Asesor Unesco Disambut Upacara Tradisional dan Gendang Beleq

SALAH satu situs yang dicantumkan dalam dossier, atau dokumen pengajuan Gunung Rinjani untuk dapat diakui statusnya dalam Unesco Global Geopark (UGG), yaitu situs nomor 17, Kawasan Aik Berik. Dimana didalamnya terdapat dua obyek wisata air terjun yang menjadi ikon wisata di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Air Terjun Benang Setokel dan Air Terjun Benang Kelambu.

Selama tiga hari (18 – 20 Mei 2016), dua Asesor UGG Gunung Rinjani, Maurizio Burlando (Italia) dan Soo Jae Lee (Korea Selatan), berkunjung ke Lombok untuk melakukan penilaian, hari pertama yang mereka datangi adalah situs nomor 17 tersebut, khususnya ke Air Terjun Benang Kelambu.

Ketika kedua Asesor itu tiba di Kawasan Aik Berik, tepatnya di pintu masuk kawasan Air Terjun Benang Setokel dan Air Terjun Benang Kelambu, Desa Batukliang Utara, Kecamatan Batukliang, Loteng, ternyata banyak hal yang mereka temukan, diluar catatan dalam dossier yang mereka pegang. Namun apa yang mereka temukan, dan alami itu justeru lebih memperkuat keberadaan situs nomor 17 yang hendak mereka nilai tersebut.

Hal pertama yaitu antusias masyarakat setempat dalam menyambut kedua Asesor, yang diperlakukan bak tamu kehormatan, dan memang sudah seharusnya begitu. “Tidak hanya kepada kedua  Asesor saja, tetapi terhadap seluruh wisatawan yang berkunjung ke Air Terjun Benang Setokel maupun Air Terjun Benang Kelambu, juga kami perlakukan bak tamu kehormatan,” kata Andra, salah satu tokoh pemuda setempat yang turut menyambut, Jumat lalu (18/5).

PERJUANGAN: Kepala Disbudpar NTB, HL Moh. Faozal, Wagub Loteng, Lalu Pathul Bahri, dan Camat Batukliang, turut mendampingi dua Asesor UGG berkunjung ke Kawasan Aik Berik, meskipun harus menaiki kendaraan bak terbuka.‚Äč

Gegap gempita masyarakat dalam menyambut kedua Asesor UGG Gunung Rinjani itu mulai terlihat, ketika kendaraan tim Asesor tiba di lokasi. Tepat di depan pintu gerbang, salah satu sesepuh masyarakat, dengan didampingi dua gadis cantik yang masing-masing membawa Bokor (wadah kuningan). Satu Bokor berisi beras kuning dan telur mentah. Sementara Bokor satunya lagi berisi air rendaman aneka bunga.

Berikutnya dengan iringan suara kesenian tradisional Gendang Beleq yang menggelegar, sesepuh masyarakat itupun maju ke hadapan tamu. Kemudian dengan sopannya mempersilahkan salah satu Asesor untuk menginjak telur mentah, dan detik berikutnya memercikkan air rendaman bunga kepada para tamu.

Usai itu, giliran Wakil Bupati Loteng, Lalu Pathul Bahri, yang mengalungkan selendang kain tenun khas Sasak kepada kedua Asesor, dua Observer (Prof. Ibrahim Komoo dan DR Nurhayati), serta GM Geopark Nasional Gunung Rinjani, Chaerul Machsul. Sekaligus mempersilahkan rombongan untuk masuk ke kawasan obyek wisata.

Tak hanya sambutan secara tradisional, kedua tamu ketika berada di pelataran parkir areal obyek wisata juga disuguhi dengan ketangkasan dan keterampilan para Pepadu (Pemain, red) dalam memainkan olahraga tradisional Gangsingan. Satu per satu masing-masing pemain unjuk kebolehannya melempar Gangsing dengan seutas tali.

Ketika Gangsing yang dilempar itu masih berputar diatas tanah, detik berikutnya pemain lain melempar Gangsing diatas Gangsing yang berputar itu, untuk menghentikan laju putarannya. Demikian selanjutnya, hingga masing-masing tim pemain habis melempar Gangsing, dan Gangsing yang masih berputar hingga terakhir itulah yang menjadi pemenangnya.

Ternyata bukan hanya olahraga tradisional Gangsingan saja yang dipertunjukkan kepada kedua Asesor, kemampuan para pelajar tingkat sekolah dasar (SD) dalam kesenian drum band, juga tidak mau ketinggalan menyambut kedatangan kedua penilai dari Unesco ini.

“Beginilah sambutan masyarakat terhadap para tamu (wisatawan) yang datang ke daerah kami. Dan memang sudah sepantasnya kami lakukan. Karena berkat kedatangan para wisatawan inilah, maka secara tidak langsung tingkat perekonomian warga desa kami ikut meningkat,” kata Abdul Kadir, tokoh masyarakat Desa Batukliang Utara, yang juga orang pertama (pioneer) yang mengenalkan obyek wisata Air Terjun Benang Setokel dan Air Terjun Benang Kelambu kepada wisatawan.

Menurutnya, sebelum Gunung Rinjani berstatus sebagai Geopark Nasional Gunung Rinjani, kehidupan (perekonomian) masyarakat kami dapat dibilang masih sulit. Dimana tingkat pendidikan warga baru sampai tingkat sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP) saja.

“Namun setelah menyandang status Geopark Nasional, maka otomatis obyek wisata yang ada di desa kami juga ikut diperbaiki, para pedagang dibuatkan lapak-lapak yang cukup representatif, dan para wisatawan juga mulai ramai berkunjung,” tutur Abdul Kadir. 

Akibatnya lanjut Abdul Kadir, tingkat perekonomian masyarakat juga ikut meningkat. Demikian tingkat pendidikan warga juga ikut naik, rata-rata bisa sampai sekolah menengah atas (SMA) hingga perguruan tinggi (PT). “Karena itu, dengan kedatangan dua Asesor Unesco ini kami berharap status Gunung Rinjani bisa meningkat menjadi global (UGG). Sehingga sarana dan prasarana bisa lebih baik lagi, dan para wisatawan yang datang bisa lebih banyak lagi,” harapnya.

Sedangkan Wakil Bupati Loteng, Lalu Pathul Bahri, menyampaikan harapan senada, untuk lolosnya status Gunung Rinjani bisa menyandang Unesco Global Geopark. “Dengan status global, maka dari sisi pengembangan pariwisata di Loteng, daerah utara ini tentu akan lebih berkembang. Jadi kalau di wilayah selatan ada Kawasan Mandalika Resort yang kini sedang dikembangkan oleh ITDC, maka di Utara Loteng ini juga berkembang setelah Rinjani menyandang status Unesco Global Geopark,” pungkasnya. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid