Andy Klaim Untung Besar Jual Saham

Andy Hadianto (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Direktur Utama PT Daerah Maju Bersaing (DMB), Andy Hadianto menegaskan bahwa penjualan saham 6 persen telah dituntaskan dengan keuntungan besar bagi PT DMB. Keuntungan tersebut dinilai dari modal nol rupiah kini telah menjadi ratusan miliar.

Disampaikan, proses closing penjualan saham telah tuntas. Bulan ini akan diikuti dengan pembayaran ke PT Multi Daerah Maju Bersaing (MDB) oleh PT Amman Mineral Internasional (AMI). “Dari kita tidak punya apa-apa, sekarang kita banyak untung,” ucapnya kepada Radar Lombok, Kamis kemarin (10/11).

Menurut Andy, PT DMB mampu memiliki saham di Newmont karena mendapat dana hibah dari PT Multi Capital (MC) sebesar Rp 625 juta. Uang tersebut kemudian diinvestasikan sehingga ada 6 persen saham di Newmont atau 25 persen dari 24 persen saham yang dimiliki PT Multi Daerah Bersaing (MDB), yang merupakan gabungan dari PT DMB dan PT MC.

Dikatakan,sepeserpun uang daerah tidak ada dikeluarkan dalam upaya kepemilikan saham. Namun, kini dari tidak ada itu telah berubah menjadi sangat menguntungkan. Nilai kekayaan PT DMB pada tahun 2015 saja sudah mencapai Rp 400 miliar. “Bayangkan, tahun lalu nilainya sekitar Rp 400 miliar, sekarang pasti makin naik,” ujarnya bangga.

Untuk 24 persen saham PT MDB yang dijual ke AMI dihargakan 400 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 4 triliun. Kemudian uang Rp 4 triliun tersebut, sebesar 25 persen atau sekitar Rp 1 triliun menjadi hak PT DMB. Selanjutnya PT DMB akan membagi lagi ke pemprov sebesar 40 persen, Pemkab Sumbawa Barat 40 persen dan Pemkab Sumbawa 20 persen. “Ini penjualan rugi sebenarnya, tapi kita tidak mau ikut rugi,” kata Andy.

PT DMB sendiri akan selalu mendapat keuntungan. Misalnya dalam hal penjualan saham, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pendirian PT DMB, diamanahkan bahwa sebesar 10 persen dari pendapatan yang dimiliki menjadi hak PT DMB. Baik itu dari hasil penjualan saham maupun dividen.

Jumlah dividen yang akan diterima PT DMB dari PT MDB sebesar 18 juta dolar Amerika atau setara dengan Rp 234 miliar. Berdasarkan aturan, jumlah deviden yang sebesar Rp 234 miliar tersebut akan dipotong pajak. Kemudian 10 persen untuk PT DMB, sisanya dibagi ke Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi NTB 40 persen, Pemkab Sumbawa Barat 40 persen dan Pemkab Sumbawa 20 persen.

Secara hitungan kotor, 10 persen yang akan didapatkan dan dikelola oleh PT DMB setara dengan Rp 23,4 miliar. Selanjutnya sisa Rp 210,6 miliar (hitungan kasar – red) disetor ke Pemprov Rp 84,24 miliar, Rp 84,24 miliar untuk Pemkab Sumbawa Barat dan Rp 42,12 miliar untuk Kabupaten Sumbawa. “Makanya November ini insya Allah kita sudah terima uangnya,” ucapnya.

Setelah uang diterima, pada bulan Desember mendatang akan dilaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS tersebut akan memutuskan juga kegunaan uang yang dimiliki PT DMB. “Yang hebat juga kan kita dapat jabatan komisaris dan dijadikan mitra kerja PT AMNT,” ungkapnya.

Sebagai mitra kerja  PT AMNT, pengganti nama PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), PT DMB akan mendapat proyek setiap tahun dengan nilai Rp 300 miliar sampai Rp 1 triliun. Tidak hanya itu, NTB memiliki jatah posisi strategis sebagai komisaris independen di Newmont. “Kita untung besar pokoknya, dalam setahun saja misalnya kita dapat proyek Rp 300 miliar, untung kita mencapai Rp 20 miliar kalau 10 persen,” terang Andy.

Wakil Ketua Fraksi PDI-P DPRD Provinsi NTB, Made Slamet meminta agar Andy Hadianto diganti. Pasalnya, kinerjanya selama ini sangat tidak baik dan masa jabatan dirut juga sebenarnya telah habis.

Menurut Made, PT DMB dibawah komando Andy Hadianto tidak memberikan prestasi yang memuaskan. Malah sebaliknya, banyak pihak yang kecewa dengan kepemimpinannya.

Kedepan lanjut Made, PT DMB akan menjadi sub kontraktor PT AMNT. Apalagi nilai proyek yang bisa didapatkan setiap tahun sekitar Rp 300 miliar sampai Rp 1 triliun, jika merujuk isi perjanjian jual beli saham. “Sah-sah saja kalau Pak Andy menjabat lagi, tapi masalahnya kan ini BUMD yang jelas ada mekanismenya. Putuskan dong melalui RUPS, kalau memang Pak Andy tetap jadi Dirut, jangan tidak jelas begini,” katanya.

Dikatakan, masih banyak putra daerah yang lebih profesional dan diyakini lebih mampu memimpin PT DMB dibandingkan Andy Hadianto. Mengingat, selama menjabat dirut, Andy telah menunjukkan kinerja buruk yang setiap tahun mendapat kritikan.  Misalnya saja tentang deviden yang beberapa tahun terakhir tidak pernah dibayar oleh PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Andy hanya menunggu saja dan tidak pernah melakukan komunikasi-komunikasi intensif ataupun terobosan untuk menagih deviden yang memang menjadi hak daerah. “Kalau jadi dirut seperti dia, ibu saya saja bisa. Anak TK juga bisa kalau sekedar menunggu,” ketus Made.

Salah satu bukti lain perlunya Andy Hadianto diganti, dilihat dari manajemen yang diterapkan dalam PT DMB. Tidak perlu orang pintar untuk memberikan analisis, pasalnya papan nama perusahaan saja tidak ada di kantornya. “Silahkan nilai sendiri. Ini BUMD yang kelola dana ratusan miliar, tapi alamatnya saja tidak jelas. Mau dibawa kemana BUMD kita, mending ini perusahaan pribadinya Andy, saya tidak akan peduli,” kesalnya.

Karena itu, Made kembali mengingatkan Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi selaku pemegang saham mayoritas agar segera mengganti Andy Hadianto. “Masa jabatannya sudah habis dan terbukti tidak bisa menerapkan manajemen yang baik. Tolonglah Pak Gubernur ganti dia. Banyak yang lebih bisa dan serius untuk memajukan daerah,” tandas Made. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid