Ade Ismi Darmayanti Wirausaha Muda Sukses

Ade Ismi Darmayanti Wirausaha Muda Sukses
KREATIF: Ade Ismi Darmayanti memperlihatkan hasil karyanya di kantor sekaligus workshopnya. Usaha yang digeluti Ade, kini terus berkembang. (Lukmanul Hakim/Radar Lombok)

Memulai usaha tidak mesti bermodal besar.  Dengan modal kecil-pun bisa dilakukan dengan  membuka usaha asal ada kemauan yang besar dibarengi keberanian merealisasikan keinginan untuk memulai usaha. Hal tersebut dilakoni Ade Ismi Darmayanti, mahasiswi S2 Jurusan Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia (UI) yang kini menggeluti usaha wedding souvenir dan pernak pernik pernikahan.


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


Di tengah kesibukannya  studi S2 di Universitas Indonesia, Ade mulai membuka usaha  wedding souvenir. Ade memilih fokus  pada jasa hias packing seserahan dan pembuatan aneka model mahar dan ring’sbox untuk lamaran dan pernikahan.  Usaha  yang dijalani ini pada mulanya, sekedar untuk  mengisi waktu luangnya disaat waktu santai. Namun,  ternyata membawa berkah bagi Ade.

Usaha yang masih tergolong belum begitu populer di Lombok, NTB ini  mendapat respon positif dari konsumen yang membutuhkan jasa dari tangan kreatif Ade. Alhasil, usaha ini pun kian moncer seiring banyak warga  menggunakan konsep pernikan modern. “Saya memulai buka usaha wedding ini Juli 2016 dan sekarang usianya 1 tahun. Omzetnya pertamakali memulai usaha itu hanya Rp 2,5 juta dan sekarang sudah capai Rp 20 juta/bulan,” tutur Ade kepada Radar Lombok, Minggu kemarin (13/8).

Ade menuturkn, bahwa ide bisnis ini sudah lama ada dan menjadi cita-cita yang terpendam. Dia  mengaku banyak terinspriasi dengan melihat secara langsung ataupun melalui internet dan youtube acara lamaran dan pernikahan dengan konsep yang unik dan berbeda yang belum ada di Mataram ataupun Lombok. Setelah melakukan observasi, perencanaan dan membuat beberapa strategi awal, akhirnya ide ini baru bisa terealisasikan pada bulan Juli tahun 2016.  Bisnis wedding  souvenir inipun dikembang bersama dengan  Nofi yang tak lain adalah kakaknya. Nofi sendiri sudah lebih dahulu terjun di usaha ini.

Terjun di berbisnis  ternyata bukan kali ini saja dilakukan Ade dan Nofi. Saat mereka masih duduk di bangku SMP tepatnya di SMPN 2 Mataram, mereka  sudah sering mencoba melakukan usaha 

Seperti membuat buku catatan, aksesoris, mukena anak ataupun bisnis musiman coklat valentine setiap bulan Februari.  Tapi usaha tersebut tidak   berlanjut karena masih disibukkan dengan aktivitas sekolah.

Baru setelah kuliah  Ade serius berbisnis. Ade memberi nama  usahanya tersebut “Balewedding”. Balewedding sendiri  berasal dari kata Bale dalam bahasa Sasak yang artinya rumah dan Wedding yang berarti pernikahan. Dengan merujuk pada kedua arti tersebut Ade berharap kelak usahanya ini  dapat menjadi tempat dan partner dalam membantu setiap kebutuhan dari calon pengantin.

Ade sendiri selalu menekankan  details dalam setiap karya yang dihasilkan. Dia  ingin mengajak para calon pasangan mempercantik setiap detail pernikahannya agar lebih berkesan tentunya tanpa  biaya  yang berlebihan.

“Konsep yang kami berikan untuk packing seserahan dengan menggunakan boks akrilik dan juga dekorasi yang fresh dengan menggunakan aplikasi paper flower membuat Baleweddingcepat dikenal oleh masyarakat dengan ciri khasnya,” ujar Ade.

Dalam menjalankan usahanya tersebut,  bukan berarti Ade tidak mengalami kendala dan masa –masa sulit. Terlebih lagi membuka usaha Baleweddin tersebut bisa dibilang memulai dengan modal ide dan semangat. Dana untuk memulai usaha saat  itu   seadanya.  Awalnya orang tua bahkan tidak menyadari kalau Ade memulai bisnis ini sampai akhirnya cukup banyak orang datang ke rumah. Ade lalu diberikan menggunakan 1 ruangan di rumah yang saat ini diubah menjadi workshop sekaligus kantornya.

Ade mengaku mendapatkan banyak tantangan yang dihadapi saat memulai usahanya ini. Dia  masih susah mempromosikan konsep yang ditawarkan. Sagi sebagian orang hantaran seserahan tidak perlu dihias ataupun  lamaran tidak memerlukan dekorasi. Namun Ade terus melakukan pendekatan baik dengan melakukan pengenalan konsep untuk  membantu mempercantik setiap  detail prosesi pernikahan termasuk di dalamnya proses lamaran  tapi tanpa mereka harus  menghabiskan banyak biaya. Ade sendiri  menerapkan harga pertemanan.

Berbagai strategi juga dilakukan untuk memperkenalkan usahanya tersebut, dengan meminta bantuan teman yang aktif di media sosial untuk mempromosikan usahanya itu. Akhirnya  mulai banyak yang mengenal Balewedding.

”Alhamdulillah sekarang pesanan untuk menggunakan jasa Balewedding cukup banyak. Karena itu kami dituntut lebih inovatif dengn  mengeluarkan karya dan merealisasikan sesuai pesanan dari klien,” paparnya.

Menurut Ade peluang pasar untuk usaha kreatif saat ini terbuka lebar. Khususnya untuk  pangsa pasar usaha wedding   masih terbuka lebar. Terlebih lagi, jika dari awal merintis usaha ini hendaknya bisa menghadirkan  konsep menciptakan pasar. Berbagai sarana produk tersebut harus dibarengi dengan inovasi dan kreativitas, sehingga membuat masyarakat selaku konsumen tertarik untuk menggunakan jasanya, tentunya juga dengn menerapkan harga bersahabat.

“Potensi yang kami lihat begitu besar, dengan jumlah penduduk di Lombok sendiri dan kalangan anak mudanya masih banyak. Tinggal bagaimana menghadirkan inovasi sesuai selera pasar,” imbuhnya. (*)