Akibat Corona, Lowongan Kerja di Hotel Kosong

KESULITAN: Pandemi Covid-19 sepanjang satu tahun ini membuat kondisi industri perhotelan semakin parah.(dok)

MATARAM – Pandemi Covid-19 sepanjang satu tahun ini membuat kondisi industri perhotelan semakin parah. Bahkan dalam kondisi sulit untuk mampu bertahan lagi dengan tingginya biaya operasional, kegiatan bisnis meetings, incentives, conferences and exhibitions (MICE) tidak ada tamu pun sepi. Karena kondisi tersebut ketersediaan lowongan kerja baru di perhotelan pun hampir sudah tidak ada, sehingga lapangan kerja semakin sulit didapat oleh pencari kerja.

“Bukan sedikit lapangan pekerjaan malah sudah tidak ada lagi di hotel. Hotel justru mengurangi jumlah pekerjanya, karena banyak yang tutup,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Ni Ketut Wolini.

Kondisi seperti ini memang sangat memprihatinkan, karena banyaknya pekerja harus di PHK (Pemutus Hubungan Kerja) dan dirumahkan. Lantaran pengusaha di hotel saja sudah terpuruk hingga menjual properti mereka, sehingga bagaimana bisa merekrut pekerja baru lagi. Pandemi Covid-19 sangat berdampak besar terhadap keberlangsungan pergerakan ekonomi, khususnya lagi di industri perhotelan. “Karena perusahaan tidak buka, tidak bisa jadinya merekrut. Apa juga pakai menggaji, sedangkan hotel untuk bayar operasional saja sudah ngos-ngosan,” ungkapnya.

BACA JUGA :  NTB Dapat Jatah Cetak Sawah Baru 1500 Hektar

Dikatakannya, para pengusaha hotel dan restoran sudah berusaha untuk bisa mempertahankan usaha mereka dan seharusnya pemerintah menyikapi dengan cepat kondisi seperti ini, yakni memberikan stimulus kepada para pengusaha berupa keringanan pembayaran listrik dan pajak. Karena biaya maintenance di hotel itu cukup tinggi, sedangkan tamu tidak ada. Hanya beberapa hotel yang masih eksis, itu pun tamu masih terbatas jumlahnya.

Saat ini tidak hanya satu hotel yang banyak didatangi oleh tamu, tetapi secara menyeluruh kondisi hotel belum membaik, terutama di tiga Gili. Pasalnya tiga Gili banyak mengandalkan tamu mancanegara, sedangkan kondisinya sekarang hanya wisatawan domestik dan lokal saja. “Mudah-mudahan setelah vaksin bisa cepat kembali pulih lagi. Apalagi hotel dan restoran juga sudah ada sertifikat CHSE,” imbuhnya.

Peluang lapangan pekerjaan memang masih minim, karena perusahaan juga belum berani merekrut pekerja baru. Sedangkan beberapa perusahaan banyak yang tutup dan menjual property mereka. Termasuk hotel yang dijual saja sudah mencapai 35 hotel, baik hotel kecil maupun besar di NTB. “Kurang lebih sudah bertambah 1-2 hotel yang dijual lagi, itu ada juga hotel-hotel yang besar bukan hanya kecil,” sebutnya.

BACA JUGA :  Petani Hortikultura Masih Diabaikan Pemerintah

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Suntono menerangkan, berdasarkan data Tingkat Pengganguran Terbuka (TPT) di NTB yang pada priode Agustus 2020 sebesar 4,22 persen ini berarti naik sebesar 0,94 point. Jika dibandingkan Agustus 2019 sebesar 3,28 persen angkanya. Karena terdampak oleh Covid-19 ada sebanyar 455.560 penduduk usia kerja terdampak atau 11,39 persen. “Dengan rinciannya 28.390 penduduk menjadi pengangguran dan 12.660 penduduk menjadi bukan angkatan kerja, kemudian 35.660, sementara tidak bekerja dan 378.850 penduduk yang bekerja dengan pengurangan waktu jam kerja,” ujarnya. (dev)