BIL/LIA Diusulkan Ganti Nama Menjadi Bandara Internasional Datu Siledendeng Lombok

Bandara Internasional Datu Siledendeng Lombok
GANTI NAMA: BIL/Lombok Internasional Airport (LIA) diusulkan dengan nama Bandara Internasional Datu Siledendeng Lombok. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Beredarnya isu usulan pergantian nama Bandara Internasional Lombok/Lombok Internasional Airport (BIL/LIA) dengan TGKH M Zaenuddin Abdul Madjid, ternyata tidak searah dengan pemikiran Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dibudpar) Lombok Tengah HL Muhammad Putria.

Pria yang juga tokoh masyarakat lingkar bandara ini berpendapat, nama bandara harus dapat menjadi kebanggan masyarakat di sekitar lingkar bandara. Mereka sudah rela mengorbankan tanahnya untuk dijual dengan harga yang sangat murah saat pembangunan bandara. “Saya dalam waktu dekat akan mengusulkan nama bandara dengan nama Bandara Internasional Datu Siledendeng Lombok. Nama itu sudah sesuai dengan masyarakat sekitar dan memiliki banyak makna di dalamnya yang harus kita junjung tinggi,” ungkap Putria, akhir pekan lalu.

BACA JUGA :  Disnaker Amankan 16 TKI Ilegal di LIA

Ia menceritakan alasanya mengusulkan nama bandara tersebut, meski saat pembangunan bandara dulu berlangsung alot dan bahkan sampai berdarah-darah. Namun pada akhirnya berkat kesadaran melalui pendekatan budaya seluruh elemen masyarakat, tokoh pemuda dan banyak unsur tokoh lainya sepakat melepaskan lahanya demi kepentingan umum. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya dan memiliki budaya adi luhung peninggalan leluhurnya. Karena itu, setiap bangsa besar di dunia seperti Belanda, Perancis, Jepang dan lainya sangat peduli dan berkomitmen tinggi dalam rangka memelihara dan melestarikan nilai-nilai budayanya. Untuk itu, tidak berlebihan jika nama bandara adalah nama raja terdahulu kita,” cetusnya.

Untuk itu, saat ini nama LIA sangat perlu untuk dirubah dengan nama yang hendaknya mampu sebagai pilar budaya. Dan, ini akan menjadi suatu kebanggan masyarakat sekaligus sebagai perekat daerah. Membuat bangga masyarakatnya yang bersumber dari sejarah, silsilah dan warisilah yang dimiliki sebagai jati diri masyarakat Sasak Lombok. “Nama Siledendeng juga untuk mengaktualisasikan situs-situs budaya atau tempat di daerah tersebut menjadi pranata sosial masyarakat. Bahkan menjadi salah satu pilar kekuatan dan pertahanan nilai-nilai budaya yang tidak akan pernah tergadai, apalagi dijual. Sehingga harus terus dipertahankan eksistensinya,” katanya.

Untuk itu, dengan melihat pengorbanan masyarakat lingkar bandara yang sudah merelakan sawah dan tempat tinggalnya menjadi bandara. Menurut Putria, tidak berkelebihan kalau dirinya meminta kepada pihak berkompeten untuk kiranya dapat mengaitkan dengan pesan leluhur masyarakat Gumi Sasak Lombok melalui pituah, pitutur waran dan lainya. “Kalau bahasa halusnya lumbung sinabe bukak kuri lawang datar awun-awun tanpe sangke, bumi ngantul tanpa cantel. Erak kanak lamun wah tebukak lendang galuh bikin pait, eak’n loek kao bodak bekelayar, pade inget dendek lengah dendek lupak periri bale langgak gubuk gempeng gumi paer,” ujarnya.

BACA JUGA :  Jokowi akan Salat Jumat di Masjid Mandalika

Putria menjelaskan, ungkapan itu memiliki makna sudah waktunya membuka kepada dunia. Karena petuah bijak itu sudah ada jauh sebelum rencana pembangunan bandara. Di mana para orang dulu berkata, jika lendang galuh (padang luas) sudah dibuka, maka akan banyak kao bodak bekelayar. Itu maknya, akan banyak manusia berkulit putih (turis) yang akan datang.

Nah, saat ini semua ungkapan orang tua itu sudah terbukti. Karenanya, dari pokok pemikiran yang sudah dijelaskan itulah, Putria mengusulkan jika nama Bandara Internasional Datu Siledendeng Lombok sudah sangat tepat. Nama itu memiliki nilai positif dalam rangka melibatkan untuk menggali dan melestarikan sejarah dan budayanya masyarakat Gumi Sasak. “Bahkan bisa menjadi roh spirit untuk menjadi jati diri masyarakat Sasak Lombok dan sekaligus sebagai filter dalam rangka menghadapi dampak global saat ini,” jelasnya.

Dia menerangkan, jika masyarakat Lombok memiliki nilai dasar budaya yang memiliki tiga konsep tindih. Di mana tindih merupakan sikap yang senantiasa menjaga keselarasan tiga unsur dalam kehidupan masyarakat seperti unsur adat game, adat tapsile dan adat luar game. “Dalam rangka menjaga keselarasan hubungan inilah maka seluruh masyarakat dituntut berinovasi dan berakselerasi menghadapi era gelobal saat ini,” ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan, nama Bandara Internasional Datu Siladendeng Lombok mengingatkan bahwa dalam perjalanan sejarah Sasak Lombok terkenal dengan keanekaragaman budayanya. Maka, tentunya hal itu tidak akan pernah terlepas dengan kearifan lokal. Dengan segala yang dimiliki itulah maka harus disyukuri. “Sebagai wujud syukur itulah sehingga kita berikan nama Bandara Internasional Datu Siladendeng Lombok. Saya sudah buat draf alasan dan lainya untuk saya ajukan nama itu,” tandasnya. (cr-met)