Awalnya Rambang, Mantap dengan Piagam Australia dan SBY

Agus Suryadin (SAPARUDDIN/RADAR LOMBOK)

Agus Suryadin terpilih menjadi wakil NTB pada ajang lomba guru berprestasi tingkat nasional bulan Agustus mendatang. Di balik prestasi ini, ternyata guru SMPN 6 Kopang ini juga banyak menyimpan prestasi lainnya.


SAPARUDDIN-PRAYA


PRIA kelahiran 18 Agustus 1974 di Dusun Montong Bile Desa Pendem Kecamatan Janapria ini, awalnya rambang mengikuti lomba guru berprestasi tingkat provinsi bulan Juni lalu. Ia gamang untuk bisa lulus, apalagi meraih juara I. Tetapi, banyaknya sokongan dari keluarga, teman, sekolah dan lingkungannya. Agus akhirnya memantapkan hatinya untuk mengikuti lomba tersebut.

Keyakinanya juga mulai tumbuh mekar ketika panitia lomba mengeluarkan sejumlah syarat. Yang salah satunya adalah sertifikat kegiatan selama menjadi guru selama ini. Alhamdulillah, Agus yang sudah sarat akan prestasi sebelumnya semakin mantap.

Ia kemudian mengeluarkan sejumlah sertifikat yang dimilikinya. Sertifikat itulah yang kemudian menjadi salah satu senjata andalannya untuk bisa menyemat predikat guru berprestasi terbaik tingkat Provinsi NTB sekarang ini. ‘’Awalnya saya tidak percaya diri bisa lulus. Tapi berkat doa dan dukungan keluarga, sahabat, dan sekolah, alhamdulillah saya bisa meraih prestasi ini,’’ tutur Agus saat diremui koran ini di sekolahnya, kemarin (26/7).

Akan tetapi, Agus sempat pesimis ketika panitia lomba meminta syarat 12 sertifikat atau piagam penghargaan. Tentunya, syarat itu sangat cukup baginya mengingat sejumlah peserta lainnya sangat percata diri. Namun, rasa ragu itu kembali ia tata. Rasa pesimis kembali ia benahi.

Dengan bismillah Agus kemudian mengeluarkan serifikat University Cambera Australia tahun 2015. Maklum, Agus pernah belajar sekaligus menjadi tutur Elpsa di Australia tahun 2015 silam. Tentunya, tak sembarang orang atau guru bisa melakukan seperti yang Agus lakukan.

Ia menjadi salah satu guru pilihan untuk menjadi tutor waktu itu. Sehingga ia kemudian meraih sertifikat dari universitas bergengsi  di negeri Kanguru itu.

Tak hanya itu, Agus kemudian menyodorkan sertifikat Lencana Karya tahun 2014. Sertifikat itu bukan sembarangan. Sertifikat itu didapatkan Agus setelah dianggap memiliki pengabdian 10 tahun kepada pancasila. Karenanya, sertifikat itu didapatkan langsung dari tangan Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ‘’Selain itu, saya juga mengeluarkan sertifikat sebagai pemakalan pendidikan nasional di IKIP Mataram,’’ sebutnya.

Setelah diperiksa panitia, ternyata nilai sertifikat itu cukup mengagumkan. Nilainya pun melebihi nilai peserta yang mengeluarkan lusinan sertifikat dan piagam penghargaan. Terutama sertifikat Elpsa dan Lencana Karya. Nilainya sangat tinggi jika dibandingkan dengan sertifikat peserta lainnya. Sehingga ia kemudian lulus dengan persyaratan tersebut.

Baru kemudian, kata Agus, panitia meminta persyaratan lainnya yakni, membuat artikel. Dengan bekal nilai tertinggi yang dimilikinya, Agus lantas membuat sebuah artikel tentang pendidikan. Artikel yang menjadi salah satu persyaratan yang diminta panitia untuk bisa menjadi guru berprestasi terbaik tingkat provinsi.

Bermodal pengalamannya selama dua tahun menerapkan kerangka kerja ala elpsa. Agus tak membutuhkan panjang untuk menyelesaikan persyaratan ini. Keruwetan pikiran akan kegamangan sebelumnya mampu ditentangnya. Ia berusaha fokus untuk menghasilkan karya yang menjadi syarat permintaan panitia.

Dalam artikel itu, Agus tak berlari jauh dari pengalamannya yang menjadi tutor elpsa selama ini. Di mana sistem kerja elpsa ini, jelasnya, sangat tepat sasarannya. Sistem ini dilengkapi dengan sismatika. Mulai dari experience atau pengalaman, language atau bahasa, hingga bagaimana guru memancing anak berani berbicara.

Selanjutnya menjelaskan dengan menggunakan picture atau gambar. Metode ini paling tepat diterapkan di pelajaran Matematika,” jelasnya.

Bermodalkan artikel tentang pengalamannya itulah, Agus kembali meraih nilai tertinggi. Terlebih, setelah beberapa kutipan yang menggunakan bahasa Inggris harus dicetak miring, termasuk nama pengarang buku harus lengkap. ”Sistem cetak ini saya dapatkan dari tim kabupaten, dan berhasil meraih nilai tertinggi dengan jumlah 339, 5,” bebernya.

Sekelumit persayaratan itulah yang telah mengantarkan Agus meraih nilai tertinggi menjadi guru berprestasi terbaik tingkat Provinsi NTB sekarang ini. Kini, Agus harus mempersiapkan diri untuk menghadapi lomba tingkat nasional. Yang persyaratannya jauh lebih rumit dibandingkan provinsi. Di tingkat nasional, katanya, persyaratan tidak lagi menggunakan  print out tapi namun dalam bentuk pdf. Karya tulis menggunakan word yang disimpan dalam bentuk plesdisk. “Untuk persyaratan di tingkat nasional, saya sudah habiskan 6 GB dalam bentuk plesdisk,” sebutnya.

Agus juga harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan persiapan yang matang. Sebab, ketika di tingkat provinsi 120 soal harus dihabiskan dalam jangka 90 menit atau 1 soal 1 menit. Maka, di tingkat nasional 1 soal harus mampu menjawab kurang dari setengah menit.

Rangkaian semua persyaratan di tingkat nasional, sejauh ini sedang dipersiapakannya, baik dengan c banyak membaca, membuka goggle dan bertanya kepada tim kabupaten dan provinsi. Sehingga nantinya ia bisa membawa nama baik daerah di kancah nasional. ‘’Mudah-mudahan saya bisa membawa nama baik daerah dengan menjadi juara I tingkat nasional,’’ harap mantan guru SMPN 3 Praya Timur ini. (bersambung)

BACA JUGA :  Suasana Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lapas Mataram