Angka Covid-19 di Lobar Makin Mengkhawatirkan

RAZIA : Polres Lombok Barat saat melakukan razia kedisiplinan dan jam malam di wilayah hukum Polres Lombok Barat. (IST/RADAR LOMBOK)
RAZIA : Polres Lombok Barat saat melakukan razia kedisiplinan dan jam malam di wilayah hukum Polres Lombok Barat. (IST/RADAR LOMBOK)
Advertisement

GIRI MENANG-Angka warga yang terkena Covid-19 di Lombok Barat semakin mengkhawatirkan. Sebagai bentuk pencegahan, Polres Lombok Barat gencar melakukan razia.

Kapolres Lombok Barat,  AKBP Bagus S. Wibowo sebagai Ketua Tim Reaksi Cepat Penanganan Covid-19 Lombok Barat memimpin pelaksanaan sosialisasi tentang pemberlakuan jam malam dan penindakan bagi warga yang melanggar protokol kesehatan.

Kegiatan yang dilaksanakan bersama personil TNI ini dilakukan serentak di beberapa titik di wilayah hukum Polres Lobar.” Ini merupakan tindaklanjut arahan dalam hasil rapat tingkat provinsi kemarin, bahwa Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat diarahkan untuk melaksanakan pencegahan secara masif,” ungkapnya kemarin.

Pencegahan secara masif menjadi upaya menekan kembali angka penularan Covid-19 di wilayah Kabupaten Lombok Barat yang saat ini memiliki kasus terbanyak kedua di NTB setelah Kota Mataram. “Diharapkan sosialisasi dan penindakan ini memberikan dampak yang konkrit bersama-sama menghadapi Covid – 19,” ungkapnya.

Menurutnya ini juga sekaligus untuk memberi pemahaman kepada masyarakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan penularan Covid-19. “ Disosialisasikan kepada masyarakat bahwa dalam waktu dekat ini akan diberlakukan jam malam di wilayah Mataram dan Lombok Barat, dengan mengurangi aktivitas masyarakat yang berada di luar rumah dimulai jam 10 malam,” ungkapnya.

Sosialisasi dilakukan dengan mengimbau warga yang ditemui agar menaati ketentuan pemerintah.” Sebagai pengingat bersama dalam menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Saat ini tim Satgas Covid-19 Kabupaten Lombok Barat sedang gencar melakukan penindakan terhadap kedisiplinan warga. Beberapa hari lalu, Pemkab Lobar bersama dengan Polri dan TNI juga melakukan razia tingkat kedisiplinan pedagang yang ada pasar Gerung. Sekda Lobar H Baehaqi menambahkan, tindakan tegas ini dilakukan karena saat ini Lobar berada di zona merah, dimana jumlah pasien positif semakin bertambah. Data terakhir jumlah pasien positif 346  orang, jumlah pasien sembuh sebanyak 191 orang, sedangkan pasien masih positif sebanyak 133 orang, dan jumlah pasien meninggal 22 orang.”Sidak ini akan kita lakukan secara terus-menerus,” ungkap Sekda.

Apa yang dilakukan oleh tim sesuai dengan instruksi Gubernur NTB, Kapolda NTB, Danrem 162 WB, yang dilanjutkan oleh Bupati Lombok Barat, Kapolres dan Dandim. Satgas Lobar  akan dan sedang turun ke lapangan untuk mengecek kedisiplinan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan.”Turun bersama polisi dan TNI,” ungkapnya.

Dengan kondisi Lobar yang sekarang ini, tanggung jawab pencegahan Covid-19 tidak hanya ada di pemerintah, TNI dan Polri saja, melainkan semua lapisan masyarakat harus ikut berpartisipasi.

Jam Operasional Puskesmas

Jumlah pasien positif di Kabupaten Lombok Barat semakin bertambah. Dari 133 orang yang masih positif, sebagian merupakan tenaga kesehatan yang bertugas di sejumlah Puskesmas.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lobar, Ahmad Taufiq Fathoni, mengatakan, pelayanan di sejumlah Puskesmas di Lombok Barat terganggu.”Lantaran sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) yang bertugas di Puskesmas tersebut dinyatakan positif Covid-19, pelayanan kesehatan di Puskesmas terganggu,” ungkapnya.

Ada tiga Puskesmas yang  pelayanannya terganggu dan harus dilakukan perubahan jam operasional. Pelayanan di tiga Puskesmas ini terpaksa diatur karena kekurangan Nakes sehingga tidak bisa melayani pasien 24 jam.”Pelayanan di tiga Puskesmas antara lain Kuripan, dibatasi karena disesuaikan dengan tenaga Nakes yang ada,” ungkap Fatoni.

Puskesmas lain yang melakukan pembatasan pelayanan adalah Puskesmas Meninting dan Puskesmas Gerung. “Puskesmas yang cukup dengan jumlah tenaga Nakesnya bisa membuka pelayanan 24 jam, namun mengurangi kegiatan-kegiatan di luar gedung, misalnya turun Posyandu, atau kegiatan sosialisasi lainnya,” imbuhnya.

Bagi Puskesmas yang tenaganya kurang maka jam pelayanan diatur disesuaikan dengan jumlah tenaga. Sejauh ini jelas dia, tidak ada Puskesmas yang ditutup karena masih ada tenaga cadangan untuk mengoperasikan pelayanan Puskesmas tersebut.

Pelayanan puskesmas ini akan kembali normal menunggu Nakes yang selesai swab kembali bertugas. Namun kalau hasil swab negatif mereka bisa masuk lagi, sebaliknya kalau swab positif maka mereka harus menjalani penanganan. 

Kepala Puskesmas Kuripan M. Husni menjelaskan, memang ada enam pegawai Puskesmas Kuripan yang positif Corona.” Iya dari 6 orang yang terpapar covid ( tiga bidan dan tiga perawat ) hingga saat ini yang sudah pulih 3 orang ( 2 perawat dan 1 bidan ),” jelasnya.

Dengan adanya enam pegawai yang masih positif, pelayananan masih tetap normal berjalan seperti biasa.”Insya Allah pelayanan tetap berjalan sebagaimana biasa,” ungkapnya.

Ia berharap setelah ini tidak ada lagi yang terpapar, dengan menerapkan pengetatan APD, disinfektan sebelum dan sesudah pelayanan, peningkatan imunitas dan tentunya harapan pihak Puskesmas agar pengunjung yang datang memberikan jawaban yang jujur kepada petugas.”Kami juga meminta agar jangan membawa anak kecil bila tidak ada masalah,” imbuhnya.(ami)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid