AICIS 21 dan Keharusan Kompetensi Abad 21 Warga Dunia dan Indonesia

Oleh: Dr. Riduan Mas’ud, M. Ag Dekan FEBI UIN Mataram

Riduan Mas'ud
Riduan Mas'ud

ANNUAL INTERNATIONAL Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-21 akan diselerenggarakan di Lombok dan Bali dan UIN Mataram ditunjuk oleh Kementrian Agama RI sebagai panitia pelaksana,  Agenda konferensi AICIS 2022 akan dipusatkan di dua tempat besar wisata Indonesia, yakni Lombok dan Bali, AICIS akan diisi berbagai macam kegiatan akademik yang dapat menginspirasi sarjana Islam dalam melakukan pendekatan kajian keislaman, dengan tema besar, FUTURE RELIGION IN G-20terkait tentang transformasi digital, manajemen pengetahuan, dan ketahanan sosial.

Kegiatan ini menekankan ke semua aspek kehidupan sehingga kehidupan beragama tersebut adalah solusi bagi warga dunia bukan menjadi masalah bagi warga dunia atau khususnya di Indonesia. Revolusi industri keempat, yang sekarang sedang berjalan, telah mengubah secara signifikan setiap industri, termasuk pendidikan dan social kemasyarakatan. Hal ini tentunya menjadi rujukan dunia Pendidikan untuk mencari solusi-solusi sehingga SDM kita menjadi solusi di kehidupannya.

Kemdikbud menuturkan bagaimana membangun paradigma pembelajaran abad 21 yang memberikan penekanan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah serta dapat berfikir secara analitis. (Litbang Kemdikbud, 2013). Perubahan dalam dunia pendidikan perlu dilakukan karena setiap zaman mengalami perubahan. Perubahan ini seiring percepatan teknologi dan informasi. Perubahan perlu dilakukan seiring adanya perkembangan teknologi informasi (Diknas, 2020). Dari efek perubahan yang terjadi maka dalam dunia pendidikan terjadi berbagai pergeseran perubahan baik dari segi metode maupun konten yang menjadi bahan pengajaran.

Menurut Wagner (2010) siswa harus menguasai keterampilan dan kemampuan bertahan hidup yang ditekankan pada tujuh keterampilan yaitu kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah kolaborasi dan kepemimpinan, ketangkasan mempunyai jiwa entrepreneur, punya inisiatif, dapat beradaptasi , menganalisis informasi, berimajinasi serta dapat berkomunikasi dengan baik.

Menurut US-based Partnership for 21st Century Skills (P21), mengidentifikasi tentang kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 yaitu komunikasi, kolaborasi, berfikir kritis, dan kreatif. Assessment and Teaching of 21st Century Skills (ATC21S) mengkalsifikasi keterampilan yang harus di kuasai dalam abad 21 yaitu way of thinking, way of working, tools for working dan skills for living in the world (Griffin et.al,2012). Way of thinking terdiri atas bagaimana berkreativitas, menemukan inovasi, cara berpikir kritis, menemukan pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Way of working terdiri dari bagaimana bekerja dalam sebuah tim, bagaimana juga berkolaborasi.

Baca Juga :  AICIS 21: Merajut Perbedaan, Keberagaman dari Lombok dan Bali

Berperan sebagai warga negara dunia maupun lokal serta tanggung jawab secara pribadi maupun secara sosial. Sedangkan Skills for living in the world merujuk keterampilan berdasarkan literasi informasi, kemampuan teknologi informasi dan komunikasi serta kemampuan bekerja melalui social digital.

Dari beberapa pendapat ahli di atas nampaknya orientasi pembelajaran dalam dunia pendidikan harus berubah yang pada awalnya hanya di kelas secara teoritis maka sekarang dunia pendidikan di tantang untuk pembelajaran berbagai proyek dan berbasis masalah karena hanya dengan cara tersebut dapat meningkatkan kekritisan siswa dan kreativitas.

Dalam sebuah hasil penelitian tentang pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut memberikan keuntungan bagi siswa untuk belajar secara faktual dibandingkan pembelajaran di kelas yang lebih tradisional. Sedangkan Trilling dan Fadel (2009) menuturkan dengan belajar metode model tersebut dalam waktu yang cukup lama, menunjukkan hasil belajar yang signifikan yang berbeda dengan hasil metode tradisional.

Pembelajaran Digital di Era Pandemi

Zaman yang terus berubah membuat semua lini kehidupan menyesuaikan dengan perubahan yang sedang terjadi. Perubahan dari analog ke media digital membuat semua pelayanan publik lebih mudah. Di dunia pendidikan perubahan ini secara revolusioner sangat terasa saat pandemi terjadi. Sepert yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa saat ini telah mengalami empat tahapan revolusi industri. Sebagaimana Profesor Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution menegaskan bahwa saat ini dunia berada pada awal suatu revolusi yang secara mendasar mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi dengan orang lain (Schwab, 2016).

Perubahan yang terjadi di dunia pendidikan yang sangat dirasakan adalah dalam proses belajar mengajar yang berubah menjadi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dikarenakan pandemi yang harus jaga jarak satu dengan yang lain. Perubahan PJJ ini membuat semua bahan ajar mengalami proses digitalisasi agar nantinya bisa digunakan dalam proses digital. Maka muncullah istilah E- learning, Online learning, Virtual learning dan Digital Learning .

Istilah tersebut sering digunakan pada hal-hal yang sama dan mirip, yaitu pembelajaran yang menggunakan atau berbasis teknologi informasi dan komunikasi, atau technology-enhanced learning. Namun ada pendapat yang menyatakan istilah-istilah tersebut sangat berbeda dari segi makna . Istilah online learning disebut sebagai pembelajaran yang ‘using online tools for learning’ mencakup e-learning dan blended learning. Istilah digital learning mencakup makna lebih luas yaitu mencakup semua istilah pembelajaran yang menggunakan online tools dan digital, baik digital online maupun off-line (Moore,2011).

Baca Juga :  AICIS 21: Merajut Perbedaan, Keberagaman dari Lombok dan Bali

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa pergeseran cara pembelajaran ini mungkin masih digunakan pasca pandemi sebagai media yang secara relevan dengan perubahan zaman. Proses digitalisasi ini makin lama akan berubah menjadi proses transformasi digital dikarenakan praktis dan kemudahan yang ditawarkan. Keterampilan- keterampilan baru akan muncul menggantikan keterampilan-keterampilan lama yang sudah usang. Apabila semua guru dan stakeholder pendidikan tidak mengikuti tren perubahan ini maka tidak lagi dapat berperan aktif dalam berbagai pekerjaan. Visi tersebut sangat relevan dengan pendidikan yang menyiapkan sumber daya manusia bagi zamannya.

Sejalan dengan perkembangan jaman, capaian belajar untuk pendidikan di era revolusi Industri ini, cara kerja dan tata pikir pengelola dan pelaku pendidikan perlu mengalami transformasi. Melihat fenomena tersebut maka sudah menjadi keniscayaan semua guru harus keluar dari `zona nyaman` untuk menggali potensi dengan berbagai sarana prasaran teknologi yang tersedia. Sekolah dituntut siswanya agar berkualitas dan lebih baik kedepannya. Sehingga lulusan yang di hasilnya mempunya kualitas yang baik dan tingkat keterampilan yang tinggi, kritis, inovatif dan menjadi pembelajar seumur hidup (Suciati, 2018). (*)

Komentar Anda