Ada Tudingan Mafia Anggaran, Ruslan Minta Sebut Siapa Orangnya

Johan Rosihan – Ruslan Turmuzi

MATARAM—Ketua Fraksi PDIP DPRD NTB, Ruslan Turmuzi, dan Ketua Fraksi PKS DPRD NTB, Johan Rosihan, mulai terusik atas pernyataan secara pribadi Raihan Anwar, Anggota DPRD NTB dari Fraksi Partai NasDem, yang menyatakan ada mafia anggaran di DPRD NTB. Meski dia tidak menyebutkan nama seseorang.

Ruslan yang merupakan anggota Badan Anggaran (Banggar) dalam pembahasan RAPBD 2020, menegaskan kalau memang benar ada mafia anggaran di DPRD NTB, pihaknya mempersilahkan menyebut siapa orangnya secara jelas, agar semua terang benderang.

“Coba langsung berpendapat. Misalkan Partai NasDem gelar jumpa pers. Jangan hanya perorangan,” geramnya, saat ditemui radarlombok.co.id di gedung DPRD NTB, Kamis (22/8/2019).

Sementara Johan, yang juga anggota Banggar dalam RAPBD 2020, mengaku tidak ingin menggubris pendapat anggota DPRD yang menuding ada mafia anggaran tersebut. “Saya tidak mempertanyakan. Saya tidak gubris anggapan (ada) mafia anggaran,” kalemnya.

Numun sebelumnya Johan membantah tegas adanya isu mafia anggaran. Karena selama ini DPRD NTB sangat serius membahas anggaran, demi kebaikan bersama. “Kami bahas anggaran semaksimal mungkin dan sebaik mungkin. Jadi tidak ada permufakatan para mafia seperti yang dituduhkan,” jelasnya, seperti dikutip dari Koran Radar Lombok, edisi Kamis (22/8/2019).

Meski pembahasan RAPBD 2020 waktunya singkat. Namun tetap dimaksimalkan dalam pembahasannya. “Tidak seperti yang dituduhkan ada mafia anggaran, karena kita keluar masuk. Sebab, kita itu fokus mengkaji anggaran, (sehingga) kita bolak balik,” ujarnya.

Dengan serius mengkaji anggaran, lanjutnya, maka ketika ada kekeliruan yang terjadi, pihak DPRD bisa segera mengajukan perbaikan. “Kalau kita hanya soal dagang sapi, serperti tuduhan ada mafia, dan segala macam. Tentu kita tidak akan mengajukan kalau ada keliruan semacam ini. Aduuuh pak, kita ini takut masuk penjara pak,” imbuhnya.

Menurut Johan, orang-orang yang berpendapat seperti itu, adalah mereka yang tidak membaca, dan tidak mau tahu anggaran, serta hanya memenggunakan asumsi-asumsi yang tidak mendasar. “Jangan hanya melihat waktu (pembahasan) singkat, terus kita dianggap begitu. Kalau kita sudah cukup dengan Pokir-Pokir (pokok pikiran) yang sudah, ngapain kita membuat bantahan-bantahan dalam RAPBD,” tandasnya. (sal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid