Akses Jalan Ditutup Tetangga, Rumah Supriadi Terisolir

TERISOLIR: Rumah Supriadi, warga Lingkungan Gerung Butun Barat, terancam terisolir, karena akses jalan masuk menuju rumahnya tertutup oleh bangunan rumah milik tetangga. (ALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Supriadi (49 tahun), warga Gang Singosari, Lingkungan Gerung Butun Barat, Kelurahan Mandalika, Kota Mataram, mendadak viral setelah akses jalan masuk ke rumahnya ditutup oleh tetangga, yang berakibat rumahnya menjadi terisolir.

Supriadi dan keluarga terisolir dirumahnya sendiri, karena tetangga yang tinggal didepan rumahnya menutup akses jalan masuk ke tempat tinggalnya. Pihak yang menutup akses jalan rumahnya ini juga bukan sekedar tetangga biasa. Tetapi masih keluarga dekat dengan istri Supriadi.

“Iya seperti ini keadaannya. Akses jalannya ditutup di bagian depan itu,” ujar Supriadi, saat didatangi di rumahnya di Lingkungan Gerung Butun, Kota Mataram, Selasa kemarin (28/12).

Awalnya, Supriadi membeli lahan pada tahun 1989 silam. Di sekitar lokasi, yakni pemilik lahan di bagian depan dan samping lahan yang dibeli, masih ada hubungan keluarga dengan istri Supriadi.

Lahan yang dibeli itu, sebelumnya ada akses gang yang lancar dilewati. Sehingga dia pun mantap membangun rumah beberapa tahun setelahnya. Awalnya tidak ada masalah, dan normal saja. Akses keluar masuk rumah dijalani dengan mudah.

“Lalu (gang) mulai ditutup pakai seng oleh dia (tetangga). Kemudian (tetangga) membangun dapur dan ditutup sama sekali. Padahal dulu itu gang. Saya membeli tanah ini sudah ada gangnya. Kan tidak mungkin saya beli tanah kalau tidak akses jalannya,” tuturnya.

BACA JUGA :  Pengangguran di Mataram Mencapai 12 Ribu

Walaupun kecewa, Supriadi merasa bersyukur masih diberikan akses jalan di bagian selatan oleh kerabatnya. Meski akses jalan yang diberikan hanya selebar 80 sentimeter saja. Imbasnya, motor dan barang lainnya tidak bisa dibawa sampai ke halaman rumah. “Sekitar 19 tahun lamanya saya hanya bisa lewat di gang sempit 80 sentimeter itu. Motor pun saya ditaruh di depan saja, tidak bisa ke sini (rumah),” ungkapnya.

Di rumah mungil di atas lahan satu are miliknya, dihuni oleh 3 keluarga yang beranggotakan 7 orang penghuni. Yakni Supriadi beserta istri, kakak dan anaknya. Kondisi semakin runyam, dan rumah Supriadi terancam terisolir total. Karena tetangga di samping rumahnya kini juga tengah membangun rumah. Sehingga akses gang 80 sentimeter yang digunakan sebelumnya, juga terancam tertutup.

Sehingga dia pun akhirnya meminta izin keluar masuk dari rumah yang sedang dibangun oleh tetangga. “Sudah 6 hari terakhir ini saya lewat tembok yang belum jadi itu. Saya diizinkan sementara waktu lewat sana, sampai nanti ada jalan keluarnya,” terangnya.

BACA JUGA :  Ada 111 TKA, Tidak Ada Asal China

Mediasi pun dilakukan ditingkat lingkungan, yang menghadirkan Kepala Lingkungan, Supriadi, serta Ibu Sarisah, selaku pemilik rumah di depan Supriadi. Namun sampai sekarang masih belum ada titik temu. “Ini juga katanya akan diukur ulang oleh BPN. Tapi belum datang juga. Kita menunggu BPN ini. Saya hanya ingin kembalikan hak saya yang dulu itu saja,” jelas pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini.

Sementara Kepala Lingkungan Gerung Butun Barat, Sofyan Hadi bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat, juga sudah mengupayakan mediasi. Namun tak juga mendapat kesepakatan dan titik temu. “Kalau di tingkat Lingkungan belum ada titik temu mediasinya. Nanti akan diteruskan ke kelurahan dan kecamatan. Kita tunggu juga hasil pengukuran dari BPN,” katanya.

Ketika Radar Lombok mendatangi kediaman Ibu Sarisah, yang di depan rumah Supriadi, untuk konfirmasi. Namun tidak berkenan memberikan keterangan. “Ibu saya masih sibuk kalau jam segini,” kata salah seorang anak Ibu Sarisah, saat dikonfirmasi. (gal)