Ahyar-Mori Komitmen Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi untuk Tingkatkan IPM NTB

Ahyar-Mori
Paslon Ahyar-Mori komitmen menciptakan pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan IPM NTB. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAMPeringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB saat ini masih berkutat pada ke 30 dari 34 provinsi di Indonesia. Berbagai upaya yang telah dilakukan Pemprov NTB, tapi belum bisa menaikkan peringkat IPM tersebut.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, peringkat IPM Provinsi NTB masih berada di bawah Kalimantan Barat, Gorontalo dan Maluku Utara. Sedangkan di bawah NTB ada Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT),  Papua Barat dan IPM terendah adalah Papua.

Pemilihan gubernur dan wakil gubernur pada tanggal 27 Juni nanti, akan menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat NTB. Pemimpin selanjutnya, tentu saja memiliki beban dan tanggungjawab untuk meningkatkan IPM Provinsi NTB.  Pasangan calon (paslon) yang memiliki perhatian serius terhadap peningkatan IPM NTB yaitu TGH Ahyar Abduh – H Mori Hanafi (Ahyar-Mori). Paslon dengan nomor urut 2 ini, cukup prihatin dengan posisi IPM NTB yang masih 5 besar terendah di Indonesia. “Untuk menaikkan IPM ini susah, karena provinsi lain juga berupaya terus menaikkan IPM-nya. Satu-satunya cara adalah melakukan perubahan signifikan melalui pertumbuhan ekonomi, harus bisa di atas dua digit,” ujar calon wakil gubernur NTB, H Mori Hanafi kepada Radar Lombok, Kamis kemarin (22/3).

Menurut pria yang akrab disapa bang Mori ini, meski berada di peringkat ke 30 dari 34 provinsi di Indonesia,  yang patut dibanggakan adalah laju pertumbuhannya cukup memuaskan. Di bawah kepemimpinan Tuan Guru Bajang (TGB), IPM NTB terus mengalami kemajuan selama periode 2010 hingga 2016 dari 61,16 menjadi 65,81. Meningkatnya angka IPM tersebut, disebabkan pertumbuhan ekonomi NTB yang cukup baik selama ini. Namun, pertumbuhan ekonomi daerah lain juga terjadi. “Kita merangkak naik nih, tapi daerah lain yang di atas kita naik juga. Jadi belum bisa dikejar. Kalau mau bisa dikejar, berarti harus kita harus salip daerah lain dengan lebih kuat lagi,” kata Mori.

Untuk bisa mengejar daerah lain yang posisinya berada di atas, tidak bisa menggunakan cara-cara standar. Itulah yang dimaksud Mori, satu-satunya cara dengan menciptakan pertumbuhan ekonomi di atas dua digit. “Kita harus bisa pacu pertumbuhan ekonomi NTB di atas 10 persen. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, bisa kok kita ciptakan pertumbuhan ekonomi hingga 12 persen atau 13 persen,” ucap politisi yang dua periode menjadi wakil rakyat ini.

Pertumbuhan ekonomi NTB pernah mencapai angka 9,98 persen. Namun sempat juga menurun meski tetap di atas rata-rata nasional. “Kalau rata-rata per tahun kita itu sekitar 5,6 persen. Dan kami, Ahyar-Mori sudah konsultasi ke para pakar ekonomi di Indonesia tentang konsep dan strategi kami meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga belasan persen. Ternyata memang sangat mungkin, dan kami yakin itu bisa dicapai,” katanya.

Konsep yang dimiliki paslon Ahyar-Mori, telah diperhitungkan dengan baik dan mendetail. Untuk bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi belasan persen, maka haruslah dilakukan dari bawah. Hal itulah yang selama ini masih kurang. “Apa yang baik dari TGB, kita lanjutkan dan sempurnakan. Apa yang belum dilakukan, akan kita lakukan, kita sudah punya strateginya,” ujar Mori yakin.

Terdapat beberapa cara yang akan dilakukan Ahyar-Mori untuk meningkatkan posisi IPM NTB melalui pertumbuhan ekonomi. Konsep pertumbuhan ekonomi dari desa, dimulai dengan membentuk 100 desa wisata di NTB. Dijelaskan, apabila ada 100 desa wisata yang didukung penuh oleh pemerintah, maka akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. “Kalau pendapatan masyarakat baik, secara otomatis pendidikan anak-anaknya akan baik, kesehatan juga dijaga. Geliat perekonomian di desa itu akan terasa langsung bagi masyarakat setempat,” katanya.

Berikutnya, desa-desa yang membutuhkan suntikan dana juga akan dibantu sebesar Rp 200 juta. “Kita sudah hitung APBD, bisa kok ada dana  stimulan Rp 200 juta per desa. Teknisnya nanti diseleksi desa-desa yang memenuhi syarat, yang pasti penggunaan dana untuk membantu geliat ekonomi di desa,” sebut Mori.

Indikator IPM tidak lepas dari pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, Ahyar-Mori akan memfasilitasi 10.000 wirausahawan di desa. Sumber dana sudah diperhitungkan dan dipastikan bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kendala yang dialami pelaku usaha di NTB selalu saja tentang modal. Mori mencontohkan, penjual kain tenun yang tidak bisa memproduksi banyak kain karena modal yang cukup berat. “Tenun itu berkualitas tinggi, harganya tapi murah dijual. Kalau tenun masyarakat dijual di butik, itu bisa jutaan karena kualitasnya bagus. Masalahnya kalau ada yang nawar, mereka langsung jual. Kalau gak, mereka tidak bisa lagi membuat kain tenun karena modalnya dari hasil jualan itu,” tutur Mori yang pernah turun langsung ke perajin tenun.

Untuk mengatasi persoalan modal yang terus membebani tersebut, Ahyar-Mori akan membantu 10.000 orang. “Selama ini mereka hanya bisa buat 3 sampai 5 kain tenun saja. Makanya kita harus kasi modal agar bisa produksi banyak, biar mereka jadi wirausaha yang tangguh. Pedagang bakulan di pasar-pasar juga kita akan kasi bantuan Rp 5 juta per orang untuk 100 ribu orang, merata nanti secara bertahap,” katanya.

Konsep mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari masyarakat bawah, sudah terbukti berhasil. Bukan hanya dikuatkam oleh para ahli ekonomi saja, konsep tersebut bisa dilihat di Kabupaten Dompu. “Dompu adalah contoh sukses proses pertumbuhan ekonomi dari bawah. Makanya Donpu cukup maju, masyarakat benar-benar dilibatkan,” tutup Mori. (tim)