Andrew Friend, Bule Amerika Penulis Kamus Bahasa Sasak-Indonesia-Inggris

TUNJUKAN: Andrew Friend warga asal Amerikat Serikat saat menunjukkan kamus bahasa Sasak edisi kedua hasil Karyanya belum lama ini. (Faisal Hasil Haris/radar Lombok)

Masyarakat Lombok patut dengan bersyukur dengan kehadiran Andrew Friend di tengah-tengah mereka. Bagaimana tidak, bule asal Amerika ini berhasil menciptakan kamus Sasak-Indonesia-Inggris. Tentu saja salah satu tujuan Andrew Friend adalah untuk melestarikan bahasa Sasak.


FAISAL HARIS-MATARAM


JARUM jam tepat menunjukkan pukul 09.00 Wita saat Radar Lombok berkujung ke Bale Kreatif di jalan Adi Sucipto,  Ampenan, Kota Mataram, Sabtu (21/3). Bale Kreatif adalah tempat Andrew Friend beraktivitas sehari-hari.

Saat Koran ini tiba, Andrew sedang sarapan nasi kuning di warung pedagang kaki lima (PKL) dengan kantornya. Kebiasaan makan di warung sudah dilakoni Andrew sejak lama. Ia tinggal di Lombok sejak tahun 2005 silam.

Bahasa sasaknya pun sudah fasih. Pun demikian dengan perilaku Andrew, hampir menyerupai masyarakat Sasak pada umumnya. Tak heran, Andrew langsung menawarkan saparan begitu Koran ini nongol di hadapannya. “Mas Faisal ya?,” tanya bule itu. “Silak nyampah juluk! (ayo sarapan dulu!),” Andrew menawarkan dengan bahasa Sasak.

Mengetahui kehadiran Koran ini, Andrew meminta waktu sejurus untuk menandaskan makanannya. “Antih juluk seberak (tunggu dulu), saya habiskan nasi,”.

Baru setelah itu ia membagi pengalamannya merangkum kamus bahasa Sasak-Indonesia-Inggris yang sudah berhasil diterbitkan beberapa tahun lalu. Andrew mengajak Koran ini masuk ke kantornya dan memperlihatkan kamus hasil karyanya. “Ini karya saya,” tunjuknya.

Kamus itu tepatnya berjudul Dictionary “Kamus Sasak Lauq-Indonesia-Inggris”. Andrew terbesit hatinya mencipatakan kamus itu atas permintaan temannya Jason Kelly yang terlebih dahulu menciptakan karya kamus bahasa Sasak dengan judul Kamus Sasak-Indonesia-English Dictionary.

Namun bedanya, Andrew menciptakan kamus baru dengan fokus kepada bahasa keseharian masyarakat Sasak bagian selatan. Beda halnya dengan Jason Kelly menciptakan kamus Sasak dengan mengungkap bahasa keseharaian masyarakat tanpa mengikuti dileknya. Atau lebih fokus yang seharian digunakan masyarakat Kota Mataram sebagai bahasa Sasak campuran atau umumnya. “Jadi ada dua kamus (Bahasa Sasak). Satu yang ditulis Pak Jason Kelly dan satu yang saya punya. Tapi sebenar bukan ide saya. Tapi ini punya Pak Jason Kelly yang punya ide dulu yang ingin belajar bahasa Sasak, dia buatlah kamus,” tuturnya.

Atas permintaan Jason Kelly, Andrew lalu memulai memulai menggumpulkan dan mengali informasi sebanyak-banyaknya bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat di bagian selatan Lombok yang memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa suku sasak lainnya di Lombok. Pasalnya logat dan dialek bahasa Sasak setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Ada bahasa sasak halus dan ada yang menggunakan bahasa keseharian yang sering digunakan masyarakat pada umumnya di Lombok. Maka dalam karya yang dibuat Andrew menggunakan bahasa keseharian yang digunakan masyarakat suku sasak pada umumnya. Tapi lebih difokuskan bahasa Sasak yang digunakan masyarakat yang ada dibagian selatan pulau Lombok.

Untuk itu, Andrew menyangkupi untuk membuat kamus dengan melanjutkan hasil karya Jason Kelly. “Aok menu aneh unin ko kene (Ya sudah saya bilang). Baun masih (bisa juga). Dan saat itu kebetulan saya tinggal di Selong Belanak,” tuturnya saat menyanggupi permintaan Jason Kelly.

Dari sana, Andrew mulai mencari sumber sambil duduk-duduk serta melihat kamus-kamus sebagai referensi. Tidak sampai setahun ia mampu menghasilkan karya yang dapat digunakan bagi orang yang ingin belajar bahasa suku Sasak. Meski dalam menggumpulkan kosa kata tidak didamping oleh orang Sasak. Namun Andrew bisa mengumpulkan kata demi kata paling tidak satu tahun per edisi. “Dalam waktu setahun mauq pinak (bisa buat) kamus ini,” ucap Andrew.

Ia memulai pada saat itu pada rentan waktu sekitar 2015-2016. Selama proses Andrew, mengakui tidak hambatan maupun kendala yang dihadapi. Karena menurutnya sepanjang ada kemauan tentu bisa dimulai dari mana saja kalau dalam menciptakan karya. “Kalau itu sebenarnya tergatung dari kemauan saja,” kata pria yang dibesarkan di ladang perkebunan jagung Illinois, Amerika Serikat ini.

Karena pada saat memulai menggumpulkan kata per kata, saat itu diawali dengan kata yang sering diucapkan oleh masyarakat setempat. Kemudia ia menanyakan apa arti dalam bahasa Indonesia. “Karena kita harus menentukan akan memulai dari mana dulu. Jadi tinggal kita kumpulkan, mulai dari kata benda itu benda ini. Dari sana akan berkelanjutan,” ucapnya.

Meski ia sadari terkadang dalam menentukan narasumbar yang mampu diarahkan saat menentukan kosa kata itu memiliki tantangan tersendiri. Apalagi narasumbar dari sisi pendidikan tidak terlalu tinggi.  “Terkadang juga dari bahasa Sasak ke bahasa Indonesia susah karena narasumber pendidikannya tidak terlalu tinggi. Jadi dia tidak tahu bahasa Indonesia yang baik dan benar, jadi saya juga sambil memperbaiki bahasa Indonesia-nya. Tapi yang terpenting kalau kita punya kemauan tidak terlalu susah menurut saya,” sambungnya.

Saat ditanya soal kenapa memilih membuat kamus bahasa Sasak, Andrew dengan sample menjawab karena saat in ia tinggal di Lombok. “Ite kan mendot olek te (saya tinggal di sini, Lombok), kalau saya tinggal di daerah lain atau di Bima saya mungkin buat bahasa Bima. Karena tidak ada pengaruh kalau kita mau berkarya di mana-mana bisa kita buat,” jawabnya.

Meski begitu ia sadari juga, karena sudah lama tinggal di Lombok sambil belajar bahasa Sasak. Maka punya keinginan untuk bisa menciptakan sesuatu, apalagi tidak ada kamus  kamus yang efektif digunakan oleh orang Lombok atau sama orang asing atau bule dan orang luar yang datang ke Lombok ketika ingin belajar bahasa Sasak. “Karena belum ada, karena ini masih kosong, jadi kita buat (kamus bahasa Sasak) supaya juga untuk melestarikan dan mengangkat bahasa orang di sini (Lombok). Meskipun banyak yang beda-beda tapi kita coba menyatukan sedikit,” ucapnya.

Karena kamus yang dibuat dengan kamus yang dibuat oleh temannya Jason Kelly ada perbedaan dari segi bahasa. Walaupun pada prinsipnya sama bahasa sasak tapi kalau bahasa dalam kamus Jason Kelly menggunakan bahasa sasak masyarakat suku sasak yang tinggal di kota Mataram. “Maksudnya, kalau kamus Pak Jason Kelly bahasa sasak yang di Mataram. Tapi yang saya bikin khusus bahasa sasak meriaq meriku (Lombok bagian selatan), meski ada campuran-campura bahasa-bahasa Lombok yang lain sedikit-sedikit,” terangnya.

Dikatakan Andrew hingga saat ini sudah dua buah kamus yang sudah berhasil diterbitkan. Edisi pertama terdiri dari 1.000 kosa kata dan edisi kedua 1.200 kosa kata. “Kalau yang sekarang sekitar 1.200 kosa kata. Tapi kalau kamus pak punya Pak Jason Kelly sekitar 5000 lebih kosa kata. Jadi lebih lengkap,” terangnya.

Apa yang sudah diciptakan ini, katanya agar dapat digunakan di samping untuk belajar bahasa Sasak, juga dapat digunakan untuk memahami budaya Lombok. “Ya tentu apa yang sudah kita buat ini, dapat dipakai, bisa membantu orang paham budaya yang ada di Lombok,” tutup Andrew seraya minta maaf tidak bisa lama-lama karena ada kegiatan ke Lombok Tengah. (**)