih terendam banjir rob akibat gelombang pasang. Camat Ampenan Muzakir Walad mengatakan, sampai saati ini banjir rob masih terjadi, ditambah air akibat curah hujan yang cukup tinggi.

“Mulai dari Pondok Perasi sampai Banjar, Ampenan Tengah, terdampak banjir rob. Begitu juga kawasan eks Pelabuhan Ampenan juga hancur diterjang gelombang pasang,” jelasnya seraya menambahkan, pihaknya bersama BPBD Kota Mataram terus siaga melakukan evakuasi untuk warga yang rumahnya terendam dipesisir pantai.

Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram, Shinta Primasari mengatakan, untuk antisipasi cuaca buruk diperlukan pemetaan, terutama daerah pesisir yang banyak terdampak. Karena beberapa daerah pesisir belum memiliki pemecah gelombang. “Sepajang pesisir pantai Ampenan masih sangat rawan terdampak gelombang pasang tahunan yang selalu menghantui warga,” katanya. (gal/dir)