Angka Stunting di NTB Tembus 19,02 Persen

Dr Hj Sitti Rohmi Djalila(ist)

MATARAM-Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB masih berjibaku dengan pencegahan stunting (kurang gizi kronis).

Bahkan berdasarkan pencatatan elektronik pelaporan gizi masyarakat (e-PPGBM), data stunting di NTB tembus di angka  sekitar 19,02 persen. Hal tersebut disampaikan, Wakil Gubernur NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah belum lama ini. Pemerintah Provinsi NTB terus berupaya menekan angka stunting ini salah satunya melalui program unggulan posyandu keluarga. Posyandu ini bukan hanya untuk ibu hamil dan bayi saja tetapi untuk seluruh masyarakat, termasuk remaja. Dengan dijadikannya seluruh posyandu menjadi posyandu keluarga, akan berakibat pada penurunan stunting, gizi buruk, ibu melahirkan meninggal serta angka kematian bayi menurun. “Karena masalah stunting ini kan tidak masalah pada satu sektor saja, pada satu imun saja, ditentukan juga bagaimana kesehatan remaja tersebut karena dia menjadi calon ibu, kemudian juga sangat di tunjukan oleh tingkat pendidikan masyarakat atau pengetahuan masyarakat tentang stunting,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan dari data 19,02 persen itu didapatkan dari data riil yang dikumpulkan dari seluruh puskesmas dan posyandu di NTB bukan data dari Riskesdes yang merupakan data survei. Dan data dari Riskedes akan dibandingkan dengan data e-PPGBM untuk menjadi bahan evaluasi, dan patokan untuk melihat dari kabupaten/kota mana yang angka stuntingnya tinggi agar dapat ditemukan solusi.

Dari data e-PPGBM ini, persentasi stunting tertinggi ada di Mataram. Akan tetapi jika dari segi jumlah, jumlah masyarakat NTB terbanyak ada di Lombok Timur. Otomatis jumlahnya ada di Lombok Timur. Namun secara persentasi Lombok Timur mengalami penurunan yang signifikan. “Sehingga kita harapkan betul-betul kalau terintegrasi pemerintah dari pemdes, pemkab sampai pemprov ini akan lebih detail. Kita harapkan bagaimana masyarakat NTB ini berbasis keluarga paham betul bagaimana gizi yang baik untuk keluarganya,bagaimana hidup sehat sehingga secara inisiatif akan berusaha menjaga dan kami lebih mengedepankan edukasi dari itu semua,” ujarnya.

Wagub mengatakan gempa 2018 lalu, cukup berpengaruh kepada keaktifan posyandu. Banyak masyarakat yang kehilangan rumah. Ditambah lagi dengan pandemi Covid-19, itu semua menjadi salah satu hambatan posyandu keluarga. “Meski musibah terus melanda kita, tapi kita semua harus optimis untuk tetap menjadi lebih baik,” tuturnya.

Bencana itu, Wagub harus dijadikan sebuah pelajaran. Ia meminta masyarakat untuk selalu bersabar. Namun, seluruh ikhtiar harus tetap dilaksanakan. Contohnya pada pandemi Covid-19 ini, seluruh masyarakat harus bersinergi. Tidak bisa semuanya diserahkan kepada pemerintah. “Kalau sudah kita ikhtiarkan, Insya Allah seluruh musibah yang telah melanda kita menjadikan derajat kita lebih tinggi,” tambahnya. (hms/sal)