Amira Zanzabila Balita Penderita Kerusakan Hati

Amira Zanzabila Balita Penderita Kerusakan Hati
BERI BANTUAN: Ketua Pemuda Pancasila Kota Mataram H Bambang Muntoyo memberi bantuan kepada balita Amira Zanzabila Islami yang menderita penyakit kerusakan hati, Jumat (1/11).( IST/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG – Kondisi Amira  Zanzabila Islami, balita berusia 11 bulan asal Dusun Karang Bucu Desa Bagek Polak Kecamatan Labuapi  yang divonis mengidap penyakit berat kondisinya semakin memperihatinkan. Jum’at (1/11) kemarin, Ketua Pemuda Pancasila Kota Mataram H Bambang Muntoyo melihat dari kondisi Amira di kediamannya. Ia datang membawakan bantuan berupa uang tunai untuk diberikan sebagai bantuan pengobatan kepada Amira.

 Kami datang untuk berbagi kepada adik Amira,” ungkap H Bambang Muntoyo, yang juga Ketua Gapeksindo NTB ini.

Melihat kondisi Amira sekarang ini, Ketua Gapeksindo Provinsi NTB ini mendorong agar Pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun Kabupaten Lombok Barat harus turun tangan membantu balita Amira. Karena ia  membutuhkan biaya besar untuk biaya pengobatan.

” Orang tua bayi ini tidak mampu, tadi saya lihat bayi ini matanya sudah mulai berwarna kuning,” ungkapnya.

Selain datang memberikan bantuan, pihaknya juga akan berusaha untuk   memfasilitasi mencarikan bantuan dan donasi kepada para dermawan. Aksi yang dilakukan  ini sebagai bentuk sosial dan prihatin dengan derita Amira. Setelah dirinya mendapat informasi dari media sosial dan langsung turun untuk memberikan bantuan dari secara pribadi. Bambang berharap Pemda Lobar dan pemprov serta pihak lainya bergandengan tangan untuk membantu anak yang sakit apalagi dari kluarga miskin.

Anak dari pasangan Rizki Noviani (21) dan M. Izul Islam (19) yang tergolong keluarga miskin ini didiagnosa mengidap penyakit kerusakan hati atau Atresia Belier. Noviani ibu dari Amira menuturkan, Amira bersama saudara kembarnya Rizki Salsanbila Amara lahir dengan cara operasi sesar, Saat dilahirkan kondisinya normal dan sehat. Namun keanehan terlihat pada Amira disaat usia dua minggu, ada perubahan pada tubuhnya. Namun dirinya tidak mengetahui apa yang dialami anaknya tersebut, dalam kondisi yang cemas. Warga sekitar menyarankan agar, Amira dijemur dibawah terik matahari pagi, karena mereka (warga) beranggapan, kondisi Amira akibat efek dari lahir kembar.

“Awalnya kondisi kesehatan anaknya normal,” ujarnya.

Namun saat diusia 5 bulan, perut Amira membesar sehingga ia dan suaminya memutuskan membawa anaknya itu ke petugas medis di desa setempat. Setelah beberapa lama, ia pun kembali membawa anaknya ke dokter spesialis.

“Setelah diperiksa oleh dokter, anak saya divonis terkena penyakit kerusakan hati, dan menyarankan agar dibawa langsung ke Bali,” tuturnya. (ami)