Bahas RAPBD Malam Hari Dikritik

Burhanudin Jafar Salam (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Provinsi NTB mendapat kritikan tajam. Pasalnya, agenda-agenda penting pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan  Belanja Daerah (RAPBD) 2017 dijadwalkan pada malam hari. Belum lagi waktu sempit yang diduga  sengaja dikondisikan untuk memperlemah analisa RAPBD.

DPRD Provinsi NTB melaksanakan rapat paripurna untuk membahas RAPBD 2017 selalu pada malam hari. Misalnya saja untuk pandangan umum fraksi-fraksi dan jawaban gubernur dilangsungkan pada malam hari. “Kita rapat malam hari, seharusnya siang dong. Terus waktu yang dikasi ke kita untuk pelajari RAPBD yang begitu tebal hanya sehari. Bukan sekarang saja Bamus begini, memang harus ada evaluasi,” ujar wakil Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Burhanudin Jafar Salam kepada Radar Lombok, Kamis kemarin (24/11).

Pembahasan APBD merupakan nyawa pembangunan NTB. Seharusnya waktu yang diberikan cukup, sehingga berbagai persoalan kerakyatan bisa dikaji dan dipelajari dengan baik. “Ini sengaja disempitkan waktu berpikir kita, ketika waktu sempit pisau analisa tidak bisa maksimal. Kritikan akan berkurang karena mendadak. Bagaimana kita akan analisa kalau sangat mepet,” kesalnya.

Pembahasan mengenai hajat hidup rakyat banyak tentunya sangat tidak masuk akal bisa maksimal jika waktunya sempit. Berbagai agenda paripurna akhirnya hanya akan sebagai formalitas saja.

Lebih anehnya lagi, tuturnya, Bamus juga membuat jadwal kegiatan badan DPRD. Hal ini tentunya akan membuat konsentrasi terhadap isi RAPBD terpecah.  “Janganlah terus begini, lama-lama benar juga kita akan jadi tukang stempel,” katanya.

Sorotan tajam juga datang dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi NTB. Terutama rapat paripurna yang dilaksanakan pada malam hari. “Ini maksudnya apa sih sebenarnya, biar tidak bisa dipantau orang masyarakat ya?,” ujar Ketua Umum PMII Provinsi NTB Syamsul Rahman.

Seharusnya, pembahasan RAPBD juga mendengar aspirasi masyarakat. Bukan malah terkesan sengaja tidak ingin diganggu dengan menggelar paripurna pada malam hari. “Sering orang bilang permainan anggaran itu saat pembahasan APBD, janganlah membuat asumsi negative it uterus berkembang,” sarannya.

 Ketua DPRD NTB, Hj Baiq Isvie Rupaeda membantah jika rapat paripurna yang dilaksanakan pada malam hari agar tidak terpantau masyarakat. Menurutnya, kondisi ini juga tentunya tidak diinginkan DPRD sendiri, tetapi karena waktu yang sempit mengharuskan rapat paripurna lebih baik dilaksanakan malam hari.

Dijelaskan, lambannya pembahasan Peraturan Daerah (Perda) tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi penyebab utama. “Ini akibat lamanya Perda OPD, jadi implikasinya ke kita yang bahas APBD. Terus kenapa malam, karena memang waktunya mepet dan agar fraksi atau eksekutif bisa mempelajari dulu bahannya,” terang Isvie.

Hal yang sama disampaikan pimpinan Banggar lainnya Mori Hanafi. Sebenarnya jadwal awal, rapat paripurna dilakukan pada siang hari. Tetapi eksekutif meminta agar diberikan cukup waktu, sehingga ketika memberikan penjelasan juga bisa lengkap. “Kalau jawaban tidak lengkap, nanti fraksi tidak puas,” ujar Mori.

Diakuinya, jadwal pembahasan RAPBD 2017 memang sangat sempit dibandingkan pembahasan APBD-P 2016 lalu. Sementara, APBD 2017 harus bisa ditetapkan pada tanggal 30 November sesuai jadwal. Meskipun begitu, Mori sangat mengapresiasi amsukan yang datang. “Kedepan kita upayakan tidak akan seperti ini lagi,” katanya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid