Anggota DPR RI Sorot Kinerja ITDC di KEK Mandalika

Kapoksi PAN Komisi VI DPR-RI Abdul Hakim Bafagih (buju hitam) saat menyampaikan sorotannya atas kinerja ITDC di Mataram, Selasa (20/10/202).(Faisal Haris/radarlombok.co.id)

MATARAM– Anggota komisi VI DPR RI, Abdul Hakim Bafagih menyampaikan kritikan terhadap perkembangan pembangunan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dalam menghadapi event balap motor internasional MotoGP 2021.

Dia melihat sejauh ini progres-nya belum memuaskan. Pembangunan yang dilakukan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC) belum ada kemajuan berarti.

Hakim turun langsung melihat progres pembangunan KEK Mandalika khususnya pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika.
Berdasarkan pengamatannya selama berkunjung, Hakim menilai progress pembangunan sirkuit dan aspek-aspek penunjangnnya lainnya masih minim dan masih jauh dari apa yang diharapkan. “Ada beberapa poin yang saya tanyakan kepada ITDC yaitu pertama kesiapan hotel bagi para tamu undangan yang akan menonton ajang pergelaran ini,”katanya saat jumpa pers Selasa (20/10/2020).

Hakim mengutip pernyataan Direktur Utama ITDC, AbdulBar M. Mansur pada tahun 2019 lalu, bahwa target kunjungan wisatawan pada saat pergelaran MotoGP minimal 300 ribu orang. Tapi jika dilihat dari kesiapan hingga saat ini, masih jauh dari kemampuan untuk menampung jumlah pengunjung sebanyak itu. “Kalau kita lihat dari kesiapan kamar hotel hingga saat ini jika kita lihat dari data Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) baru sekitar 20 ribu kamar. Tentunya ini menjadi PR (pekerjaan rumah),”terangnya.

Selain menyoroti permasalahan kamar hotel, Hakim yang merupakan Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PAN Komisi VI DPR-RI juga melihat minimnya progress pembangunan Pullman Hotel milik ITDC. Ia menilai, pembangunan Pullman Hotel ini sangat lambat. Padahal, peletakan batu pertama nya telah dimulai pada tahun 2016 dengan anggaran Rp 658 miliar. “Namun hingga saat ini pembangunannya belum juga selesai,”sentilnya.

Selain Pullman, Hakim juga menyoroti soal pembangunan hotel lainnya yang sudah dikerjasamakan oleh ITDC dengan penandatangan LUDA pada 2016, 2017 dan 2018, seperti Royal Tulip, Paramount, Golden Tulip, Marriot, Aloft Hotel, Mandalika Beach Club, Marta Hotel, Grand Aston, Cocomart dan laza Hotel. Namun tidak ada yang selesai, hanya pembangunan SPBU dan Sea Water Reverse Osmosi SWRO (untuk Air) saja yang sesuai dengan perencanaan. Untuk itu ia mempertanyakan bagaimana peran ITDC selama ini dalam menuntaskan hal dan permasalah penunjang KEK Mandalika.

Tidak hanya itu, lanjutnya, terkait persoalan serapan tenaga kerja yang sangat minim ikut disoroti. Apalagi ketika dicek website kek.go.id  bahwa target di KEK hingga 2025 bisa menyerap hingga 587 ribu orang tenaga kerja. “Baik yang di ITDC-nya, maupun yang secara tidak langsung. Akan tetap berdasarkan data yang disampaikan pada saat presentasi Dirut ITDC kemarin (Senin,red) baru dikisaran 1400 orang. Lalu seperti apa langkahnya selama ini ITDC?,”tanyanya soal serapan tenaga kerja.

Selanjutnya, terkait terget penyerapan untuk pendapatan, menurut Hakim sesuai yang diproyeksi sampai 2025 nanti sebanyak Rp 40 trilun. Namun Hakim melihat langkah-langkah ITDC untuk bisa meraih pendapatan sebesar itu. Hakim menunjuk hotel Novotel yang berdiri sebelum Mandalika ditetapkan sebagai KEK. Begitu juga Fundex yang sudah berdiri saat ini, itukan juga punya ITDC. Bukan dari investor murni. “Kemungkinan dampaknya terkait dengan investasi yang masuk, kita sama-sama tahu sejauh ini yang menyatakan ingin berinvestasi sudah banyak. Ada beberapa perusahaan, akan tetapi realisasinya sangat minim,”ujarnya.

Hakim juga menyoroti soal koordinasi ITDC dengan Pemprov NTB yang masih kurang maksimal. Gubernur NTB telah menyampaikan terbentuknya 5 ribu UMKM di Provinsi NTB. ITDC diharapkan mampu menyerap dan memberdayakan UMKM ini. “Ini penting untuk dikomunikasikan dan dikoordinasi oleh ITDC agar bisa mengakomodir UMKM di NTB agar bisa ikut terlibat mendapatkan manfaat dari gelaran MotoGP ini,”katanya.

Selain itu juga, dari sisi promosi gelaran MotoGP hingga saat ini masih kurang. Bahkan, sejak tiba di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) hingga menuju hotel belum melihat promosi yang dilakukan terkait gelaran MotoGP. “Saya melihat terkait dengan promosinya masih kurang. Karena saya dari airport menuju hotel, dari hotel menuju kesini itu yang belum kelihatan terkait dengan promosi MotoGP di Lombok ini, itu belum kelihatan,”katanya.

Pihak ITDC katanya, telah menyampaikan, tetap akan meningkatkan promosi ketika proses konstruksi pembangunan telah selesai. Namun Hakim menilai, itu menjadi masalah, ketika harus menunggu semua selesai baru dilakukan promosi. “Kalau memang seperti itu, disini kelihatan kalau operator atau penyelenggaranya itu belum yakin bahwa konstruksi bisa selesai tepat waktu. Tapi kalau mereka yakin sambil mempersiapkan konstruksi, promosi itu sudah mulai dibangun. Jadi masih banyak PR yang harus diselesaikan ITDC. Saya khawatir, betul-betul khawatir terkait dengan penyelenggaraan MotoGP di Mandalika,”sambungnya.
Hakim mewanti-wanti jangan sampai Mandalika sudah ditetapkan sebagai KEK yang menghabiskan anggaran yang digelontorkan begitu besar, akan tetapi tidak bisa berjalan dengan. Serta tidak bisa menyerap tenaga kerja yang lebih besar dan tidak bisa mendapatkan pendapatan sesuai yang diinginkan. “Dan jangan sampai putera daerah atau potensi-potensi daerah tidak bisa dimaksimalkan,”katanya.

Pemprov NTB diminta pro aktif dan tidak terkesan adem ayem menyikapi segala permasalahan dari sisi aspek pendukung KEK Mandalika ini. Sebelum ajang ini digelar dan dikenalkan ke dunia, informasi dan sosialisasi bisa dilakukan dengan masif.
Lalu Pemprov juga membuat sarana pendukung seperti mengumpulkan element masyarakat agar terlibat di MotoGp ini, sehingga semua merasa memiliki. ” Pra event ini bisa memperkuat branding Lombok Sumbawa di mata dunia,” sarannya. (sal)