Al-Aziziyah: Tak Ada Indikasi Penganiayaan Selama Pemeriksaan

KONFERENSI PERS: Sejumlah kuasa hukum Ponpes Al-Aziziyah melakukan konferensi pers terkait dugaan penganiayaan Nurul Izzati, santriwati setempat. (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Aziziyah Gunungsari, Lombok Barat mengklaim bahwa tidak ada indikasi kuat dugaan tindak pidana kekerasan atau penganiayaan yang menimpa santriwati bernama Nurul Izzati (13), santri setempat yang kini meninggal dunia.

Klaimnya itu berdasarkan hasil pemeriksaan sementara terhadap 14 saksi dari ponpes yang telah dimintai keterangan di penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Mataram. “Belum ada terkait indikasi kekerasan terhadap anak selama proses pemeriksaan yang sedang berlangsung di Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram,” terang kuasa hukum Ponpes Al-Aziziyah Michael Ansori, Selasa (9/7).

Alasan lainnya menguatkan tidak ada kekerasan yang terjadi, berdasarkan keterangan yang dihimpun dari santriwati dan pengurus ponpes lainnya. Bahwa tidak pernah terjadi aksi yang menimbulkan adanya santriwati ponpes sakit.

“Kalau terjadi kegaduhan atau sakit parah, pasti diketahui pengurus asrama dan santriwati lainnya. Dan dari keterangan yang disampikan (santriwati dan pengurus), tidak ada tindakan kekerasan, seperti pemukulan dan lainnya,” katanya.

Sisi lain, ia tidak memungkiri bahwa Nurul Izzati mengalami sakit pada 12 Juni lalu. Mengenai sakitnya itu, pihak ponpes memberikan pengobatan. Begitu juga pada 13 Juni, ketika Nurul Izzati demam, pihak ponpes memberikan NI obat, sesuai resep dokter.

“Pada tanggal 14 Juni, ponpes mengonfirmasi ke walinya bahwa santriwati inisial NI ini dalam keadaan sakit. Dan pada 22 Juni itu kami mendapatkan informasi bahwa kondisi santriwati kita dalam keadaan sakit di RSUD dr. Raden Soedjono Selong, Lotim,” sebutnya.

Baca Juga :  Baok Curi Motor Pacar Modus Gandakan Kunci

Ketika mendapatkan informasi itu, lanjutnya, perwakilan ponpes berinisiatif dan menjenguk Nurul Izzati di rumah sakit, serta mendoakan Nurul Izzati agar cepat pulih. “Pada Sabtu (29/6) kami dapat informasi kalau santriwati kami ini meninggal dunia,” katanya.

Kasus ini tengah ditangani Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram. Sebanyak 14 saksi dari kalangan ponpes Al-Aziziyah telah diperiksa. Baik itu dari santriwati dan pengurus. Terhadap proses hukum yang berjalan itu, didukung penuh pihak ponpes.

“Kami tidak menghalangi proses penyidikan. Malah kami sangat mengapresiasi. Kami berkomitmen dan kooperatif untuk melakukan pendampingan ke santriwati dan pengurus lainnya saat diperiksa,” ungkap dia.

Senada disampaikan Herman Surenggana, kuasa hukum Ponpes Al-Aziziyah lainnya. Pihaknya mengaku membuka diri terkait proses hukum yang masih berjalan. “Komitmen dari ponpes, ingin proses ini berjalan baik, sampai membuka misteri apa penyebab santriwati sakit, hingga meninggal. Semua sangat berkepentingan untuk ini. Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk pihak berkepentingan, suatu komitmen kita untuk mencari dan mengawal proses ini,” katanya.

Baca Juga :  Dipenjara 10 Tahun, JP Kembali Jual Sabu

Dalam pemeriksaan santriwati nanti, Ponpes Al-Aziziyah sudah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram. Dan, sudah menjadi komitmen untuk mengawal proses kasus yang masih ditangani kepolisian.

“Pada proses hukum yang dijalankan hari ini, kita sama-sama berkomitmen proses hukum dijalankan dengan adil untuk membuka tabir penyebab sakit dan meninggalnya santriwati kita itu. LPA akan mendampingi langsung proses pengambilan keterangan (santriwati),” ujarnya.

Ponpes Al-Aziziyah melibatkan LPA Kota Mataram dalam pendampingan, dengan tujuan proses hukum yang adil. Lantaran santriwati yang bakal diperiksa tersebut masih di bawah umur.

Terpisah, Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama yang dikonfirmasi terkait klaim pihak ponpes yang menyebut tidak ada indikasi kekerasan dari hasil pemeriksaan sementara tersebut, sah-sah saja. “Itu sah-sah saja. Kalau kami belum berani menyimpulkan. Proses pemeriksaan masih berjalan,” katanya.

Begitu juga dengan pendampingan saksi yang akan dilakukan LPA Kota Mataram terhadap para santriwati yang bakal diperiksa. Yogi menilai hal itu wajar. “Terkait ada pendampingan LPA terhadap saksi usia anak dari pihak ponpes, itu sah-sah saja, malah itu menunjukkan sikap profesional kami dalam proses pemeriksaan bahwa hak-hak saksi, termasuk menjaga psikologi anak itu penting,” tandas Yogi. (sid)

Komentar Anda