Antusiasme Masyarakat Sesait Memperingati Kemerdekaan Ri Ke-71

Perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI adalah hak seluruh warga negara Indonesia. Bukan hanya dari kalangan pejabat negara, ASN maupun pelajar, melainkan semua warga negara Indonesia, bisa memperingatinya. Itulah yang ditunjukkan warga di Desa Sesait Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara (KLU) saat memperingati Hari Kemerdekaan RI Ke-71, Rabu (17/8)

 


ZULKIFLI-TANJUNG


 

DIIKUTI sekitar 100 peserta dari kalangan lansia, bapak-bapak, ibu-ibu petani serta kalangan pemuda dan anak-anak, upacara Hari Kemerdekaan RI Ke-71 di tengah sawah Dusun Batu Jompang Desa Sesait, berlangsung penuh dengan rasa nasionalisme. Kendatipun berlangsung dengan penuh kesederhanaan, dan tidak begitu rapi prosesinya, seperti upacara bendera pada umumnya.

Upacara yang diinisiasi Barisan Nasional Pemuda Desa (Barnas-PD) Sesait ini sendiri terbilang mendadak dilaksanakan. Diumumkan di masjid sendiri pada Selasa sore (16/8), dan belum pernah ada latihan atau gladi resik sebelumnya. Lokasi upacara sendiri merupakan sawah jagung seluas kurang lebih 4 are, yang baru saja dipanen. Selasa malam, lokasi ini pun dibersihkan secara gotong-royong. Kemudian untuk tiang bendera sendiri menggunakan bambu dengan tinggi kurang lebih 8 meter, yang dipasang sekitar pukul 08.00 Wita, Rabu kemarin.

Selanjutnya peserta berasal dari perwakilan enam dusun, yaitu Batu Jompang, Kelanjuan, Sengiang, Lokok Ara, Kebaloan dan Aur Kuning. Mereka semua tampil apa adanya dengan pakaian keseharian. Ada yang sambil menggendong anak, mengunyah sirih dan ada pula yang masih memegang arit dan cangkul. Maklum saja, mereka baru pulang dari bertani dan mencari rumput untuk pakan ternak.

Tidak ada podium untuk inspektur upacara yang dalam ini menjadi inspektur yaitu Hamdan, Ketua Barnas PD. Hamdan hanya berdiri di sempadan yang di bawanya tumpukan tanaman jagung sudah dipanen. Kemudian para petugas upacara sendiri adalah para pemuda setempat. Sementara paduan suara adalah ibu-ibu.

Hasnan, tokoh masyarakat setempat yang ikut menjadi petugas upacara mengatakan, upacara yang dilaksanakan ini adalah bentuk antusias masyarakat dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI Ke-71. Sekaligus menghargai dan menghormati para pejuang. “Pelaksanaannya memang sederhana dan tidak rapi, tapi yang penting semangat nasionalisme kita,” terangnya.

Kemudian yang perlu diketahui pula kata Hasnan, masyarakat yang datang untuk ikut upacara ini, datang dengan suka cita, tanpa ada paksaan ataupun iming-iming. Mereka semua datang karena ingin ikut merayakan Hari Kemerdekaan RI Ke-71 dengan semangat nasionalisme.

Salah satu peserta upacara, Papuq Indep mengaku, kehadirannya dalam upacara ini adalah bentuk suka cita ingin melihat prosesi upacara. Sekaligus ingin mendengarkan lagu-lagu kebangsaan. Perempuan berumur lebih dari 80 tahun ini pun bercerita, bahwa dulu saat Indonesia dinyatakan merdeka 17 Agustus 1945, dirinya dan warga menyambut dengan suka cita. “Dement laeq dengah ‘Merdeka’, ‘Merdeka’,” ujarnya sembari mengangkat kepalan tangannya.

Ketua Barnas PD, Hamdan yang juga bertindak sebagai inspektur upacara mengatakan, dipilihnya lokasi di tengah sawah, dikarenakan memang tidak ada tempat khusus untuk upacara bendera. Selain memang pihaknya ingin memberikan pesan kuat kepada pemerintah daerah dan pusat, bahwa mari untuk tetap berkomitmen membangun, dengan memulainya dari desa, dari sawah-sawah petani. “Kami sebenarnya tidak percaya diri melaksanakan ini, karena belum pernah ada latihan sebelumnya, tapi ternyata antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini adalah bentuk semangat mereka dalam merayakan hari kemerdekaan,” tandasnya. (**)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid