Ayah Kandung Tega Dalangi Perampokan Anaknya

Ayah Kandung Tega Dalangi Perampokan Anaknya
PERAMPOKAN: Salah seorang pelaku perampokan, Simbah alias Amak Sapar (tengah) saat diamankan oleh petugas kepolisian, Rabu kemarin (11/9).( IST FOR RADAR LOMBOK)

PRAYA—H Sapar, 67 tahun, warga Desa Montong Gamang, Kecamatan Kopang, kini terpaksa harus berurusan dengan aparat kepolisian. Dia ditangkap karena diduga sebagai otak perampokan yang menimpa H Fahruddin, 49 tahun, warga yang sama, dan tidak lain adalah anak kandungnya sendiri.

Sapar tidak sendiri, namun dia ditangkap Selasa lalu (10/9), bersama dua orang pelaku lainnya, yakni Mahrum, 47 tahun, warga Dusun Bolor Simbur, Desa Rarang Batas, Kecamatan Terara, dan  Simbah alias Amak Sapar, 45 tahun, warga Dusun Segenit, Desa Suradadi, Kecamatan Terara. Ketiga pelaku ini ditangkap sesuai laporan polisi LP/34/VIII/2019/NTB/Res. Ltg/Sek. Kopang pada 29 Agustus 2019, yang dilaporkan oleh korban H Fahruddin.

Selain mengamankan tiga orang pelaku, petugas juga mengamankan berbagai barang bukti (BB), seperti empat  bilah parang, dua batang linggis, satu bilah pisau, satu buah palu, tiga buah senter tangan, tiga buah senter kepala, dua  buah obeng, satu buah kenci leter T, tiga buah mata kunci leter T, dan satu buah gunting.

Diamankan juga satu buah sarung tangan, satu buah handphone Nokia warna hitam, dua buah sarung warna hitam dan merah, satu buah tas punggung, satu buah topi, satu buah celana pendek hitam, satu lembar kain biru, serta satu buah masker.

Kasatreskrim Polres Lombok Tengah, AKP Rafles P Girsang ketika dikonfirmasi membenarkan penangkapan tiga orang pelaku pencurian dengan kekerasan (Curas) itu. Penangkapan bermula dengan adanya laporan, bahwa Kamis lalu (29/8), sekitar pukul 02.00 Wita, telah terjadi tindak pidana pencurian dengan kekerasan, atau perampokan di rumah H Fahrudin di Montong Gamang. Adanya laporan tersebut, petugas kemudian melakukan penyelidikan, dan terkuak bahwa pelakunya adalah Amaq Sapar alias Simbah.

“Kita langsung melakukan penelusuran terhadap pelaku. Tim juga langsung  menyita sejumlah barang bukti hasil curian dan alat yang digunakan untuk melakukan pencurian di rumahnya pelaku Simbah alias Amak Sapar, di Dusun Segenit, Desa Suradadi, Kecamatan Terara,” ungkap Rafles, Rabu kemarin (11/9).

Hanya saja, saat hendak dilakukan penangkapan, pelaku Simbah berhasil melarikan diri. Kemudian Tim melakukan pengejaran dan mencari tempat tempat persembunyian pelaku. Sehingga pada Selasa lalu (10/9), petugas berhasil mengetahui persembunyian pelaku, yang saat itu sedang berada dikediamannya.

“Mengetahui keberadaan pelaku Simbah ini, selanjutnya petugas langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku. Dari keterangan Simbah,  pelaku melakukan.pencurian dengan kekerasan itu berlima, dan pelaku melakukan pencurian itu atas dasar suruhan dari bapak kandung korban, atas nama H Sapar,” terangnya.

Mendengar informasi tersebut, petugas langsung mendatangi kediaman H Sapar, dan petugas langsung melakukan penangkapan terhadap H Sapar, yang saat itu memang sedang berada dirumah. Dari keterangan H Sapar, dia menyuruh melakukan perampokan terhadap anaknya itu melalui perantara Mahrum, yang berasal dari Desa Rarang Batas, Kecamatan Terara. Sehingga petugas pun kemudian melakukan penangkapan kepada Mahrum saat berada dirumahnya.

“Ternyata dari keterangan Mahrum, dia membenarkan bahwa H Sapar pernah menyuruhnya untuk melakukan pencurian. Namun karena Mahrum sudah tidak lagi bergelut di dunia hitam, kemudian Mahrum menghubungi Simbah untuk melakukan pencurian,” terangnya.

Ironisnya, H Sapar tega menyuruh orang untuk merampok kediaman anaknya sendiri, hanya karena masalah sepele saja, persoalan tanah. Dia merasa geram dengan anaknya, dan mengundang pelaku kejahatan untuk merampok rumah anaknya. “Saat ini para pelaku yang sudah ditangkap dibawa ke Sat Reskrim Polres Lombok Tengah, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” terangnya.

Aksi pencurian yang dilakukan oleh pelaku, bermula pada  Rabu  (28/9) sekitar pukul 22.00 Wita, korban tidur di dalam kamar bersama isteri dan anaknya yang masih kecil. Kemudian sekitar pukul 02.00 Wita, korban mendengar suara pintu  rumahnya di dobrak. Mendengar itu, kemudian korban terbangun dan keluar kamar. Hanya saja, saat itu tiga orang pelaku sudah masuk dan mengancam korban, tapi korban berusaha melakukan perlawanan.

“Tapi para pelaku mengambil dan mengancam anak korban, jika melakukan perlawanan, maka anaknya akan dubunuh. Akhirnya korban pasrah dan membiarkan para pelaku mengambil barang berharganya berupa kalung seberat 32 gram, serta HP Aple dan Oppo. Sehingga korban mengalami kerugian sekitar Rp 40 juta,” terangnya.

Guna mempertanggung jawabkan perbuatanya, para pelaku diancam hukuman penjara selama 6 tahun, karena melanggar pasal 362 tentang pencurian. “Kita masih terus melakukan pengembangan, termasuk mendalami para pelaku lain. Mengingat dari pengakuan pelaku yang sudah tertangkap, ternyata masih ada temannya juga,” terangnya. (met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid