Active Selling Kominfo 2021-NTB: Pelatihan System Hibrid Lebih Mengena

PELATIHAN: Ditjen Aptika Kementerian Kominfo RI melalui program Active Selling 2021 memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM di NTB, baik secara online maupun offline.

MATARAM–Menginjak bulan ke empat, peserta Program Active Selling yang digelar Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia, para peserta mendapatkan materi dari program pendampingan tentang penerapan aplikasi digital yang sudah diberikan via online.

Peserta dapat bertanya kepada para fasilitator terlatih, dipandu ketika mengalami kesulitan, serta mempraktekkan materi yang diberikan dalam program pendampingan.

Selama Bulan Juli hingga September, PPKM diberlakukan di wilayah NTB, sehingga seluruh materi pendampingan diberikan via online.

Alternatif lain dari kegiatan pendampingan adalah secara offline, dengan pertemuan bersama para fasilitator di Training Center.

OFFLINE: Alasan waktu sempit, sedang produksi atau jaringan yang jelek, fasilitator juga aktif memberikan pelatihan secara offline, dengan datang langsung ke lokasi usaha UMKM.

Bahkan bagi para peserta yang kesulitan datang ke Training Center, atau kesulitan sinyal, atau jauh dari titik wifi yang disediakan oleh Kominfo, atau terkendala waktu yang sempit karena harus melakukan kegiatan produksi, fasilitator juga bersedia untuk datang ke lokasi usaha atau rumah UMKM.

Untuk memudahkan pendampingan, para peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil berdasarkan lokasi usaha.

Walaupun pendampingan secara offline rasanya lebih merepotkan bagi para fasilitator, namun Irwan Hardiana dan tim fasilitator merasa bahwa metode offline dapat mempercepat transfer ilmu.

BACA JUGA :  Apresiasi NTB Expo 2021, Menkop Teten Masduki Dorong UMKM Inovasi Tingkatkan Kualitas Produk

Tidak mudah memang membagi waktu untuk mengatur jadwal kunjungan ke UMKM, apalagi ketika jumlah peserta melonjak 40% dari target.

“Kami menjadwalkan setiap kelompok peserta mendapatkan pendampingan minimal seminggu sekali. Dengan pendampingan offline para UMKM langsung mempraktekkan, lalu jika ada kendala bisa langsung kami berikan solusi, kami ajarkan step-by-step sehingga transfer ilmunya lebih cepat dan mengena,” tutur Irwan, dalam keterangan pers yang diterima radarlombok.co.id, Rabu (20/10).

Pada Triwulan Kedua, peserta sudah mengunduh aplikasi agregator dan Point of Sales (POS) di gadget mereka, sehingga benar-benar tahu akan fungsi dan manfaatnya.

Selanjutnya peserta akan dipandu mengoptimalkan pemasaran dengan mempratekkan tips dan trik berjualan online di media sosial dan marketplace.

Bagi para pelaku UMKM produsen sektor pengolahan yang menjadi peserta Program Active Selling, mereka kini tahu manfaat aplikasi-aplikasi digital yang diajarkan, yakni memudahkan proses bisnis.

Dengan penjualan, promosi, dan pencatatan yang baik dan praktis, maka mereka mampu meluangkan waktu lebih banyak untuk produksi.

BACA JUGA :  UMKM Bisa Jadi Pemain Utama di MotoGP Nanti

“Dibanding sebelum pelatihan, kini peserta sudah merasakan manfaat pelatihan, yakni untuk memudahkan penjualan dan promosi,” lanjut Irwan.

Melihat animo peserta, materi yang diberikan, dan model pelatihan hybrid, baik peserta maupun fasilitator berharap bahwa pelatihan dan pendampingan dapat dilanjutkan tahun depan.

Diharapkan pelatihan selanjutnya dapat mempertajam materi yang telah diterima saat ini, dan menjangkau lebih banyak peserta UMKM lainnya.

Sementara I Nyoman Adhiarna, Direktur Ekonomi Digital Kementerian Kominfo mengapresiasi para fasilitator yang kreatif dan bersemangat seperti Irwan dan timnya.

Nyoman mengucapkan terima kasih kepada para fasilitator yang tetap semangat, walaupun diterpa dengan berbagai kendala di lapangan.

“Fasilitator adalah kepanjangan tangan kami di lapangan. Terimakasih atas tekad dan semangat yang pantang menyerah dengan berbagai kendala selama menjadi fasilitator. Tetap semangat ya kawan-kawan,” kata Nyoman.

Program Active Selling 2021 menyasar 26.000 UMKM produsen sektor pengolahan di sepuluh Kawasan Wisata Prioritas selama bulan Juli hingga Desember 2021, dengan melibatkan sejumlah fasilitator yang telah diseleksi dan diberikan pembekalan. (gt)