Bangga, Film Melaiq Tayang di 16 Negara

FILM: Kalangan anak muda asal Kota Mataram yang turut berperan sebagai pemain dalam Film Melaiq, tampak bersemangat. (SUDIR/RADAR LOMBOK)
FILM: Kalangan anak muda asal Kota Mataram yang turut berperan sebagai pemain dalam Film Melaiq, tampak bersemangat. (SUDIR/RADAR LOMBOK)
Advertisement

MATARAM —Tradisi pernikahan Suku Sasak-Lombok yang unik, termasuk berbagai potensi wisatanya, ternyata telah menarik minat Viu untuk memfilmkannya. Bahkan film pendek ini sekarang telah ditonton di 16 Negara.

Film ini sendiri menceritakan tradisi pra pernikahan dalam budaya Suku Sasak di Lombok. Dimana calon pengantin laki-laki melarikan calon istrinya pada malam hari. Cara ini menguji keseriusan dan keberanian laki-laki dalam membangun rumah tangga.

Yang membanggakan, film pendek berdurasi 15 menit ini merupakan film garapan anak-anak muda asli Lombok. Dan hebatnya lagi, film ini menjadi salah satu dari 16 film pendek karya sineas muda Indonesia yang ditayangkan oleh Viu Short di 16 Negara, dengan pelanggan lebh dari 35 juta orang.

Viu adalah layanan streaming video pan-regional over-the-top (OTT) dari PCCW Media Group, yang hari ini mengumumkan 16 film pendek dari Viu Shorts! Season 2 karya pelajar di 16 kotamadya dan kabupaten di seluruh Indonesia, sekaligus sebagai semangat merayakan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada hari ini.

Di musim kedua, Viu Shorts! terus menumbuhkan minat dan bakat generasi muda kreator film Indonesia, serta membawa karya mereka ke panggung dunia. Dengan dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Wardah, brand kosmetik terkemuka di Indonesia, program Viu Shorts! Season 2 telah digelar di 16 kota selama 8 bulan. Dimulai pada Agustus 2019 hingga Maret 2020.

Selama delapan bulan, tim Viu Shorts! menjadi saksi antusiasme dan kreativitas pelajar, yang umumnya berusia 14-19 tahun, di berbagai daerah di Indonesia dalam mengangkat kearifan lokal. “Untuk film professional pertama garapan sineas lokal Lombok, secara umum film Melaiq ini sudah bagus dan professional,” kata Ming Muslimin, yang merupakan konsultan lokal, kepada Radar Lombok, Senin kemarin (27/7).

Menurutnya, apa yang telah dilakukan Viu Indonesia sangat baik, yakni mencari talenta-talenta muda di seluruh Indonesia, untuk berlomba membuat film pendek, mengangkat kearifan lokal daerahnya menjadi sebuah karya yang layak tayang di kancah perfilman dunia.

“Ini luar biasa. Ternyata di Lombok sangat banyak talenta muda berbakat dalam bidang sineas. Terbukti apa yang dilakukan oleh Viu, mereka berhasil melatih talenta-talenta ini untuk menghasilkan karya film pendek yang professional dengan biaya minim dan layak tayang di kancah perfilman dunia,” jelas Ming.

Lebih lanjut Ming mengatakan, bahwa komunitas-lomunitas perfilman yang ada di Lombok ini sangat banyak dan kualitas mereka cukup baik. Hanya sayang, Pemerintah Kota Mataram belum melihat ini sebagai peluang yang baik untuk mempromosikan destinasi wisata, adat dan budaya serta sejarah Lombok.

“Dukungan pemerintah kota sangat minim, sejak awal kami masuk di Mataram. Pemerintah hanya membantu memfasilitasi tempat dan konsumsi untuk kebutuhan pelatihan. Selebihnya semua kami urus sendiri,” jelasnya.

Sementara Sutradara film, Muhammad Jaya Laksana menambahkan, bahwa komunitas-komunitas film di Lombok sangat siap untuk membantu pemerintah mempromosikan potensi daerah yang ada, khususnya pariwisata.

“Kami dengan senang hati membantu pemerintah untuk mempromosikan potensi daerah yang ada. Hanya saja kami juga berharap pemerintah dapat membantu memberikan kemudahan fasilitas selama syuting. Misalnya kemudahan mengakses lokasi, bantuan dana operasional dan lain-lain,” harap Jaya.

Komunitas-komunitas film di Lombok berharap, ke depannya terjalin sinergi dengan pemerintah daerah dalam membangun perfilman daerah. Sehingga dapat membawa nama NTB ke kancah dunia perfilman nasional, bahkan internasional.

Secara lengkap, inilah 16 film pendek Viu Shorts! Season 2: Memargi Antar (Klungkung), Kalang Obong (Kendal), Penari Larangan (Majalengka), Kakaluk Fulan Fehan (Atambua), Dawuk (Cilacap), Danau Pengantin (Tangerang), Bulu Mata (Jakarta Selatan), Melaiq (Mataram), Ikan Merah (Magelang), Kelar Kelor (Kulon Progo), Limo Wasto (Surakarta), Pohon Pengantin (Salatiga), G-Rain (Batu), Lae Pandaroh (Dairi), Kanak Kembar (Sangatta) dan La Love (Palu).

Karya-karya ini diharapkan dapat mengikuti jejak kesuksesan film-film pendek Viu Shorts! Season 1 yang mencatat sejumlah catatan penting. Selain diputar di ajang Cannes Film Festival 2019, film pendek Miu Mai karya pelajar asal kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, juga meraih kemenangan dalam kategori Best Short Form Content pada ajang Asian Academy Creative Awards 2019. (dir)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid