Awalnya Sekadar Hobi, Akhirnya Berbuah Perak

Baiq Wardiana Salwa (SAPARUDIN/RADAR LOMBOK)

Meylina Izzatul Fitria bukan satu-satunya siswa SMAN 4 Praya yang mendapatkan medali kejuaraan taekwondo tingkat internasional. Tetapi temannya Baiq Wardiana Salwa juga meraih medali meski kelas perak.

 

 


Saparuddin-Praya


 

JIKA Meylina Izzatul Fitria meraih medali emas bermodalkan restu orang tua, tidak demikian bagi Baiq Wardiana Salwa. Dia meraih medali perak kejuaraan taekwondo tingkat internasional hanya bermodalkan hobi. Dia awalnya sekadar ingin belajar ilmu bela diri agar sewaktu-waktu bisa menjaga diri ketika ada orang yang mengganggunya.

Setelah tekun belajar, ternyata Salwa, panggilan gadis manis ini punya bakat di cabang olahraga itu. Kemampuannya bahkan nyaris sama dengan temannya Meylina Izzatul Fitria, sehingga kedua tampak laksana pendekar muda pilih tanding.

[postingan number=3 tag=”features”]

Meski demikian, Salwa maupun Meylina hampir berkarakter sama. Keduanya sama-sama rendah hati, terutama ketika menjalani aktivitasnya sebagai pelajar di SMAN 4 Praya. Eit… tapi jangan coba-coba diganggu. ‘Jengger’ mereka akan keluar jika ketemu musuh.

Itulah keseharian Salwa selama ini. Ia mengaku tak pernah berlagak pendekar jika bukan pada tempatnya. Dia tetap bersikap biasa-biasanya saja di hadapan teman-temannya meski tergolong pandai dalam bela diri. Dia tidak sok main pukul jika tidak di arena atau saat bertanding. ‘’Nggak sembarangan dikeluarin, kecuali kondisinya sudah berbahaya,’’ cetusnya saat diwawancarai koran ini di sekolahnya, kemarin.

Salwa menuturkan, awalnya ia hanya sekadar hobi belajar ilmu bela diri. Ia tidak pernah menyangka akan bisa meraih gelar medali, apalagi tingkat internasional. ‘’Alhamdulillah bisa dapat medali meski hanya perak,’’ ucapnya bersyukur.

Salwa mengaku, ketertarikannya pada ilmu bela diri berawal ketika duduk di bangku SMPN 2 Praya. Ia melihat banyak orang berlatih ilmu bela diri. Ia kemudian mengamatinya dengan seksama. Sehingga kemudian terbesit di hatinya untuk belajar.

Pikirnya waktu itu, setidaknya ia bisa menjaga dirinya dari gangguang orang jahil. Sehingga sejak itu ia mulai belajar dengan sunggung-sunguh hingga akhirnya bisa menjadi petarung taekwondo. ‘’Alhamdulillah ternyata manfaatnya sudah bisa saya rasakan,’’ katanya.

Untuk meraih medali pada kejuaraan taekwondo internasional di Bali pada 17-19 Februari lalu, Salwa mengaku harus bekerja keras. Ia mengikuti lomba pada kelas  49 kilogram dengan jumlah lawan 7 orang. “Kan kalau bertanding itu disesuaikan dengan kelas. Untuk kelas 49 kilogeram, ada 7 peserta dan Alhamdulillah 5 peserta berhasil saya lumpuhkan, sehingga meraih medali perak,” sebutnya.

Sebenarnya target dalam lomba ini, harus mampu membawa pulang medali emas. Namun karena sampai di juara dua sehingga bisanya membawa medali perak. Terhadap keberhasilan ini, pihaknya akan mengupayakan ini menjadi kontribusi dan motivasi untuk ia lebih konsisten berlatih, sehingga kedepannya bisa menjadi lebih berprestasi. (**)