Abaikan Hasil ‘Sangkep Warige’, Waktu Bau Nyale Warga dengan Pemda Beda?

Bau Nyale
Bau Nyale (DOK/)

PRAYA – Perayaan Bau Nyale tahun ini tampaknya tak sejalan. Warga terpaksa harus mengabaikan hasil ‘Sangkep Warige’ dengan memilih merayakan Bau Nyale terlebih dulu. Mereka menamakan diri Sangkep Blok Pujut.

Warga yang berkiblat ke sangkep ini akan melaksanakan teradisi bau nyale mendahului jadwal yang sudah ditentukan Pemkab Lombok Tengah bersama tokoh adat dan budayawan. Jika pemda akan memusatkan perayaan bau nyale pada 6-7 Maret 2018, maka Sangkep Blok Pujut akan merayakan bau nyale pada tanggal 5-7 Februari 2018. Hal itu dilakukan setelah melakukan musyawarah dengan mempertimbangkan dan membedah Khazanah mozaik bangsa Sasak yang disepakati semua elemen masyarakat di Kecamatan Pujut. Bahwa pada Februari itulah yang semestinya bertepatan dengan tanggal 20 bulan sepuluh pada penanggalan masyarakat Sasak.

BACA: ‘Sangkep Warige’ Putuskan Bau Nyale pada Tanggal 6-7 Maret

Ketua Sangkep Blok Pujut Raka Wijaya menyampaikan, keputusan yang diambil oleh tokoh adat dan tokoh budaya di Kecamatan Pujut menetapkan tanggal 5 sampai 7 Februari merupakan waktu yang tepat. Bukan bermaksud untuk melawan pemerintah, tetapi agar masyarakat bisa mengetahui arti yang sebenarnya dalam teradisi bau nyale itu. “Kita sudah melakukan musyawarah bersama lembaga rowot Nusantara  dan penilaian kalender Sasak serta berdasarkan fenomena alam. Apa yang dilakukan pemda sebenarnya itu nyale poto yang hanya bisa keluar sekali dalam tiga tahun. Kita takut tradisi yang kita lakukan turun temurun malah tidak bisa dirasakan oleh masyarakat karena kesalahan waktu,” ungkap Raka Wijaya kepada Radar Lombok, Selasa kemarin (9/1).

Raka mengaku, akan melakukan kegiatan itu di pantai Dondon Desa Mertak Kecamatan Pujut. Dalam kegiatan itu juga nantinya akan di-launching destinasi wisata di pantai Dondon. Selain itu, pihaknya juga akan menampilkan berbagai tradisi yang ada di Lombok Tengah. Terutama kaitanya dengan bau nyale. “Kita harus berikan informasi yang benar. Tidak ada sejarahnya bau nyale di bulan Maret. Sehingga jangan sampai masyarakat malah kecewa melihat tradisi yang kita laksanakan,” tegasnya.

Perayaan ini mendapatkan dukungan dari Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Lombok Tengah M Samsul Qomar. Dia berpendapat, penanggalan yang dilakukan Pemkab Lombok Tengah dalam menentukan teradisi bau nyale itu terkesan dipolitisi. Karena pada bulan Maret itu, tahapan kampanye Pilkada 2018 sudah mulai dilakukan. “Mana ada nyale pada bulan Maret. Sehingga kami dari KNPI bersama masyarakat sudah sepakat melaksanakan bau nyale itu pada bulan Februari,” dukungnya.

Dijelaskanya, Blok pujut ingin menjadikan teradisi bau nyale itu untuk kepentingan pasar rakyat. Bukan malah pasar malam yang mendatangkan artis. Sehingga yang ditakutkan,  jangan sampai tradisi bau nyale itu malah cenderung dilaksanakan karena kepentingan segelintir orang dan melupakan tradisi yang sudah lama diagung-agungkan masyarakat. “Pemkab seharusnya bisa mengedepankan kepentingan budaya yang sudah ada. Jelas-jelas dalam penanggalan Sasak jatuh pada bulan Februari. Jika bulan Maret dilaksanakan maka yang akan didapatkan adalah nyale poto, itupun akan datang tiga kali dalam setahun,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lombok Tengah HL Muhammad Putria menegaskan, kegiatan bau nyale sudah disepakati bersama waktu dan tempatnya melalui ritual Sangkep Warige. Di mana penetapan itu dilakukan bukan oleh Pemkab Lombok Tengah, tetapi oleh para tokoh dari empat pejuru mata angin. “Kalau ada yang melaksananakan kegiatan itu di luar dari kesepakatan yang sudah ada. Berarti mereka tidak paham konsep karena jika sudah ditetapkan maka tidak boleh diganggu gugat. Karena penetapan yang sudah dilakukan bukan main-main namun berdasarkan berbagai pertimbangan,” tukasnya.

Ia juga membantah jika waktu pelaksanaan bau nyale itu erat kaitanya dengan politik. Karena dalam penentuan hari bau nyale itu, tidak pernah ada keterlibatan pemda. Akan tetapi pemda hanya sebatas memfasilitasi apa yang menjadi kesepakatan bersama. “Tapi kalau mau melaksanakan lebih awal maka silakan saja. Karena bagi kami perbedaan adalah hal yang wajar. Tapi yang jelas kami melakukan hal itu karena hasil musyawarah melalui ritual Sangkep Wirage,’’ serahnya. (cr-met) 

BACA JUGA :  Puncak Bau Nyale, Hitungan Para Mangku Bakal Meleset Lagi?
Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaWarga Miskin di Kota Mataram Bertambah
Berita berikutnyaHanya 150 Kepsek Dimutasi, Guru Menyusul