Bangkitkan Harta Budaya Mbojo yang Tekubur

UMA LENGGE: Inilah bentuk rumah adat Bima (Uma Lengge) yang memiliki makna filosofis (ATINA/RADAR TAMBORA )

Festival Uma Lengge, menjadi pertanda kembalinya  ikon daerah. Festival yang dihelat selama dua hari ini terbilang sukses. Karena mampu menarik perhatian masyarakat Kota dan Kabupaten Bima. Meski festival itu tanpa dukungan dana dari pemerintah. Lantas, apakah Uma Lengge menjadi ikon Dana Mbojo?.

 

 


ATINAH-BIMA


 

JIKA menengok ke pulau seberang, Pulau Lombok maka akan tersaji suatu arsitektur bangunan yang nyaris seragam. Jika bukan bagian atap, maka di bagian gapura atau gerbang kantor akan terlihat bentuk bangunan yang menyerupai rumah adat sasak.

Bentuk khas rumah adat sasak diadopsi ke bangunan modern, sebagai ikon bangunan pulau Lombok. Mulai rumah pribadi, hingga gedung perkantoran. Bentuk upaya, mempertahankan tradisi dan jati diri suku.

Bima pun memiliki rumah adat seperti Uma Lengge. Tidak hanya berada di Desa Maria Kecamatan Wawo, tapi juga ada di kecamatan lain di Kabupaten Bima. Ini menjadi bukti, Uma Lengge bukan hanya milik warga Wawo.

Uma Lengge bisa menjadi ikon bangunan daerah Bima, yang bisa dilirik oleh wisatawan. Terlebih, letak geografis Bima sebagai daerah singgah. Banyak wisatawan asing yang menuju pulau bagian timur Indonesia, tentu melalui Bima. Jika Bima mampu membuatnya sebagai daerah singgah penuh pesona, tidak tertutup kemungkinan jika Bima akan menjadi daerah pilihan wisatawan.

Wahyuni ST, sarjana arsitek Jogjakarta sangat menyayangkan jika Bima tidak memiliki ikon bangunan etnik. Menurutnya, Uma Lengge bisa dijadikan ikon. Tidak hanya menjadi ciri khas suku Mbojo, tapi juga menunjukkan kepada dunia akan kearifan lokal yang dimiliki Bima. "Paling tidak diawali oleh bangunan perkantoran. Pada bagian gerbangnya ada model Uma Lengge," kata Yuni sapaan akrabnya.

Menurut dia, sudah saatnya Pemerintah Kota maupun Kabupaten Bima serius mengelola potensi wisata dan budaya. Tidak hanya sekadar even biasa dan tidak berkelanjutan, tapi menjadi target pencapaian wisatawan dan investor.  

Sementara itu, ketua panitia festival Uma Lengge Olan Wardiansyah juga mengungkapkan hal senada. Jika saja Uma Lengge menjadi ikon bangunan di Bima, ia yakin jati diri Bima tidak terkikis seperti saat ini. "Semoga setelah festival ini, pemimpin kita bisa melihat bahwa Uma Lengge ini memiliki potensi besar sebagai magnet untuk daerah. Apalagi kalau dijadikan ikon bangunan kita," harapnya.

Kata dia, modernisasi sedikit demi sedikit menggeser kearifan lokal yang dimiliki suku Mbojo. Sehingga, perlu penyeimbang yang harus dilakukan oleh semua pihak. Hal inilah menjadi alasan kenapa Olan dan kawan-kawan menggelar festival Uma Lenngge.

Rasa prihatin budaya Bima yang semakin tenggelam oleh modernisasi, membuat Olan Cs berpikir membangkitkan kembali tradisi tersebut. Meskipun, hanya dalam bentuk festival selama dua hari. "Paling tidak warga Bima terutama remaja bisa tau dan melihat, kalau kita memiliki buja kadanda, taji tuta, ampa fare dan rumah adat yang penuh filosofis," pungkasnya. (**)