Ali BD Masih Percaya Ada ‘‘Datu’’ Jadi Pembantu

Ali Sakti
TAUSIYAH: Calon Gubernur NTB Ali BD bersalaman dengan jamaah Ponpes Darunnajah Desa Sepakek Kecamatan Pringgarata. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Calon Gubernur NTB 2018-2023 HM Ali Bin Dachlan (Ali BD) melanjutkan kampanyenya dengan mengunjungi Ponpes Darunnajah Desa Sepakek Kecamatan Pringgarata, Senin kemarin (26/3).

Dalam kesempatan itu, Ali BD sekaligus diundang menghadiri hari ulang tahun (Haul) II Yayasan Ponpes Darunnajah. Acara itu juga dikemas dengan peringatan mengenang 100 hari wafatnya pendiri ponpes Darunnajah, Ir H Lalu Muhammad Zaki MM. Dalam kesempatan itu juga, calon gubernur yang berpasangan dengan TGH Lalu Gede Muhammad Wirasakti Amir Murni (Ali-Sakti) itu juga memberikan tausiyah kepada masyarakat yang hadir.

Ali BD menegaskan, seorang pemimpin harus bisa menjadi pelayan dan pelindung masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan peribadi sehingga membuat rakyatnya menjadi menderita. Pemimpin memang sangat sulit karena pemimpin yang sejatinya harus rela berkorban demi kemaslahatan umat. Jika saja ada yang mau menjadi pemimpin karena mementingkan diri sendiri, maka negara ini akan hancur. “Pemimpin adalah pelayan masyarakat dan dia harus menjadi datu yang harus menjadi pembantu dan pelayan,” tegas Ali BD dalam orasi politiknya.

Dijelaskanya, para pemimpin terdahulu banyak yang menjabat hingga 30 tahun lamanya dan tidak ada permasalahan. Karena memang mereka murni dengan ikhlas menjadi pelayan masyarakat. Mereka tidak mau dimanjakan oleh masyarakatnya sendiri dan selalu bersama masyarakatnya. “Kendati saat ini pemimpin yang seperti itu sudah jarang, namun saya percaya bahwa masih ada yang seperti itu. Yang menjadi pemimpin tidak gila jabatan,” cetusnya.

Ali BD meneruskan, majunya dirinya bersama Gede Sakti bukan karena keinginanya semata. Melainkan dicalonkan rakyat dan tanpa menggunakan partai. Jadi, kalaupun ada masyarakat yang tidak memilihnya juga maka itu tidak menjadi persoalan. Karena hak masyarakat tidak boleh dilarang. “Saya tidak kampanye dan saya tidak mau kalau kampanye ini memberikan uang. Orang banyak kampanye sampai luar daerah tapi saya tidak mau kampanye,” bebernya.

Dalam kesempatan itu juga, Ali BD juga menyinggung soal kurang pasnya sebutan yang disematkan untuk Lombok sebagai pulau seribu masjid. Karena masjid di Lombok sudah mencapai jutaan. “Jadi Lombok ini pula sejuta masjid karena di Lombok Timur saja jumlahnya 700-an. Belum lagi di daerah selain Lombok Timur,” urainya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Lombok Timur nonaktif ini juga mengimbau masyarakat untuk terus menjaga keamanan dan kenyamanan menjelang pilkada ini. Jangan sampai karena perbedaan politik membuat antarkeluarga menjadi terpecah. Ia menegaskan untuk tetap menjaga tali silaturrahmi meskipun berbeda. “Kalau saya tidak dipilih tidak apa-apa karena yang terpenting masyarakat tetap aman. Kita di Sasak orang yang sangat luar biasa karena berbeda bahasa dan budaya namun dipersatukan dengan agama,” tandasnya.

Pimpinan Yayasan Ponpes Darunnujah Desa Sepakek Kecamatan Pringgarata H Muhammad Nasir mengaku, sosok Ali BD merupakan sosok pemimpin yang merakyat. Bahkan saking cintanya kepada rakyat itulah sehingga masyarakat langsung yang mencalonkanya menjadi gubernur. “Beliau orang yang hebat dalam memimpin. Terbukti di era kepemimpinan di Lombok Timur kantor bupatinya megah dan masyarakat sangat mencintainya. Sangat wajar ketika beliau memimpin NTB, agar pembangunan yang sudah dilakukan bisa dirasakan juga bagi semua masyarakat NTB,” katanya. (tim)