Ahmad Humaidi: Pak Najam Perlu Baca Buku Habibi Muda

Ahmad Humaidi (ist for radarlombok.co.id)

MATARAM—Kritik cukup pedas dan keras yang dilontarkan salah satu anggota DPRD NTB dari Partai PAN, Najamuddin Moestafa, terhadap program beasiswa NTB, seperti diberitakan Radar Lombok Edisi Rabu, 24 Februari 2021, mendapat tanggapan beragam dari kalangan masyarakat. Salah satunya adalah Ahmad Humaidi, yang kini masih menempuh studi Master of Biology Education di Universiti Sultan Idris Malaysia (UPSI), dengan program beasiswa NTB.

“Saya mengapresiasi kritikan dan masukan Pak Najam terhadap pelaksanaan Program beasiswa NTB. Beliau perlu diapresiasi, karena melaksanakan tugas menyampaikan pendapat dan pengawasan. Akan tetapi saya juga merasa perlu memberikan sedikit pendapat terhadap kritikan yang terhormat Bapak Najamuddin Moestafa. Supaya publik tidak hanya mendengar satu suara yang kemudian dianggap benar lalu digoreng,” kata Humaidi, dalam keterangan pers yang diterima radarlombok.co.id, Rabu (25/2/2021).

Menurutnya, kritikan Najamudin yang ditujukan kepada Program Beasiswa NTB sebenarnya tidak cukup pedas apalagi keras. Tapi hanya menunjukkan pola pikir yang kurang luas, alias sempit dan pragmatis.

“Pak Najam sebagai anggota DPRD yang terhormat seharusnya menunjukkan kualitas berpikir yang lebih holistic, sustainable, dan tentu menggambarkan kualitas berpikir yang seharusnya dimiliki oleh anggota DPR, yang memiliki peran vital dalam penyelenggaraan negara yaitu Peran Legislasi, Anggaran dan Pengawasan,” ujarnya.

Pak Najam, sambung Humaidi, seharusnya jangan menunjukkan bahwa DPR adalah orang-orang dengan kualitas berpikir minimalis. Seharusnya dia membaca buku “Habibi Muda”, dimana disebutkan bahwa rendahnya SDM, lemahnya skill yang diikuti sedikitnya lapangan pekerjaan, akan membuat anak bangsa berlomba menyerbu politik, berlomba menjadi tim sukses dan mencalonkan diri menjadi anggota DPR.

“Mereka menganggap bekerja di politik tidak perlu otak yang pinter-pinter, dan skill yang baik. Tapi hanya butuh kemampuan bicara dan uang. Al hasil jabatan-jabatan politik diisi oleh orang-orang tidak berkualias dengan skill yang mengharukan,” ulasnya.

Ditegaskan, program beasiswa NTB adalah program yang hasilnya tidak bisa dirasakan secara instan, sebagaimana diminta oleh Najamuddin, yaitu mengevaluasi manfaatnya hari ini. “Pak Najam perlu tahu, bahwa investasi di dunia pendidikan tidak sama seperti belanja beli nasi bungkus yang langsung bisa merasakan kenyangnya saat itu juga,” ucap Humaidi.

Pendidikan adalah salah satu instrument utama yang bisa merubah taraf hidup manusia. Tetapi sekali lagi tidak bisa instan. Seharusnya Najam memberikan masukan, dan ikut berpikir bagaimana supaya beasiswa NTB bisa menyentuh anak-anak sekolah SD-SMP, untuk diberikan kesempatan sekolah ke luar negeri, dan tidak hanya untuk tingkat perguruan tinggi.

“Saya mengapresiasi permintaan Pak Najam yang ingin mengaudit LPP, dan memang itu harus dilakukan. Tetapi saya juga minta BPK mengaudit DPR secara rutin. Kami rakyat mau tau kemana bapak gunakan dana aspirasi atau dana pembangunan daerah pemilihan,” tandas Humaidi. (gt)