Abdul Hadi Sosok Dibalik Prestasi Desa Lingsar Juara 1 Lomba Desa Tingkat Nasional

Abdul Hadi Sosok Dibalik Prestasi Desa Lingsar Juara 1 Lomba Desa Tingkat Nasional
BANGGA : Kades Lingsar, HM Abdul Hadi mampu mencetak sejarah dengan prestasi yang ditorehkannya melalui inovasi-inovasi kreatif. (Abdul Hadi For Radar Lombok)

Nama desa Lingsar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat, saat ini tengah menjadi buah bibir di NTB. Prestasi menjadi juara 1 lomba desa tingkat nasional regional IV merupakan sejarah baru yang berhasil dicetak perwakilan NTB.


AZWAR ZAMHURI – LOMBOK BARAT


Menjadi desa terbaik tingkat nasional, tidak lantas membuat Kepala Desa Lingsar, HM Abdul Hadi tinggi hati. Prestasi itu, baginya sebuah tanggungjawab yang harus dipertahankan dan bisa ditingkatkan. Mengingat, 994 desa lainnya di NTB, tentu akan menoleh seperti apa desa yang menjadi terbaik itu.

Bisa mewakili NTB saja ke tingkat nasional, sebuah kebanggaan. Apalagi membawa harum nama NTB di tingkat nasional. Semua itu, memang pantas didapatkan oleh Desa Lingsar. Sebuah desa yang mengalami perubahan pesat di bawah komando Abdul Hadi.

Menjadi Kades sejak tahun 2013, Hadi bekerja dengan konsep yang matang. Ia sosok pemimpin konseptor dan eksekutor yang layak diteladani kades lainnya di NTB. Inovasi yang dilakukan, memang tidak akan ditemukan di desa lainnya.

Kepada Radar Lombok, pria kelahiran 1 Juli 1974 ini mulai mengenang perjuangannya membangun desa Lingsar sejak terpilih tahun 2013 lalu. Tahun pertama menjabat, langkah pertama yang diprioritaskan adalah infrastruktur pemerintahan maupun masyarakat.

Pembangunan kantor desa dikebut, dalam setahun berhasil dituntaskan. Jalan-jalan diperbaiki, berbagai proyek fisik selesai dengan baik. “Saya memang fokus untuk fisik awalnya, itu keharusan untuk bisa maksimal. Baru tahun kedua pembenahan kelembagaan di desa saya tuntaskan. Belum ada inovasi waktu itu, karena pondasi ini yang dulu penting,” tuturnya mengenang.

Tahun 2015 datang, itu tahun ketiga Hadi memimpin desa. Dari perjalanan tahun pertama dan kedua, banyak ide serta aspirasi masyarakat yang masuk. Baginya itulah inovasi yang sesungguhnya, bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.

Desa Lingsar diberikan brand sebagai lokasi wisata budaya. Meskipun mayoritas beragama muslim, masyarakat disana membiarkan 5 pura berdiri kokoh. Sedangkan peribadatan umat Islam   ada 7 bangunan masjid. “Kondisi masyarakat yang beragam, harus bisa dikelola dengan baik. Baru kita bisa bersatu melakukan apapun, makanya tidak ada SARA di Lingsar,” kata Hadi.

Memanfaatkan semua potensi yang ada, merupakan kekuatan. Itulah prinsip Abdul Hadi. Karang Taruna sebagai komunitas anak-anak muda diberdayakan. Muncullah gagasan untuk mewadahi kegundahan anak-anak muda yang rentan dengan minuman keras, pergaulan bebas, narkoba, pernikahan dini dan lain sebagainya.

Abdul Hadi menangkap kegelisahan itu, dicetuskanlah Pusat Informasi Konseling Remaja. Bekerja sama dengan Karang Taruna, obrolan seputar remaja digaungkan melalui radio. “Jadi informasi seputar remaja dan masalahnya, bisa diobrolkan lewat radio,” ucap Hadi.

Tidak hanya itu, Abdul Hadi juga menangkap berbagai aspirasi masyarakat yang menginginkan transparansi. Tidak tanggung-tanggung, setiap minggu selalu diadakana cara Satu Jam Bersama Pemerintah Desa. Melalui program tersebut, semua kegiatan pembangunan di desa bisa diketahui masyarakat.

Apabila ada keluhan atau aspirasi, bisa juga disampaikan dan berdialog langsung dengan pemerintah desa. Inovasi seperti ini tidak ditemukan di desa lain. Hadi tidak hanya menunjukkan transparansi melalui website, spanduk maupun papan nama, tetapi juga berdialog langsung dengan masyarakat melalui radio. “Kami benahi pelayanan untuk lebih mendekatkan, masalah administrasi bisa diurus secara online di Lingsar,” ungkapnya.

Inovasi lainnya seperti pengelolaan website yang profesional. Buktinya, jumlah pengunjung lebih dari 10 ribu. Diperkuat lagi dengan mengembangkan hot spot atau internet gratis di desa. “Kami juga punya bank sampah, di bidang kesehatan punya ambulans,” terang Hadi.

Ketika desa-desa lain memikirkan produk unggulan yang bisa dikembangkan, desa Lingsar telah memiliki itu sejak lama. Tempurung kelapa mampu disulap menjadi produk unggulan. Sebagai cindera mata khas desa Lingsar yang bisa menjadi oleh-oleh wisatawan.

Masalah keamanan sudah tidak perlu diragukan lagi. Pemerintah desa telah membentuk kelompok yang fungsinya seperti Polisi Masyarakat (Polmas). Bahkan tidak hanya bergerak dalam persoalan keamanan, namun ketika bencana datang juga berperan aktif.

Atas berbagai inovasi dan kerja keras yang dilakukan, angka kematian ibu dan anak saat melahirkan nol. Begitu juga dengan angka buta aksara. “Kedepan, prestasi ini harus tetap dipertahankan. Pelayanan dan transparansi anggaran terus kami tingkatkan. Dan yang penting juga adalah partisipasi masyarakat dalam membangun desanya sendiri,” tutup Abdul Hadi.(*)