Aktivitas Nelayan Lumpuh, Dishublutkan Cuek

NGANGGUR : Salah seorang nelayan bernama Sayuti tengah memperbaiki jaringan yang dianggap sebagai aktivitas menganggur.(HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG-Kondisi cuaca hujan yang berlanjut pada akhir pekan lalu sampai saat ini masih dirasakan para nelayan di Lombok Utara.

Cuaca itu berimbas terhadap ombak laut yang deras disertai angin laut membuat para nelayan selama lima hari belum bisa melaut. Akibatnya, para nelayan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. “Kami belum bisa melaut semenjak hari Jumat lalu. Dan kami hanya nganggur sambil perbaiki jaring tangkap,” terang nelayan asal Jambi Anom Desa Medana Kecamatan Tanjung Sayuti kepada Radar Lombokk, Senin (30/1).

Ia menerangkan, ombak deras terjadi pada saat menjelang masuknya perayaan imlek Jumat lalu hingga sekarang. Ombaknya sangat deras sehingga para nelayan tidak berani melaut. “Ombaknya di pinggir sangat deras. Apalagi di tengah,” tandasnya.

[postingan number=3 tag=”nelayan”]

Bahkan, pada minggu malam kondisi laut bercampur air hujan naik ke permukaan hingga lutut ,menyebabkan perahu nelayan terhantam ombak. Untung saja, perahu nelayan dalam kondisi dinaikan ke permukaan dan diikat. Jika tidak kemungkinan sudah terbawa arus ombak. “Tapi, airnya sudah turun,” ungkapnya sembari memperbaiki jaringnya.

Menurutnya, seperti biasa ombak ini akan berlangsung hingga bulan April. Pada bulan April baru ombaknya agak nyaman. Meski cukup lama, namun ombak deras tidak terjadi setiap hari hingga bulan keempat. “Ada selingan beberapa hari baru tidak keras ombak. Kita juga mencari celah untuk melaut,” jelasnya.

Untuk melanjutkan kebutuhan hidup, mereka hanya bisa menjual apa yang ada di rumahnya. Ia mengaku tidak memiliki pekerjaan sampingan. “Kalau di sini tidak seperti nelayan lain yang punya pekerjaan sampingan,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para nelayan setempat mendapatkan bantuan dari pihak ketiga. Sedangkan, bantuan berupa sembako dari pemerintah daerah belum ada. “Kita hanya dibantu ibu dari Jakarta. Kalau kondisi seperti tetap diantarkan,” sahut nelayan lainnya Saharudin.

Ia menerangkan, para nelayan akan tetap pergi namun terlebih dahulu akan melihat kondisi cuaca. Kalau kondisi cuaca terlalu berbahaya, maka nelayan lebih memilih diam di rumah sembari memperbaiki jaringnya. Begitu juga sebaliknya, jika kondisinya terlihat ada peluang. "Kami akan terobos. Kalau sudah tiba di tengah kami sudah pasrah, " jelasnya sembari memperbaiki jaringnya juga. 

Lebih jauh dikatakan, akhir bulan Desember hingga bulan Februari kondisi awan gelap dari barat sangat berbahaya. Baru bulan Maret sudah mulai berkurang dan bulan April kondisi cuaca sudah normal. Sejak cuaca mulai buruk,  para nelayan telah mulai kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Agar tidak kelaparan, mereka akan menjual apa yang ada di rumahnya. Mulai perabotan rumah, pakaian, hewan peliharaan seperti ayam hingga menggadaikan barang berharga seperti perhiasan.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kelautan dan Perikanan (Dishublutkan) Lombok Utara, Samsul Rizal yang dikonfirmasi terpisah mengakui, pihaknya sampai saat ini belum memberikan bantuan kepada para nelayan. “Karena nelayan saat ini dengan nelayan dulu berbeda,” katanya terpisah.

Bedanya, sebut Samsul, nelayan dulu masih tradisional dan tidak memiliki pekerjaan sampingan. Sedangkan nelayan sekarang sudah memiliki pekerjaan sampingan. “Pekerjaan sampingan semua nelayan kita sudah ada. Istri para nelayan sudah punya usaha lainnya,” tandasnya. (flo)